Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme

| PENAMARA . ID

Rabu, 8 April 2026 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Freepik

Freepik

PENAMARA.ID — Pasar global telah menjadi kekuatan dominan yang membentuk cara hidup masyarakat modern. Arus barang, jasa, dan informasi yang melintasi batas negara menciptakan ilusi kebebasan dalam memilih dan mengakses berbagai kebutuhan.

Namun, di balik kemudahan tersebut, tersembunyi mekanisme yang secara perlahan mendorong masyarakat menjadi semakin konsumtif. Konsumsi tidak lagi sekadar upaya memenuhi kebutuhan dasar, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup.

Dalam kondisi ini, manusia tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli makna, status sosial, dan pengakuan. Fenomena konsumtivisme ini tidak dapat dilepaskan dari cara kerja kapitalisme global yang terus berevolusi. Kapitalisme tidak lagi hadir dalam bentuk eksploitasi kasar seperti pada masa revolusi industri, tetapi telah menjelma menjadi sistem yang lebih halus dan adaptif. Ia bekerja melalui produksi hasrat, di mana keinginan manusia terus-menerus dibentuk oleh iklan, media sosial, dan budaya populer.

Apa yang dianggap sebagai kebutuhan sering kali merupakan hasil konstruksi pasar. Dengan demikian, masyarakat terjebak dalam siklus tanpa akhir: bekerja untuk menghasilkan uang, lalu menghabiskannya untuk membeli hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Dalam konteks ini, pemikiran Marhaenisme yang diperkenalkan oleh Soekarno menjadi relevan untuk dibaca ulang. Marhaen merujuk pada rakyat kecil yang memiliki alat produksi sederhana tetapi tetap berada dalam posisi tertindas oleh sistem ekonomi yang tidak adil.

Dalam era pasar global, posisi Marhaen menjadi semakin kompleks. Mereka tidak hanya dieksploitasi sebagai tenaga kerja dengan upah rendah, tetapi juga dijadikan target utama pasar. Ironisnya, mereka sering kali mengonsumsi produk yang dihasilkan dari kerja mereka sendiri dalam rantai produksi global, namun dengan harga yang tidak sebanding dengan nilai kerja yang mereka berikan.

Kapitalisme global menunjukkan kemampuannya untuk mereaktualisasi diri dengan cara menyerap kritik yang ditujukan kepadanya. Ketika muncul kesadaran akan eksploitasi, kapitalisme merespons dengan menghadirkan citra baru seperti produk “ramah lingkungan” atau “berkeadilan sosial”. Namun, pada dasarnya, orientasi utamanya tetap sama, yaitu akumulasi keuntungan. Kritik terhadap kapitalisme justru sering kali dijadikan komoditas baru yang dapat dijual kembali kepada konsumen. Dalam situasi ini, perlawanan menjadi sulit dibedakan dari bagian sistem itu sendiri.

Dari perspektif anarkisme, kondisi ini menunjukkan adanya dominasi struktur yang tidak kasat mata tetapi sangat kuat. Kekuasaan tidak lagi hanya berada pada negara, tetapi juga pada korporasi global yang mengatur produksi dan distribusi kebutuhan hidup manusia. Ketergantungan masyarakat terhadap sistem pasar global membuat kebebasan individu menjadi semu.

Konsumerisme berfungsi sebagai alat kontrol yang efektif, karena membuat individu merasa memiliki pilihan, padahal pilihan tersebut telah dibatasi oleh mekanisme pasar. Anarko-Marhaenisme hadir sebagai upaya untuk menggabungkan semangat pembebasan dari anarkisme dengan keberpihakan pada rakyat kecil dalam Marhaenisme.

Perspektif ini menekankan pentingnya kemandirian dan kesadaran kolektif dalam menghadapi dominasi kapitalisme global. Masyarakat didorong untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pasar, melainkan membangun sistem ekonomi berbasis komunitas yang lebih adil dan partisipatif. Selain itu, kesadaran terhadap pola konsumsi juga menjadi kunci penting. Mengurangi konsumsi yang tidak perlu merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem yang berusaha mengendalikan manusia melalui hasrat.

Pada akhirnya, pasar global bukan sekadar ruang pertukaran ekonomi, tetapi juga arena pertarungan ideologi dan kekuasaan. Konsumerisme dan kapitalisme yang terus beregenerasi menunjukkan bahwa penindasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang jelas dan kasat mata. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis untuk memahami bahwa kebebasan sejati tidak terletak pada banyaknya pilihan barang yang dapat dikonsumsi, melainkan pada kemampuan untuk menentukan cara hidup yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh logika pasar.


Doktrin Eksploitatif Kapitalis; Akal-akalan Busuk Kapitalisme

 

Penulis : Serena Tomira

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu
Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia
8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster
IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?
Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 18:00 WIB

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu

Rabu, 15 April 2026 - 01:15 WIB

Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia

Rabu, 8 April 2026 - 09:18 WIB

Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme

Kamis, 5 Maret 2026 - 23:54 WIB

8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster

Senin, 2 Maret 2026 - 14:27 WIB

IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan

Berita Terbaru

Gambar: Ari Sujatmiko/PENAMARA

Nasional

Ogah ke Monas, Ribuan Buruh Banten Pilih Kepung Senayan

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:27 WIB