Tempe Briliant: Inovasi Santri Teluknaga Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

| PENAMARA . ID

Selasa, 17 Juni 2025 - 16:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sikin [menggunakan peci hitam] menerima hadiah dari pejabat setempat atas ide

Sikin [menggunakan peci hitam] menerima hadiah dari pejabat setempat atas ide "Tempe Briliant" | Dokumentasi: Ist

Di tengah derasnya arus modernisasi dan godaan urbanisasi, seorang santri asal Teluknaga, Kabupaten Tangerang, justru memilih jalur berbeda: kembali ke akar, membangun dari desa. Dialah Sikin, pemuda multitalenta dari Pondok Pesantren Nurul Anwar, yang tak hanya piawai dalam ilmu agama, tetapi juga lihai membaca peluang ekonomi berbasis lokalitas. Karyanya “Tempe Briliant”.

Lebih dari sekadar produk makanan, Tempe Briliant adalah buah dari gagasan besar dan keberanian seorang santri untuk berpikir dan bertindak visioner. Dalam benak Sikin, tempe bukanlah makanan kelas dua yang hanya cocok untuk konsumsi rakyat kecil. Ia melihat tempe sebagai simbol ketahanan pangan, ekonomi mandiri, dan kebanggaan lokal yang bisa dikemas secara modern dan bernilai tinggi di pasar.

Kesadaran ini muncul dari kepekaan sosial dan keberpihakan Sikin terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Di saat banyak anak muda terpikat dunia digital dan kerja kantoran di kota besar, Sikin justru menapaki jalan sunyi: bertani, memproduksi, dan membangun usaha dari bawah. Baginya, menjadi santri adalah menjadi pelopor, bukan pengikut. Menjadi kreator perubahan, bukan penonton zaman.

Langkah Sikin tak berdiri sendiri. Di balik keberanian dan inovasi yang ia bawa, ada sosok penting yang turut memberi dorongan dan ruang bagi lahirnya Tempe Briliant, yaitu Sajianto, yang akrab disapa Abah, tokoh sentral dari Pemerintah Desa dan BUMDes Bojong Renged. Sebagai figur yang dekat dengan masyarakat dan peka terhadap potensi anak muda, Abah menjadi salah satu yang pertama memberi dukungan moral dan kelembagaan kepada Sikin. Lewat BUMDes, Abah membuka jalan agar produk Tempe Briliant tidak hanya dikenal di lingkungan pondok, tetapi juga mulai menyentuh perhatian pemerintah setempat.

Abah Sajianto memahami bahwa pembangunan desa tidak bisa hanya mengandalkan proyek fisik semata, melainkan juga membutuhkan inovasi sosial dan ekonomi berbasis pemuda. Karenanya, ia melihat Sikin bukan sekadar santri pengusaha, tapi pionir yang layak difasilitasi, didukung, dan ditampilkan sebagai contoh baik bagi generasi muda lainnya.

Tempe Briliant tidak berhenti pada produk. Ia telah berkembang menjadi ekosistem: memberdayakan petani kedelai lokal, mengajak pemuda terlibat dalam proses produksi, distribusi, hingga pemasaran digital. Inovasi kemasan, sistem penjualan berbasis daring, hingga jejaring komunitas adalah bagian dari strategi agar tempe ini tak sekadar hidup, tapi berjaya.

Di tangan Sikin, tempe menjadi jalan perjuangan. Ia ingin membuktikan bahwa nilai-nilai lokal seperti kerja keras, gotong royong, dan kesederhanaan dapat bersanding harmonis dengan strategi modern dan branding cerdas. Inilah bentuk nyata santri berdaya: menciptakan solusi, bukan hanya mengeluh; membangun, bukan hanya menuntut.

Harapan ke depan, pemerintah desa, kecamatan, hingga Kabupaten Tangerang dapat melihat inisiatif seperti ini sebagai aset pembangunan daerah. Dukungan berupa pelatihan, fasilitas produksi, hingga promosi produk lokal ke pasar regional perlu diberikan secara serius dan berkelanjutan. Sebab dari usaha kecil seperti Tempe Briliant inilah kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, dan kebanggaan lokal bisa tumbuh mengakar, dari desa untuk Indonesia.

Artikel Lain :

Lumbung Ketahanan Pangan atau Monumen Ketidakadilan?

Insentif Produksi dan Hilirisasi Ketahanan Pangan Nusantara

Berita Terkait

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp
Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang
CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite
GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak
Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan
Siswa SMAN 14 Mengaku Diminta Mengakui Tuduhan sebagai Ketua Gengster
Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan
MTQ Kota Tangerang Bikin Pedagang Ketiban Rezeki, Omzet UMKM di Ciledug Melonjak Tajam

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:50 WIB

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:43 WIB

Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:44 WIB

CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:36 WIB

GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:54 WIB

Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan

Berita Terbaru