Lima Warga Terjangkit DBD, Peran RT-RW di Batusari Dipertanyakan

| PENAMARA . ID

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PENAMARA.ID, KOTA TANGERANG — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merebak di wilayah RT 02/06, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Sedikitnya lima warga dilaporkan terjangkit penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Dari jumlah itu, tiga orang telah dinyatakan sembuh, sementara dua warga lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Munculnya klaster DBD di satu lingkungan ini memicu kritik dari pemuda setempat. Mereka menilai upaya pencegahan lingkungan tidak berjalan optimal dan aparat RT-RW dinilai lalai menjalankan fungsi kewaspadaan dini.

Bahrul Hikam, saudara salah satu korban DBD sekaligus Ketua Pemuda Progresif Batusari, menyebut merebaknya kasus DBD sebagai indikator kegagalan antisipasi di tingkat lingkungan. Menurutnya, wabah tersebut seharusnya dapat dicegah apabila langkah-langkah dasar pencegahan dilakukan secara konsisten.

“Dalam satu RT ada lima warga yang terkena DBD. Tiga sudah sembuh, tapi dua masih dirawat. Ini jelas memprihatinkan dan tidak bisa dianggap sepele,” ujar Bahrul Hikam, Selasa (6/1/2026).

Ia menegaskan, sejak memasuki Desember wilayah Batusari diguyur hujan dengan intensitas tinggi ditambah letak geografis RW06 di bagian selatan terdapat danau embung lalu di sebelah utara terdapat adanya sawah. Kondisi tersebut semestinya direspons dengan kerja bakti rutin dan pembersihan lingkungan untuk mencegah munculnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Namun, upaya itu, kata Bahrul, tidak terlihat di tingkat RT maupun RW. “Musim hujan ini bukan hal baru. Tapi tidak ada kerja bakti, tidak ada gerakan pembersihan. Lingkungan dibiarkan, genangan air muncul, nyamuk berkembang. Ini bentuk kelalaian,” tegasnya.

Absennya langkah pencegahan tersebut, lanjut Bahrul, berdampak langsung pada meningkatnya kasus DBD di lingkungan warga. Bahkan, beberapa korban harus menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang cukup serius.

Merespons situasi itu, pemuda setempat akhirnya mengambil inisiatif melaporkan kondisi lingkungan kepada pihak kelurahan pada Senin (5/1/2026). Langkah tersebut diambil lantaran tidak adanya respons nyata dari aparat lingkungan di tingkat bawah.

“Kami tidak bisa menunggu korban berikutnya. Karena itu kami lapor langsung ke lurah agar segera ada tindakan dan koordinasi sampai ke RT dan RW,” katanya.

Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti. Pada Selasa (6/1/2026), pihak Kelurahan Batusari bersama Puskesmas Batusari melakukan peninjauan lapangan di wilayah RT 02/06. Namun, dalam kegiatan tersebut kembali ditemukan persoalan serius.

“Saat kelurahan dan puskesmas turun ke lapangan, RT dan RW tidak hadir. Tidak ada pendampingan sama sekali. Ini menunjukkan lemahnya tanggung jawab aparat lingkungan,” ujar Bahrul.

Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat evaluasi menyeluruh serta peringatan tegas dari pihak kelurahan agar RT dan RW lebih responsif terhadap persoalan kesehatan masyarakat. “Kesehatan warga harus menjadi prioritas. Jangan sampai RT-RW hanya terlihat saat urusan administrasi, tetapi absen ketika warga menghadapi ancaman penyakit,” katanya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (PTPZ) DBD Puskesmas Batusari, Adiyaksa, menjelaskan bahwa penanganan kasus DBD dilakukan berdasarkan laporan resmi dari rumah sakit serta hasil pemantauan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

“Setelah laporan kasus masuk, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan jentik, penyuluhan kesehatan, serta fogging apabila memenuhi kriteria,” jelas Adiyaksa.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 16 kader Jumantik di wilayah kerja Puskesmas Batusari. Mulai 2026, puskesmas juga menjalankan program Jumantik Sekolah sebagai upaya edukasi pencegahan DBD sejak dini.

Menurut Adiyaksa, lonjakan kasus DBD umumnya terjadi pada periode curah hujan tinggi. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. “Tanpa keterlibatan aktif warga dan aparat lingkungan, pencegahan DBD tidak akan berjalan maksimal,” tegasnya.

Berdasarkan data Puskesmas, sepanjang 2025 tercatat 29 kasus DBD di wilayah Kelurahan Batusari dan Batujaya. Angka tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman DBD masih nyata dan memerlukan peran aktif seluruh unsur wilayah, terutama RT dan RW, agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Penulis : Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

HMI Tangerang Tegaskan Independensi dalam Dinamika Pemilihan Ketua DPRD Kota Tangerang
Kesbangpol Satukan 91 Organisasi dalam Forum Kebangsaan Kota Tangerang
Tak Ada Hari Libur bagi Penjaga Cisadane, Saat Warga Merayakan Kemerdekaan RI
Siswa SMAN 14 Tangerang Diminta Keluar, Dosen Unis Buka Suara
Rektor UMT Dukung Asrul Haruna Maju sebagai Calon Koordinator BEM PTMAI
174 Hutan Adat Ditetapkan, tapi 135 Kasus Perampasan Wilayah Masih Terjadi
HUT RI, Warga Kota Tangerang Bisa Pasang Air Bersih Cuma Rp237 Ribu, Diskon 81 Persen
100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:54 WIB

HMI Tangerang Tegaskan Independensi dalam Dinamika Pemilihan Ketua DPRD Kota Tangerang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Kesbangpol Satukan 91 Organisasi dalam Forum Kebangsaan Kota Tangerang

Senin, 10 Agustus 2026 - 02:43 WIB

Siswa SMAN 14 Tangerang Diminta Keluar, Dosen Unis Buka Suara

Minggu, 9 Agustus 2026 - 15:17 WIB

Rektor UMT Dukung Asrul Haruna Maju sebagai Calon Koordinator BEM PTMAI

Minggu, 9 Agustus 2026 - 02:03 WIB

174 Hutan Adat Ditetapkan, tapi 135 Kasus Perampasan Wilayah Masih Terjadi

Berita Terbaru

Ilustrasi: CapstoneFi.com / Tyler Stone

Sosial

Ketika Viral Mengalahkan Etika Kreator Konten

Selasa, 18 Agu 2026 - 02:25 WIB