Peningkatan Kasus Speech Delay karena Perkembangan Teknologi yang Pesat

| PENAMARA . ID

Selasa, 16 Desember 2025 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Isitmewa

Isitmewa

PENAMARA.id —  Teknologi yang ada saat ini berkembang dengan semakin maju dan pesat, terutama dalam penggunan perangkat seperti smartphone dan gadget. Penggunaan nya pun bervariasi, tidak hanya orang dewasa saja, anak-anak pun sudah akrab dengan adanya gadget. Sebagian besar orang tua hari ini sudah memberikan gadget kepada anaknya mulai dari kepentingan untuk mengakses pendidikan, atau bahkan yang paling umum sekedar sebagai sarana hiburan. Peningkatan kasus speech delay karena perkembangan teknologi yang pesat memberikan indikasi kuat terhadap sebaran kasus yang dimaksud.

Berdasarkan data ikatan dokter anak Indonesia (IDAI), terdapat 5-8 persen anak prasekolah yang mengalami speech delay. Bahkan khusus di Jakarta, tercatat sebanyak 21 persen anak yang mengalaminya. Masalah perkembangan anak, seperti terlambat bicara/speech delay sebaiknya di pantau lansung oleh orang tua sejak anak masih di usia dini.

Beberapa mahasiswa (N.S.R, A.P.K, S.L.P, dan T.L) Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan melakukan riset lapangan atau analisis empiris mengenai kasus speech delay di Jampang, Kota Bogor tepat pada hari Kamis pukul 11.00 WIB. Mereka melakukan penelitian dengan mewawancarai orang tua dan anak. MA (5 tahun) ibu MS (35 tahun) dan ayah AS (40 tahun).

Menurut hasil dari wawancara para peneliti di lapangan, kasus speech delay ini memiliki beberapa persoalan yang mengakibatkan kasus ini lumayan banyak terjadi justru di kota-kota besar. Pertama, meningkatnya speech delay tidak dapat ditarik satu garis kesimpulan besar dari teknologi semata, tetapi cara penggunaan teknologi tersebut yang dinilai kurang tepat. Tak dapat dipungkiri, tumbuh kembang anak hari ini sangat dipengaruhi dengan adanya teknologi yang tidak terkontrol dan berdampak pada penghambatan kemampuan anak dan pada saat itulah peran orang tua/guru wajib mendampingi dan memberikan asupan lain dalam perkembangan anak.

Akibatnya, anak akan kesulitan berkomunikasi pada guru dan teman di sekolah serta terganggu dalam proses belajar yang agak kesulitan untuk memahami instruksi dan mengikuti kegiatan diskusi dengan teman-temannya. Orang tua dapat menyesuaikan batasan screen time pada anak dengan standar WHO, menerapkan pendamping aktif saat anak menggunakan gadget dan orang tua harus meningkatkan aktivitas interaktif pada anak dengan cara membaca buku, bermain dan berkomunikasi lainnya.

Pendapatan yang rendah juga dapat menyebabkan peserta didik mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan akses ke fasilitas pendidikan. Pentingnya lingkungan yang mendukung ke akses sumber daya untuk mencapai perkembangan optimal dinilai sebagai salah satu faktor yang dapat menghindari kasus speech delay. Selain itu, Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama untuk menyediakan program bantuan keuangan, beasiswa, dan akses ke fasilitas pendidikan gratis atau murah untuk membantu peserta didik dari keluarga dengan pendapatan rendah.

Meningkatnya kasus speech delay pada anak di tengah perkembangan teknologi yang pesat juga dapat dilihat sebagai dampak dari berkurangnya interaksi verbal langsung antara anak dan lingkungan sekitarnya. Penggunaan gawai yang terlalu dini dan berlebihan sering membuat anak lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan orang tua, sehingga kesempatan untuk meniru, mendengar, dan mempraktekkan bahasa menjadi terbatas. Oleh karena itu, keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi manusia tetap menjadi kunci utama dalam mencegah meningkatnya kasus keterlambatan bicara.

Karena keterlambatan bicara (speech delay) merupakan kondisi serius yang bisa menghambat perkembangan sosial-emosional dan kognitif jika tidak ditangani, seperti kesulitan memahami instruksi, membentuk kalimat, atau mengekspresikan kebutuhan maka menjadi penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak dan terapis wicara guna mendapatkan diagnosis dan intervensi yang tepat, serta untuk melakukan pendampingan di rumah dengan stimulasi komunikasi yang konsisten.

Sebenarnya teknologi modern bukanlah racun, melainkan pedang bermata dua dalam perkembangan anak. Penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan anak kehilangan kesempatan penting untuk belajar bahasa, meniru percakapan, dan berlatih komunikasi. Speech delay semakin tak terbendung sehingga dapat mengganggu perkembangan bahasa, kognitif, motorik, sosial-emosi, serta pertumbuhan fisik anak. Peran negara dalam bentuk Peraturan Perundang-Undangan seperti UU Perlindungan Anak, UU Penyandang Disabilitas, PP tentang Pendidikan, dan Permenkes tentang Terapi Wicara dapat menjadi jawaban atas kasus keterlambatan bicara sehingga anak berhak mendapatkan pendampingan, intervensi, serta akses pendidikan yang layak. Solusi paling dekat dengan anak terletak pada disiplin orang tua untuk mengembalikan interaksi tatap muka sebagai prioritas utama dan menggunakan teknologi sebagai alat, bukan sebagai pengasuh.


baca lagi berita lainnya: Masyarakat Situ Rompong Menolak Akuisisi Lahan Negara oleh PT Sahid Putra Harapan Berbekal SHGB BPN Tangsel

 

Penulis : Nayla Sekar Ramadhani

Editor : Boy Dowi

Berita Terkait

Penguasa Antroposentris, Kau Pemerkosa Rahim Bumi: Ekofeminisme Kritik Pemerintah Merespon Bencana Ekologis
Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik
Nuklir Korea Utara; Ujian Serius bagi Hukum dan Perdamaian Dunia
Mengembalikan Hari Ibu menjadi Pergerakan Perempuan: Merebut Kembali Api Sejarah
Menyoal Dugaan Peran PT Tusam Hutani Lestari Dibalik Banjir Aceh
Menolak Penggantian ‘Emansipasi Gender’ menjadi ‘Harmonisasi Gender’ ala Aliya Zahra
Perempuan Tiang Negeri
Neo-Otoritarianisme: Demokrasi yang Tak Pernah Lahir
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 02:53 WIB

Penguasa Antroposentris, Kau Pemerkosa Rahim Bumi: Ekofeminisme Kritik Pemerintah Merespon Bencana Ekologis

Rabu, 14 Januari 2026 - 02:34 WIB

Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik

Senin, 5 Januari 2026 - 15:26 WIB

Nuklir Korea Utara; Ujian Serius bagi Hukum dan Perdamaian Dunia

Jumat, 26 Desember 2025 - 17:44 WIB

Mengembalikan Hari Ibu menjadi Pergerakan Perempuan: Merebut Kembali Api Sejarah

Jumat, 26 Desember 2025 - 17:08 WIB

Menyoal Dugaan Peran PT Tusam Hutani Lestari Dibalik Banjir Aceh

Berita Terbaru

Balai Buku Progresif

Opini

Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik

Rabu, 14 Jan 2026 - 02:34 WIB

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB