Ironi Indonesia Gelap: Ketika Efisiensi Anggaran Justru Memadamkan Harapan

| PENAMARA . ID

Minggu, 23 Februari 2025 - 04:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fahry Nurrizky

Negeri ini katanya “gemah ripah loh jinawi” [arti: makmur, subur, dan sejahtera], namun realitas berkata lain. Alih-alih menuju Generasi Emas, kebijakan yang diambil justru menumbuhkan Generasi Cemas. Anggaran yang mestinya menopang pendidikan malah dipangkas atas nama “efisiensi”.

Ironisnya, efisiensi justru menjadi alat pemutus harapan rakyat. Anggaran pendidikan ditekan, biaya kuliah melambung, akses ke ilmu pengetahuan semakin sulit dijangkau. Penghematan ini seolah hanya berlaku bagi kepentingan rakyat, sementara lingkar kekuasaan tetap menikmati kenyamanan.

Seharusnya diefisiensikan bukanlah anggaran pendidikan atau sektor yang menyentuh langsung kesejahteraan rakyat, malah Kabiner Merah Putih (KMP) terus membesar tanpa kendali. Menteri dan wakil menteri berjejeran, staf khusus berseliweran, tunjungan pejabat menggunung, bersama seremonial megah.

Jika efisiensi benar-benar diterapkan secara adil, mengapa bukan kabinet yang dirampingkan agar lincah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, perjalanan dinas tak penting dikurangi, dan proyek mercusuar diberhentikan demi keselarasan janji-janji kemarin.

Sebaliknya, Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan, melainkan mewujudkan program kampanye yang telah digembar-gemborkan sebagai solusi bagi rakyat. Program ini memang memastikan anak-anak tumbuh sehat dan kuat, tetapi apakah cukup? Tubuh yang diberi asupan terbaik tetap membutuhkan akses pendidikan yang layak.

Perut kenyang tidak akan cukup jika masa depan tetap tergantung pada sistem yang timpang. Hari ini, mereka diberi makan, tetapi besok mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: kuliah mahal, beasiswa langka, dan kesempatan yang semakin menyempit.

Mereka tumbuh dengan harapan yang tinggi, tetapi negara justru meredupkan cahaya itu. Ini bukan pembangunan yang berkelanjutan, melainkan kebijakan yang menciptakan ketimpangan lebih dalam. Jika kebijakan ini terus berlanjut, akankah kita benar-benar melahirkan generasi emas? Atau justru menciptakan generasi yang cemas akan masa depannya?

Indonesia tidak hanya kehilangan intelektualnya, tetapi juga kepercayaan anak-anak muda yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa. Efisiensi ini sesungguhnya untuk siapa? Untuk rakyat, atau sekadar memastikan kursi kekuasaan tetap nyaman?

Jika yang dipangkas adalah pendidikan dan yang dipertahankan adalah pemborosan di lingkar elite, maka Indonesia tidak sedang melangkah menuju kejayaan, melainkan sedang mengantar diri menuju kegelapan.


Artikel Lain : Sampaikan Lima Tuntutan, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Gelar Aksi didepan Polres Jakarta Pusat

Penulis : Fahry Nurrizky

Editor : Ginanjar Putro Wicaksono

Berita Terkait

Dialektika Perlawanan Anak Muda dalam Sejarah dan Filsafat
Bencana Jangan Dilupakan Ketika Langit Membiru
Kita Pandai Menghitung Keuntungan, tapi Lupa Menghitung Harga Kerusakan Alam
Akselerasi Kebijakan Prabowo dan Beban Politik yang Disiapkan untuk Penggantinya
300 Mahasiswa Gagal Kuliah karena UKT, lalu Disebut Pembuat Onar
Ekofeminisme dan Kepemimpinan Perempuan dalam Keadilan Ekologis Indonesia
Green Ribbon dan Perjuangan Merebut Kembali Agenda Ekologis
Tokoh NU Makin Berjaya — Warga Nahdliyin Tetap di Sana

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 02:14 WIB

Dialektika Perlawanan Anak Muda dalam Sejarah dan Filsafat

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:08 WIB

Bencana Jangan Dilupakan Ketika Langit Membiru

Rabu, 2 September 2026 - 21:38 WIB

Kita Pandai Menghitung Keuntungan, tapi Lupa Menghitung Harga Kerusakan Alam

Rabu, 26 Agustus 2026 - 02:31 WIB

Akselerasi Kebijakan Prabowo dan Beban Politik yang Disiapkan untuk Penggantinya

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:56 WIB

300 Mahasiswa Gagal Kuliah karena UKT, lalu Disebut Pembuat Onar

Berita Terbaru

Ilustrasi: Banten72.com

Opini

Bencana Jangan Dilupakan Ketika Langit Membiru

Jumat, 2 Okt 2026 - 00:08 WIB

Ilustrasi: Joko Widodo menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Prabowo Subianto, disaksikan Presiden Indonesia terdahulu | Gambar: Dekade08

Editorial

Tebak-Menebak Hubungan Prabowo-Jokowi

Rabu, 30 Sep 2026 - 00:22 WIB