Mahasiswa Tuntut Tunjangan DPRD Dibatalkan, Pengamat Sarankan Transparansi dan Dialog

| PENAMARA . ID

Minggu, 7 September 2025 - 19:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rencana aksi mahasiswa di Kota Tangerang bakal menyoroti kebijakan tunjangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang dianggap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Fokus tuntutan diarahkan pada Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 15 Tahun 2025, yang menjadi dasar pencairan tunjangan perumahan dan transportasi bagi anggota dewan.

Isu ini memicu perdebatan di ruang publik. Sejumlah kalangan menilai, alokasi anggaran untuk tunjangan DPRD lebih baik diarahkan pada sektor yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial. Perdebatan tersebut berkembang menjadi sorotan terkait persepsi keadilan dan prioritas dalam pengelolaan APBD.

Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul, menilai kritik mahasiswa dan masyarakat harus dimaknai sebagai bentuk kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.

“Kritik mahasiswa bisa dipahami sebagai kontrol publik. Namun perlu dipahami, gaji dan tunjangan DPRD tidak sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah kota,” kata Adib saat dihubungi, Minggu (7/9/2025).

Adib menjelaskan, regulasi terkait gaji dan tunjangan DPRD diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri). Sementara Perwal hanya berfungsi teknis sebagai pelaksanaan aturan di atasnya.

“Jadi kalau ada desakan untuk mencabut Perwal, itu tidak sederhana. Tidak bisa ujug-ujug Pemkot atau DPRD menghapus begitu saja. Ada asistensi dan pengawasan dari provinsi hingga pusat,” ujarnya.

Adib menyarankan adanya kajian mendalam agar besaran gaji dan tunjangan DPRD benar-benar sepadan dengan beban kerja serta tanggung jawab wakil rakyat. Bahkan, menurutnya pemerintah pusat dapat menetapkan aturan standarisasi agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah.

“Kalau perlu dikaji ulang supaya gaji dan tunjangan dewan sesuai dengan tanggung jawab mereka. Atau pemerintah pusat bisa membuat standar agar tidak menimbulkan kesenjangan antar daerah,” jelasnya.

Ia menambahkan, isu tunjangan DPRD berpotensi menggerus kepercayaan publik jika tidak dikelola dengan baik. Meski secara persentase belanja DPRD hanya sekitar lima persen dari total APBD Kota Tangerang, angka nominal yang besar tetap menjadi sorotan masyarakat.

Menurut Adib, fokus utama seharusnya tidak berhenti pada nominal tunjangan, melainkan juga pada transparansi anggaran dan kinerja DPRD. Ia menegaskan, besarnya tunjangan harus diimbangi dengan hasil kerja nyata yang dirasakan masyarakat.

“Kalau tunjangan besar tapi kinerja tidak dirasakan publik, kritik pasti semakin keras. Maka solusinya adalah keterbukaan data, evaluasi kinerja, serta komunikasi publik yang baik,” tegasnya.

Adib juga menekankan pentingnya DPRD untuk lebih aktif menjelaskan kepada masyarakat mengenai alokasi anggaran, sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif. “Transparansi dan dialog jauh lebih penting daripada sekadar saling menyalahkan,” imbuhnya.

Dengan rencana aksi mahasiswa yang akan digelar, isu tunjangan DPRD diperkirakan masih akan menjadi sorotan utama dalam dinamika politik lokal Kota Tangerang. Publik menunggu langkah konkret pemerintah daerah dan DPRD untuk menegaskan komitmen pada transparansi, integritas, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas.

Berita Terkait

Teknik Sidang Jadi Bekal Mahasiswa UCA, Forum Organisasi Diminta Jaga Demokrasi
Mahasiswa Soroti Dugaan Prostitusi di Sukasari, Camat Siap Koordinasi dengan Satpol PP
Usai Jadi Polemik, Camat Pasar Kemis Benarkan Anggaran Mamin Rp1,7 Miliar
Lansia Meninggal Diduga Terlantar, Aktivis Kritik Keras Camat dan Dinsos
Segel PT ESA Jaya Putra Diminta Tetap Terkunci, DPRD Kota Tangerang: Izin Belum Lengkap
Coffeshop yang Biasanya Dipakai Nongkrong, Di Tangerang Bung Karno Kembali Dibicarakan
Gesuri Terpilih Pimpin GAMKI Kota Tangerang, Siap Satukan Potensi Pemuda Kristen
Anggaran Makan-Minum Rp1,7 Miliar di Kecamatan Pasar Kemis Dipertanyakan

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:27 WIB

Teknik Sidang Jadi Bekal Mahasiswa UCA, Forum Organisasi Diminta Jaga Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:10 WIB

Mahasiswa Soroti Dugaan Prostitusi di Sukasari, Camat Siap Koordinasi dengan Satpol PP

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:09 WIB

Usai Jadi Polemik, Camat Pasar Kemis Benarkan Anggaran Mamin Rp1,7 Miliar

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:10 WIB

Lansia Meninggal Diduga Terlantar, Aktivis Kritik Keras Camat dan Dinsos

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:47 WIB

Segel PT ESA Jaya Putra Diminta Tetap Terkunci, DPRD Kota Tangerang: Izin Belum Lengkap

Berita Terbaru

Magnific.com

Esai

Tidak Ada Kemerdekaan di Bawah Imperialisme

Sabtu, 27 Jun 2026 - 21:56 WIB