PENAMARA.ID — Jika kita ingin menjadi jujur atas penindasan perempuan, kita harus berani membuka tumpukan sejarah tentang akar penindasan perempuan. Tak dapat dipungkiri bahwa perempuan sampai hari ini masih terus dihadapkan pada segala bentuk penindasan yang tak berujung. Membuka tumpukan sejarah tentang akar penindasan perempuan menjadi penting sebagai pengingat bahwa penundukan perempuan tidak lahir dari ruang hampa.
Kenyataan pahitnya, masalah struktural ini terus hidup dan dirawat dalam struktur dominan masyarakat kita hari ini. Rujukan bacaan kita pada tulisan kali ini adalah Friedrich Engels dalam bukunya yang berjudul “The Origin of the Family, Private Property, and State“.
Engels menyebutkan dalam bukunya tentang studi yang diterbitkan oleh Social Science Research Network pada 2021 dan menjelaskan bahwa peralihan ke masa pertanian menyebabkan pembagian kerja dalam keluarga. Dalam pembagian kerja itu, laki-laki menggunakan kekuatan fisiknya dalam produksi makanan dan perempuan mengurus anak, pengolahan dan produksi makanan, dan tugas rumah tangga lainnya.
Konsekuensi yang ditimbulkan dari pembagian kerja ini adalah peran perempuan dalam masyarakat yang tidak lagi memberikan perempuan terhadap kemandirian ekonominya sendiri. Pergeseran umum dalam pembagian kerja yang terkait dengan Revolusi Neolitik memperburuk pilihan perempuan di luar (di luar pernikahan) dan ini meningkatkan daya tawar laki-laki dalam keluarga dan terawat melalui generasi ke generasi yang kemudian diterjemahkan ke dalam norma dan perilaku masyarakat sehingga menjadi sebuah bentuk kepercayaan budaya tentang peran gender dalam masyarakat.
Jadi, jauh sebelum kita berbicara struktur masyarakat dominan hari ini yang menindas perempuan, ternyata jauh sebelum masa itu perempuan sudah direduksi nilainya dalam masyarakat.
Lalu muncul lah negara dan kapitalisme yang kian melegitimasi penindasan perempuan yang berkelanjutan.
Sejatinya, Kapitalisme dan penindasan perempuan tak dapat dipisahkan. Sistem yang menyokong penindasan perempuan ini akan terus ‘dihidupkan‘ semata-mata untuk menjaga keberlangsungan kekuasaan berlapisnya. Dampak yang dirasakan oleh perempuan salah satunya adalah ketidakmandirian perempuan dalam aspek ekonomi.
Hal lain yang Kapitalisme jerat terhadap perempuan adalah kutukan beban ganda yang harus selalu ditanggung oleh perempuan. Selain beban ganda, pembagian kerja berbasis gender mengakibatkan adanya upah murah bagi perempuan sehingga terjadi ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan.
Kepemilikan pribadi juga menjadi elemen kunci yang menentukan perubahan radikal dalam status perempuan dari sederajat menjadi subordinat pada laki-laki, karena sejatinya, dibawah kekuasaan Negara dan Kapitalisme, perempuan akan selalu dijadikan objek.
Membuka kembali tumpukan sejarah yang dianggap usang sebenarnya memberikan kita beberapa pengetahuan tentang akar penindasan perempuan yang hidup lama dalam masyarakat kita.
Pilihannya, kita punya keinginan untuk belajar atau tetap terjebak dalam sistem sosial yang merenggut hajat hidup manusia.
IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Penulis : Agnes Monica
Editor : Redaktur






