PENAMARA.ID — Program Makan Bergizi Gratis milik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menginjak umur 12 bulan lebih 1 hari. Sejak 6 Januari 2025, program andalan ini sudah memiliki banyak masalah mulai dari ketidaktepatan sasaran penerima MBG, pemangkasan anggaran pendidikan yang diambil begitu banyak hanya untuk membiayai program beracun ini, serta konflik kepentingan yang harus ditanggung oleh masyarakat Indonesia minimal sampai tahun 2029 nanti.
Sejak awal, Prabowo Subianto sudah sangat percaya diri terhadap keberhasilan program ini karena dianggap sebagai jalan tempuh untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Ia beramsusi bahwa pengentasan stunting dan peningkatan SDM Indonesia dimulai dari sarapan yang bergizi. Padahal, banyak fakta yang menunjukkan bahwa menu MBG kerapkali meracuni beberapa wilayah di Indonesia.
Harapan palsu tentang Indonesia emas 2045 melalui program MBG ini hanya akan selalu menutupi ribuan kepentingan politik Prabowo Subianto beserta kroni-kroni nya dan lebih parahnya, kapital-kapital kecil akan terus tumbuh dan bergesekan satu sama lain untuk memperebutkan program yang anggarannya begitu besar.
Pada akhirnya, upaya awal untuk menggerakan ekonomi petani dan UMKM lokal hanyalah mitos terbesar yang dibangun oleh negara melalui pemerintahan Prabowo Subianto. Nyatanya, program ini tak memihak kepada usaha-usaha jenis UMKM maupun petani-pentani kecil lokal. Cara kerja negara yang administratif tidak memungkinkan pelaku usaha di tingkat paling bawah untuk menyerap anggaran dari program MBG ini.
Akhirnya, siapa yang dapat ‘berkontribusi‘ terhadap program yang anggarannya dinaikan berkali-kali lipat dari tahun pertama ia diluncurkan? ya para kapital-kapital kecil. Mereka meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan bermodalkan sekecil-kecilnya. Tak heran banyak kasus anak keracunan karena absennya fungsi pengawasan di internal BGN dalam menjamin kelayakan produk makanan/minuman yang akan di santap di meja para murid.
Program MBG selalu menuai dan memunculkan konflik baru. Dalam praktiknya, Makan Bergizi Gratis sebenarnya tak pernah sejalan dengan landasan filosofis tujuan awal pembentukan program ini (walaupun saya secara pribadi selau berburuk sangka bahwa program ini tak pernah berangkat dari kajian filosofis, dalam arti lebih dominan sifat politisnya dibandingkan sifat kemanusiaan nya).
Sampai kapan kita harus menyaksikan penderitaan anak-anak atau ibu hamil karena kasus keracunan MBG? Mau sampai kapan kita berdiam diri melihat bengisnya negara melalui pemerintahan Prabowo Subianto ketika mereka membiarkan program ini berjalan semau mereka sendiri? Harus berapa lama lagi kita menyaksikan ketidakmampuan para pemangku kebijakan yang terkait dengan MBG ketika mereka menghadapi masalah serius dalam pengelolaan MBG?
Pada akhirnya, program Makan Bergizi Gratis tak pernah bergizi dan gratis. Makanan yang sampai kepada kita semua tak pernah mengandung gizi yang cukup sehingga kita harus keracunan. Makanan itu juga tak pernah gratis, ia harus dibayar oleh dana pendidikan kita yang seharusnya dapat membiayai para guru honorer, membangun infrastruktur sekolah yang memadai, memberikan kita beasiswa untuk sekolah lanjut, dan harusnya semua anak dapat sekolah dengan gratis tanpa harus takut tak bisa membeli pensil dan buku sehingga harus meregang nyawa hanya karena tak mampu dan tak ingin membebankan orangtua, dan negara, lagi dan lagi selalu gagal untuk hadir.
Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?
Makan Bergizi Gratis: Janji Bergizi, Realita Pahit
Penulis : Agnes Monica
Editor : Redaktur






