
Namun, bagi Ketua RW 06 Momon Simon, viral bukanlah tujuan utama. Bentangan Merah Putih itu justru lahir dari kegelisahan yang ia rasakan ketika media sosial dipenuhi narasi bahwa Indonesia “belum merdeka” dan kekecewaan generasi muda terhadap situasi politik maupun ekonomi.
Alih-alih larut dalam perdebatan, ia memilih merespons dengan tindakan yang menurutnya lebih bermakna: mengajak warga mengibarkan bendera sebagai bentuk penghormatan kepada sejarah para pejuang kemerdekaan.
“Memang sebelum 1 Agustus sudah banyak di media sosial yang mengatakan Indonesia belum merdeka. Tapi mengibarkan Merah Putih bukan soal buruknya pemerintahan yang sekarang. Ini bentuk kesadaran untuk menghormati para pahlawan yang dulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Momon kepada SatelitNews, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia mengaku memahami kekecewaan yang dirasakan sebagian masyarakat. Bahkan, ia sendiri tidak menampik memiliki perasaan serupa terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini.
“Ya saya juga sama, kecewa sih kecewa. Tapi walaupun kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja, baik politik, ekonomi, dan lain-lain, kami bersama pengurus RT, RW, dan warga tetap memutuskan memasang serta mengibarkan bendera Merah Putih sepanjang 400 meter,” ujarnya.
Keputusan itu kemudian diwujudkan dengan cara yang nyaris spontan.
Momon mengatakan ide membuat bendera raksasa muncul tanpa perencanaan panjang. Pada Kamis pagi, ia membeli kain. Siang harinya bahan tiba di rumah. Menjelang sore, istrinya mulai menyambung potongan-potongan kain, lalu malam itu juga bendera dipasang membentang di atas jalan lingkungan.
Seluruh proses, kata Momon Simon, selesai dalam waktu sekitar 20 jam.
“Untuk bendera Merah Putih ini, dari mulai saya beli sampai terpasang itu cuma 20 jam. Saya belinya hari Kamis pagi. Siang dikirim, sampai sini sore, langsung saya suruh istri yang menjahit,” katanya.
Pekerjaan menyambung kain dilakukan oleh istrinya yang memiliki latar belakang sebagai desainer. Untuk mencapai panjang 400 meter dibutuhkan empat rol kain putih dan enam lembar kain merah karena stok kain merah gulungan tidak mencukupi.
“Istri saya sendiri yang menjahit untuk menyambung-nyambung sampai menjadi 400 meter. Dua sampai tiga jam selesai, lalu malam itu juga langsung dipasang,” ujar Momon.
Semangat Gotong Royong menjadi benang merah di balik proyek tersebut.
Tiang-tiang penyangga sebagian besar menggunakan bambu bekas dari sisa pembangunan rumah warga. Hanya beberapa batang bambu panjang yang dibeli sebagai penyangga utama. Di pintu masuk kawasan, warga juga membangun gapura dari galon bekas air minum yang dikumpulkan melalui program Bank Sampah RW 06.
“Tiang-tiang itu sebagian besar bambu sisa pembangunan rumah warga. Saya minta, lalu dimanfaatkan. Asal ada kemauan, segala sesuatu pasti bisa terlaksana,” katanya.
Ketika malam tiba, lampu-lampu hias yang dipasang di sepanjang bambu penyangga membuat atap jalanan Merah Putih itu berubah menjadi ruang publik baru. Pengunjung berdatangan hampir setiap malam, sementara anak-anak memanfaatkan jalan tersebut sebagai tempat bermain.
“Kalau malam jadi seperti terowongan. Selama musim panas ini jalan juga terasa lebih adem karena tertutup kain lumayan rapat,” ujar Momon.
Seluruh biaya pembuatan bendera, pembangunan gapura, hingga pemasangan lampu berasal dari iuran warga, dana pengelolaan lingkungan (IPL), dan sumbangan sukarela. Tidak ada dukungan anggaran pemerintah maupun swasta.
Menurut Momon Simon, keterbatasan dana tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berbuat. Ia justru meyakini partisipasi masyarakat akan tumbuh ketika mereka melihat sebuah gagasan benar-benar dijalankan.
Ia bahkan memiliki semboyan yang sudah akrab di lingkungan RW 06, yakni “RW gila, warga ikut gila.”
Ungkapan itu, menurutnya, bukan berarti bertindak tanpa perhitungan, melainkan keberanian mengambil keputusan dan segera mengeksekusi gagasan.
“Saya kalau mengerjakan program tidak pernah direncanakan terlalu lama. Insting saja. Saya ngomong sekarang, besok harus jadi,” katanya.
Gagasan bergerak lebih dulu sebelum menghitung keterbatasan juga menjadi pesan yang ingin ia sampaikan kepada lingkungan lain.
Ia meyakini, sebuah gagasan akan menemukan jalannya ketika sudah mulai dikerjakan. Karena itu, ia meminta para pengurus lingkungan tidak menunggu kas RT atau RW terisi penuh sebelum memulai program yang bermanfaat bagi warga.
“Jangan melihat dulu ada dana atau uang kas. Jalankan dulu, kerjakan dulu. Insya Allah jalan mah nanti akan ada dan rezeki pasti mengikuti. Yang penting ada kemauan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan bersama,” ujarnya.
Kini, jalanan yang di atasnya ada kain Merah Putih sepanjang 400 meter itu telah menjadi penanda baru Puri Dewata Indah. Bukan hanya karena panjang benderanya yang menyita perhatian publik, melainkan juga karena cerita di balik pembuatannya: sebuah lingkungan yang memilih menjawab pesimisme dengan gotong royong, serta menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai ruang untuk merawat kebersamaan di tengah situasi yang mereka akui sendiri sedang tidak mudah.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






