Ratusan warga Kampung Nagrak, RW 05, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, tumpah ruah ke jalan, Selasa (17/2/2026) malam. Dari ruas Jalan M. Toha hingga memasuki Perumahan Taman Kota Permai 2, cahaya obor menyala berjejer, menerangi langkah warga yang antusias menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Pawai obor yang digelar Karang Taruna RW 05 itu berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berjalan beriringan sambil melantunkan shalawat dan takbir. Suasana malam berubah hangat—bukan cuma karena nyala api obor, tapi juga karena vibes kebersamaan yang terasa kuat.
Para tokoh masyarakat dan ulama setempat turut hadir, membaur tanpa sekat bersama warga. Obor-obor yang menyala serempak menciptakan panorama religius yang syahdu, menjadi simbol kegembiraan umat Islam menyambut bulan penuh berkah.
Peserta pawai terdiri dari pelajar, majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum. Sepanjang rute yang telah ditentukan panitia, mereka berjalan tertib dengan pengawalan aparat keamanan, memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif.
Ketua Pelaksana Pawai Obor, Supriyadi, mengapresiasi tingginya partisipasi warga. Ia menyebut jumlah peserta mencapai ratusan orang.
“Alhamdulillah, peserta yang hadir malam ini mencapai ratusan orang. Ini menunjukkan semangat dan kecintaan masyarakat dalam menyambut Ramadan. Kebersamaan seperti inilah yang harus terus kita jaga,” ujar Supriyadi.
Panitia lainnya, Jijan Fair Salim, menegaskan pawai obor bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol persatuan dan kesiapan spiritual masyarakat menjelang Ramadan.
“Pawai obor juga berfungsi sebagai media komunikasi lintas budaya. Komunikasi budaya yang diwujudkan dalam bentuk toleransi. Melalui tradisi ini, masyarakat dari latar belakang berbeda dapat saling berinteraksi dan membangun hubungan sosial yang lebih harmonis,” ucap Jijan.
Sementara itu, Ustad Ani mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri. Ia menyebut obor yang dibawa peserta sebagai simbol cahaya iman yang harus terus dijaga.
“Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan jiwa. Mari kita sambut dengan hati yang bersih, saling memaafkan, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama,” tuturnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan positif, mulai dari tadarus Al-Qur’an, shalat berjamaah, memperbanyak sedekah, hingga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Salah satu peserta, Faza, mengaku bangga bisa ambil bagian dalam pawai obor tersebut. Baginya, tradisi ini bukan sekadar jalan bersama, tetapi juga momen refleksi diri.
“Pawai obor ini bikin makin semangat menyambut Ramadan. Semoga kami bisa lebih disiplin dalam ibadah dan jadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Pawai obor berakhir dengan tertib dan penuh makna. Kehadiran tokoh agama, masyarakat, dan warga yang berjalan berdampingan menjadi simbol sinergi dalam menjaga nilai-nilai religius serta mempererat ukhuwah Islamiyah.
Di tengah gemerlap cahaya obor yang perlahan padam, semangat menyambut Ramadan justru semakin menyala di hati warga Periuk. Ramadan bukan hanya datang sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum untuk kembali pulang—pada iman, pada kebersamaan, dan pada harapan menjadi versi diri yang lebih baik.






