Di tengah derasnya arus informasi yang berseliweran di layar ponsel, dunia tampak seperti fragmen-fragmen peristiwa yang terpisah. Konflik di Timur Tengah, ketegangan politik di Amerika Latin, sanksi ekonomi terhadap negara tertentu, hingga perang opini di media sosial hadir seperti potongan puzzle yang jarang disusun menjadi satu gambar utuh. Padahal, jika ditarik benang merahnya, semua itu tidak berdiri sendiri. Ia terhubung oleh satu konsep lama yang masih hidup hingga hari ini: imperialisme.
Bagi sebagian generasi muda, istilah imperialisme mungkin terdengar seperti pelajaran sejarah yang berdebu, identik dengan penjajahan bangsa Eropa di masa lalu. Namun, anggapan itu menyesatkan. Imperialisme tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya bertransformasi, menyesuaikan diri dengan zaman, dan menjadi lebih halus, lebih kompleks, serta sering kali lebih sulit dikenali.
Jika kita menengok ke belakang, imperialisme klasik muncul dalam bentuk yang sangat jelas dan brutal. Sejak akhir abad ke-15, bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai belahan dunia. Mereka datang dengan kapal, membawa senjata, dan mengklaim wilayah yang sudah dihuni oleh masyarakat lokal. Tanah dirampas, sumber daya dieksploitasi, dan struktur sosial masyarakat dihancurkan untuk digantikan dengan sistem kolonial. Dalam fase ini, imperialisme hadir sebagai dominasi langsung—tanpa topeng, tanpa kompromi.
Namun, setelah Perang Dunia II, gelombang dekolonisasi melanda dunia. Negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mulai meraih kemerdekaan secara formal. Bendera-bendera baru dikibarkan, pemerintahan nasional dibentuk, dan dunia tampak memasuki era baru yang lebih setara. Akan tetapi, realitasnya jauh lebih rumit. Kemerdekaan politik tidak serta-merta berarti kemerdekaan ekonomi dan kultural.
Di sinilah muncul konsep yang pernah diperingatkan oleh Soekarno dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Ia menyebut bahwa kolonialisme tidak benar-benar mati, melainkan berubah menjadi bentuk baru yang lebih modern. Konsep ini kemudian dikenal sebagai neokolonialisme. Dalam sistem ini, dominasi tidak lagi dilakukan melalui penjajahan langsung, tetapi melalui mekanisme yang lebih halus seperti ketergantungan ekonomi, intervensi politik, serta pengaruh budaya dan intelektual.
Dalam konteks dunia kontemporer, imperialisme bekerja melalui jaringan kekuasaan global yang kompleks. Ia hadir dalam bentuk kebijakan ekonomi internasional, aliansi militer, tekanan diplomatik, hingga dominasi media dan teknologi. Negara-negara yang secara formal merdeka sering kali tetap berada dalam posisi yang tidak setara, terutama ketika berhadapan dengan kekuatan global yang lebih besar. Kontrol terhadap sumber daya, arah pembangunan, hingga kebijakan dalam negeri bisa dipengaruhi oleh kepentingan eksternal.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai dinamika geopolitik saat ini. Ketegangan di berbagai kawasan dunia, intervensi dalam konflik regional, serta penerapan sanksi ekonomi terhadap negara tertentu menunjukkan bahwa kekuasaan global masih memainkan peran yang sangat dominan. Dalam banyak kasus, tindakan-tindakan tersebut dibungkus dengan narasi moral seperti menjaga stabilitas, menegakkan demokrasi, atau melindungi hak asasi manusia. Namun, di balik itu, terdapat kepentingan strategis yang tidak bisa diabaikan.
Dalam perkembangan terbaru, dunia juga menyaksikan pertarungan narasi yang mencerminkan dua visi besar tentang bagaimana tatanan global seharusnya dibangun. Hal ini tercermin dalam pidato dua tokoh penting, yaitu Marco Rubio dan Seyyed Abbas Araghchi. Keduanya berbicara di forum internasional yang berbeda, tetapi membawa perspektif yang sangat kontras.
Marco Rubio dalam pidatonya menekankan pentingnya peradaban Barat sebagai fondasi dunia modern. Ia menggambarkan Barat sebagai entitas yang memiliki kesatuan sejarah, budaya, dan nilai yang harus dipertahankan dan bahkan dipulihkan dominasinya. Dalam narasi ini, Barat diposisikan sebagai pusat peradaban yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia, mulai dari ilmu pengetahuan hingga sistem politik modern.
Namun, pendekatan semacam ini menuai kritik karena cenderung mengabaikan sisi gelap sejarah Barat itu sendiri. Kolonialisme, perbudakan, rasisme, dan eksploitasi sumber daya merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembangunan peradaban tersebut. Selain itu, kontribusi dari peradaban lain seperti Tiongkok, India, dan dunia Islam sering kali tidak mendapat tempat yang proporsional dalam narasi tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa sejarah dunia direduksi menjadi cerita tunggal yang berpusat pada Barat.
Di sisi lain, Seyyed Abbas Araghchi menawarkan perspektif yang berbeda. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya kedaulatan negara, penghormatan terhadap hukum internasional, serta hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Ia menolak gagasan bahwa keamanan dapat dicapai melalui dominasi militer atau bahwa batas-batas negara dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang fleksibel sesuai kepentingan kekuatan besar.
Pandangan ini mencerminkan semangat dekolonisasi dalam konteks modern. Bukan lagi tentang mengusir penjajah secara fisik, tetapi tentang membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara. Dalam kerangka ini, setiap negara memiliki hak yang sama untuk menentukan arah pembangunan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak luar.
Perbedaan dua pandangan tersebut mencerminkan pertarungan yang lebih besar dalam politik global saat ini. Di satu sisi, terdapat upaya untuk mempertahankan atau bahkan mengembalikan dominasi lama melalui apa yang disebut sebagai rewesternisasi. Di sisi lain, muncul dorongan untuk menciptakan sistem internasional yang lebih multipolar dan inklusif.
Bagi negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, wacana rewesternisasi tidak bisa dilepaskan dari pengalaman historis mereka. Upaya untuk “mengembalikan kejayaan” Barat sering kali dibaca sebagai potensi kembalinya pola-pola dominasi lama dalam bentuk baru. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sejarah dapat terulang, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Di tengah dinamika tersebut, dunia juga mengalami perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan global. Munculnya kekuatan-kekuatan baru menunjukkan bahwa dominasi tunggal tidak lagi absolut. Kelompok seperti BRICS mulai memainkan peran penting dalam ekonomi global. Selain itu, gagasan de-dolarisasi menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi oleh satu negara.
Di berbagai kawasan, perlawanan terhadap intervensi asing juga semakin menguat. Negara-negara di Afrika mulai meninjau kembali hubungan mereka dengan kekuatan kolonial lama. Di Amerika Latin, gelombang kebangkitan politik progresif menunjukkan bahwa alternatif terhadap sistem lama masih memiliki daya tarik. Sementara itu, di Asia, beberapa negara menunjukkan sikap yang lebih tegas dalam mempertahankan kedaulatan mereka.
Perubahan ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju konfigurasi baru yang lebih kompleks. Namun, transisi semacam ini tidak pernah berlangsung mulus. Ketika sebuah kekuatan global merasa posisinya terancam, ia cenderung bereaksi dengan cara yang lebih agresif. Dalam situasi seperti ini, tindakan-tindakan yang diambil sering kali tidak hanya didorong oleh kepentingan rasional, tetapi juga oleh rasa takut dan ketidakpastian.
Bagi generasi muda, terutama Gen Z, memahami dinamika ini menjadi sangat penting. Kita hidup dalam dunia yang saling terhubung, di mana keputusan yang diambil di satu belahan dunia dapat berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari di tempat lain. Harga barang, akses teknologi, hingga informasi yang kita konsumsi dipengaruhi oleh struktur kekuasaan global yang sering kali tidak terlihat.
Imperialisme modern bahkan telah merambah ke ranah digital. Platform media sosial, algoritma, dan industri hiburan global memainkan peran besar dalam membentuk cara kita melihat dunia. Tanpa disadari, kita dapat menginternalisasi nilai-nilai tertentu yang sebenarnya merupakan bagian dari dominasi kultural. Dalam konteks ini, imperialisme tidak lagi memerlukan kekerasan fisik. Ia bekerja melalui persuasi, normalisasi, dan pembentukan persepsi.
Namun, memahami imperialisme bukan berarti harus bersikap sinis terhadap dunia. Justru sebaliknya, pemahaman ini dapat menjadi dasar untuk berpikir lebih kritis dan mandiri. Tidak semua yang datang dari Barat harus ditolak, dan tidak semua yang menentang Barat otomatis benar. Yang penting adalah kemampuan untuk melihat konteks, memahami kepentingan, dan menilai setiap fenomena secara objektif.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling mendasar adalah tentang posisi kita sendiri. Sebagai bagian dari masyarakat global, kita tidak bisa sepenuhnya netral. Setiap sikap, termasuk diam, memiliki konsekuensi. Apakah kita akan membiarkan sistem yang tidak adil terus berjalan, ataukah kita akan berusaha mendorong perubahan ke arah yang lebih setara?
Sejarah menunjukkan bahwa dominasi tidak pernah abadi. Setiap kekuatan yang tampak tak tergoyahkan pada akhirnya akan menghadapi tantangan. Perubahan mungkin tidak terjadi secara cepat, tetapi ia selalu bergerak. Dalam konteks ini, kesadaran menjadi langkah pertama yang sangat penting.
Imperialisme mungkin telah berubah bentuk, tetapi esensinya tetap sama: relasi kuasa antara yang mendominasi dan yang didominasi. Memahami hal ini bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal tanggung jawab sebagai bagian dari generasi yang akan menentukan arah masa depan.
Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, kita—di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—tidak bisa lagi sekadar menjadi penonton. Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan : kita berdiri di sisi yang mana? Apakah kita akan membiarkan imperialisme terus mencengkeram dan kedaulatan perlahan terkikis, atau justru memilih jalan sosialisme Indonesia yang berdaulat, adil, berpihak pada rakyat menjaga keadilan itu tetap hidup?
Sikap diam bukanlah posisi netral; ia sering kali justru memperpanjang ketimpangan. Karena itu, refleksi tidak cukup berhenti di pikiran—ia harus bergerak menjadi tindakan. Entah sebagai warga, aktivis, atau bagian dari negara, kita semua punya peran dalam menentukan arah sejarah. Dunia sedang berubah, dan pilihan kita hari ini akan ikut menentukan wajah masa depan: apakah tetap dikuasai oleh dominasi, atau bergerak menuju tatanan yang lebih adil.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






