Zilenial, Fenomena Penolakan Istilah Milenial dan Generasi Z

| PENAMARA . ID

Kamis, 2 Januari 2025 - 04:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Generasi : B (Baby Boomer), X (Generasi X/Baby Bust), Y (Generasi Y/Milenial), Z (Generasi Z), A (Generasi Alpha) | Oleh: Devis Mamesah

Ilustrasi Generasi : B (Baby Boomer), X (Generasi X/Baby Bust), Y (Generasi Y/Milenial), Z (Generasi Z), A (Generasi Alpha) | Oleh: Devis Mamesah

Setiap generasi punya karakteristik atau ciri yang terpengaruh oleh sosial, ekonomi, dan teknologi pada masanya. Pemisahan genarasi yang terkenal sekarang memberi istilah, dari baby boomer (1946-1964), generasi X/baby bust (1965-1980), generari Y/milenial (1981-1996), generasi Z/zoomers (1997-2012), dan terbaru generasi Alpha (2013-2025).

Setiap negara saat ini bergantung pada sebagian kecil baby bust, milenial, dan gen Z. Namun pada kelahiran 1990an, transisi antara milenial dan gen Z tak segamblang itu, dan tanpa proses akademis – muncul istilah baru “zilenial” (antara 1992-1998). Zilenial disebut juga “generasi mikro” karena himpitan perbedaan karakteristik yang kontras antara gen Z dan yang lain.

Mikro generasi ini tumbuh sembari menyaksikan peristiwa-peristiwa besar, seperti krisis moneter 1998, peristiwa 9/11 2001, dan berkuliah saat pandemik Covid-19 2020. Terkhusus di Indonesia ada pemilihan langsung oleh rakyat, tsunami Aceh pada 2004, serta bom Bali tahun 2002 dan 2005.

Dibesarkan orang tua dari baby boomer dan baby bust, Zilenial menerima pendidikan formal dan idealis dari generasi sebelumnya, dan mengenyam pendidikan dasar yang tak terjamak pesatnya teknologi digital. Lalu, saat dewasa mesti menghadapi eksperimental realistis dan pragmatis bersama gen Z, sembari mengadaptasi pesatnya teknologi.

Antara Tradisi dan Teknologi

Perbedaan kontras antara generasi [X/Y dengan Z] ini menjadikan zilenial unik dan berada di “zona abu-abu”. Mereka perlu menghormati nilai-nilai baby boomer hingga milenial [kelahiran 1980an], sambil menyederhanakan pendekatan untuk gen Z. Zilenial juga dituntut menjaga kultur dan menjembatani pemahaman antara sifat konservatif generasi sebelumnya dan kontemporer setelahnya.

Sayangnya di kota, zilenial terkadang dianggap sebagai “penyebab” dekadensi sosial tanpa argumentasi yang jelas. Dari sana muncul juga istilah “milenial geriatrik” karena ketidakcocokan disebut milenial dan tidak mau ditempatkan sebagai penyebab dekadensi sosial. Padahal, dekadensi sosial adalah soal kompleks yang tidak bisa dikaitkan sembarangan dengan generasi tertentu. Seharusnya mengendalikan penggunaan teknologi digital – dari isi konten sampai cara mengkonsumsi konten – lebih penting daripada sekedar menyalahkan.

Jika merunut keadaan, sentimen negatif konten digital dari baby boomer dan baby bust terkesan cepat menyimpulkan suatu situasi, menunjukan kurangnya adaptasi; sementara gen Z dan milenial [zilenial] terlalu berlebihan mengumbar kehidupan pribadi. Namun tidak semua baby boomer dan baby bust gagap teknologi – sebagian berusaha beradaptasi meski hanya pada penggunaan menengah; begitu juga gen Z dan milenial berupaya tidak gagap sosial – sebagian diantara mereka menjaga privasi dan berusaha menggunakan teknologi secara bijak.

Dalam podcast “Please, Go On” oleh The Washington Post (9/7/2024), pembawa acara James Hohmann mewawancarai Philip Cohen, seorang profesor sosiologi. Hohmann menyebut “milenial geriatrik” (kelahiran 1980an), istilah itu tidak tahu darimana asalnya “rasanya seperti kita mengiris-iris dan mengarang – seperti ada perlombaan ke bawah untuk menghadilkan istilah baru yang keren untuk digunakan semua orang,” ucap Hohmann.

Profesor Philip Cohen, dalam tulisannya [bertopik lebel generasi tidak ada artinya – kita harus berhenti menggunakannya] yang dibahas pada podcast itu, bahwa istilah generasi ini tidak melalui penelitian ilmiah dan jangan menampakkan karakteristik didalamnya. Kategori generasi itu diberlakukan oleh peneliti survei, jurnalis dan pemasaran untuk memperlajari perilaku secara acak saja, sehingga tidak bisa digunakan sebagai tolak ukur identitas individu. Dia juga kurang sependapat dengan penambahan istilah generasi ini dan menyatakan cukup dengan istilah “anak-anak zaman sekarang,” saja.

Sebetulnya istilah itu dipopulerkan berdasarkan buku Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069 oleh William Strauss dan Niel Howe. Mereka menulis sebagai upaya prediksi siklus generasi, mirip dengan arumentasi “Masa sulit menciptakan orang kuat, orang kuat menciptakan masa mudah. Masa mudah menciptakan orang lemah, orang lemah menciptakan masa sulit,” diucapkan Anthony Robbins.

Artinya irisan generasi ini hanya untuk survei umur terhadap pasar, melihat pemilih potensial [baru] dalam sistem pemilihan umum/kepala daerah (pemilu/pilkada), atau menghitung populasi, dan jangan dipakai sebagai tolak ukur karakteristik individu – cukup gunakan pada analisa umur dan kebutuhan ilmiah.

Kesempatan Indonesia

Resim baru Presiden Prabowo telah masuk pada tahun yang dinanti sebagai bahan untuk memprediksi Indonesia kedepan. Independensi kita diuji dengan memanasnya laut pasifik dengan kekuatan besar, peran kita terhadap perdamaian dunia di heartland [timur tengah], serta gelisah akan hilangnya keanekaragaman hayati.

Isu-isu besar ini harus peka dengan kita (generasi X/Y/Z) agar diwariskan dengan baik kepada generasi Alpha, hal itu harus dibangun dengan kolaborasi dan tak akan terwujud jika masih ada sentimental generasi, juga sikap masa bodoh masing-masing.

Berkelompok yang memiliki kesamaan visi adalah jalan terbaik untuk memajukan negara, sampai hari ini perpecahaan adalah upaya untuk membuat kita tidak bisa berkembang menguasai isu-isu yang menjadi perhatian dunia, dengan begitu – bagaimana bisa separu Indonesia melawan kekuatan militer di pasifik, me-ngemuka-kan perdamaian di negara Islam timur tengah, atau menyerukan kelestarian alam.

Kapital kita juga terlalu seksi dengan asing, berdalih investasi rela meninggalkan bangsa sendiri. Kepercayaan terhadap penyelenggara negara sangat rendah yang tak berupaya menuju evaluasi, transparansi digunakan sebagai dalih untuk pengawasan masyarakat kendati begitu banyak lembaga pengawasan, baik di ranah etik, dewan dari pusat hingga daerah, kejaksaan, sampai komisi pemberantasan korupsi.

Tempat terbaik kembali pada pengajaran pada nilai-nilai berbangsa dan bernegara, bakar kasur kemalasan, lalu paksa pikiran berorientasi pada kemajuan bersama. Jangan sampai alasan dulu kolonialisme datang karena kemalasan kita – memang benar adanya.


Artikel Lain : Kenapa Disiplin Bisa Jadi Kunci Kebebasan untuk Gen Z?

Penulis : Devis Mamesah

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan: Antara Relevansi dan Tantangan Adaptasi
Dari Demokrasi Delegatif ke Nekropolitik jadi Wajah Demokrasi Indonesia
Krisis Kapitalisme Global di Depan Mata, Sudah Saatnya Membakar
Membaca Arah Demokrasi di Kekuasaan Era Prabowo
Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan
Bisakah Program MBG jadi Solusi Stunting dan Krisis Gizi Anak?
Menyerah Bukan Kelemahan, Tapi Keberanian yang Tak Diajarkan
Berburu Ikan Sapu-Sapu Tidak Selamatkan Sungai Jakarta

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 02:58 WIB

Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan: Antara Relevansi dan Tantangan Adaptasi

Rabu, 20 Mei 2026 - 15:44 WIB

Dari Demokrasi Delegatif ke Nekropolitik jadi Wajah Demokrasi Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:45 WIB

Krisis Kapitalisme Global di Depan Mata, Sudah Saatnya Membakar

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:43 WIB

Membaca Arah Demokrasi di Kekuasaan Era Prabowo

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:58 WIB

Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan

Berita Terbaru