Nama Soekarno tidak hanya hidup dalam ingatan bangsa Indonesia sebagai bapak revolusi dan presiden pertama Indonesia. Ide-idenya juga bersemayam dalam kesadaran politik dunia, melintasi batas geografis dan generasi. Salah satu tokoh yang secara terbuka mengakui pengaruh besar Soekarno adalah Ali Khamenei, sosok yang saat ini menjadi figur sentral dalam politik Iran hari ini.
Kisah ini bukan sekadar tentang kekaguman personal, melainkan tentang bagaimana gagasan politik dapat bergerak bebas, melampaui negara, rezim, perang, bahkan penjara sekalipun. Dalam konteks inilah, Soekarno tampil bukan hanya sebagai pemimpin nasional, tetapi sebagai simbol global perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar dunia.
Pada tahun 1955, dunia menyaksikan sebuah peristiwa penting yang mengubah arah politik global, yaitu Konferensi Asia Afrika 1955. Di forum inilah Soekarno tampil sebagai orator utama yang tidak hanya mewakili Indonesia, tetapi juga menyuarakan keresahan dan harapan bangsa-bangsa yang baru merdeka.
Pidato pembuka Soekarno dalam konferensi tersebut menegaskan pentingnya persatuan antarbangsa yang pernah mengalami penindasan. Ia menolak dominasi Barat maupun Timur dalam konteks Perang Dingin, dan menawarkan jalan ketiga: berdikari, persatuan, serta kerja sama yang berlandaskan keadilan.
Gagasan ini tidak berhenti di ruang konferensi. Ia menyebar melalui berbagai medium—Koran,buku, siaran radio, diskusi intelektual—dan menjangkau wilayah-wilayah yang bahkan tidak memiliki hubungan langsung dengan Indonesia. Iran menjadi salah satu tempat di mana gema pidato itu menemukan pembaca serta pendengarnya.
Di Iran, pada masa kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi, situasi politik diwarnai oleh ketegangan antara kekuasaan monarki dan kelompok oposisi. Dalam suasana seperti itu, gagasan tentang kemerdekaan, kedaulatan, dan perlawanan terhadap dominasi asing menjadi sangat relevan.
Ali Khamenei, yang saat itu masih muda, termasuk dalam kelompok yang terpapar oleh pemikiran-pemikiran tersebut. Ia mengenal Soekarno bukan sebagai tokoh yang jauh, melainkan sebagai sumber inspirasi yang konkret. Ia mengingat bagaimana pidato-pidato Bung Karno tentang kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialisme bahkan terdengar hingga ke Iran, menjangkau ruang-ruang diskusi politik dan kesadaran generasi muda di sana.
Menurut berbagai kesaksian, pengaruh Soekarno semakin terasa ketika Khamenei mengalami masa penahanan. Kesaksian ini bukan sekadar romantisasi sejarah. Dalam pertemuannya dengan Boediono di Teheran pada 2012, Khamenei secara langsung mengungkapkan bahwa sejak muda ia telah mendengar pidato-pidato Soekarno dan sangat terkesan olehnya.
Menurut berbagai keterangan yang disampaikan Boediono, Khamenei bahkan menyatakan bahwa pidato Soekarno dalam Konferensi Asia Afrika 1955 masih membekas kuat dalam ingatannya hingga saat ini.
Waktu berjalan, dan sejarah membawa Khamenei ke posisi yang jauh berbeda. Setelah Revolusi Iran 1979, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam struktur kekuasaan baru, hingga akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Namun, kekagumannya terhadap Soekarno tidak pudar. Justru, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin, ia memiliki ruang untuk mengartikulasikan kembali pengaruh tersebut.
Pada tahun 2012, dalam pertemuan dengan Wakil Presiden Indonesia saat itu, Boediono, Khamenei secara langsung mengungkapkan kekagumannya terhadap Soekarno. Ia mengenang bagaimana pidato-pidato Bung Karno telah membentuk cara pandangnya sejak muda.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ia mencerminkan kontinuitas pemikiran yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam berbagai forum internasional, Khamenei beberapa kali mengutip pidato Soekarno. Salah satu gagasan yang sering ia angkat adalah prinsip dasar dari Gerakan Non-Blok.
“Tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Soekarno… dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan,” kata Ali Khamenei.
Kutipan tersebut menegaskan bagaimana Soekarno diposisikan bukan hanya sebagai tokoh historis, tetapi sebagai rujukan konseptual dalam membaca peta politik global. Khamenei mengadopsi gagasan ini dalam konteks politik Iran, terutama dalam menghadapi tekanan internasional.
Ia melihat kesamaan antara perjuangan Indonesia di masa lalu dengan posisi Iran dalam menghadapi hegemoni global. Dalam perspektif ini, Soekarno tetap relevan sebagai simbol perlawanan dan kemandirian politik.
Kisah hubungan intelektual antara Soekarno dan Khamenei menunjukkan satu hal penting yth gagasan memiliki daya jelajah yang jauh lebih luas daripada kekuasaan politik.
Soekarno mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pidatonya akan menjadi inspirasi bagi seorang pemuda di Iran. Namun, kenyataannya, gagasan tersebut hidup dan berkembang dalam konteks yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran politik yang kuat tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ia dapat diadaptasi, ditafsirkan ulang, dan digunakan untuk menjawab tantangan yang berbeda.
Dalam kasus Khamenei, gagasan Soekarno menjadi salah satu fondasi dalam membangun narasi perlawanan terhadap dominasi global. Meskipun konteks Indonesia dan Iran berbeda, terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya, yaitu keinginan untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa.
Di tengah dinamika politik global saat ini, isu tentang kemandirian dan kedaulatan tetap menjadi perdebatan utama. Banyak negara masih menghadapi tekanan dari kekuatan besar, baik dalam bentuk ekonomi, politik, maupun militer.
Dalam situasi seperti ini, gagasan Soekarno kembali menemukan relevansinya. Prinsip-prinsip yang ia suarakan—seperti persatuan, berdikari, anti-imperialisme dan anti kolonialisme masih menjadi referensi bagi banyak negara berkembang.
Khamenei adalah salah satu contoh bagaimana gagasan tersebut terus hidup dan memengaruhi kebijakan politik saat jni. Ia menunjukkan bahwa warisan intelektual Soekarno tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus berinteraksi dengan realitas masa kini.
Hubungan antara Soekarno dan Ali Khamenei bukanlah hubungan langsung dalam arti personal. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, hidup dalam konteks sejarah yang berbeda, dan menghadapi tantangan yang berbeda. Namun, keduanya dipertemukan oleh gagasan.
Soekarno, melalui pidato dan pemikirannya, berhasil menciptakan pengaruh yang melampaui batas negara. Sementara itu, Khamenei, sebagai penerima pengaruh tersebut, menunjukkan bagaimana gagasan dapat diinternalisasi dan diterapkan dalam konteks yang berbeda.
Namun, ada satu ironi yang patut direnungkan. Di saat dunia luar—bahkan seorang pemimpin seperti Khamenei—memandang Soekarno sebagai simbol keberanian, persatuan, dan perlawanan terhadap dominasi global, di dalam negeri sendiri, citra itu kerap menyusut menjadi hal-hal yang dangkal.
Sebagian pemuda Indonesia hari ini lebih akrab dengan sisi kontroversial kehidupan pribadi Soekarno daripada kedalaman gagasan dan perjuangannya. Ia kerap direduksi menjadi sekadar “tokoh yang banyak kawinnya”,
Yang lebih disayangkan, penyederhanaan ini berpotensi memutus hubungan generasi muda dengan warisan intelektual bangsanya. Ketika tokoh sebesar Soekarno hanya dipahami dari sisi permukaan, maka yang hilang bukan hanya penghormatan, tetapi juga pelajaran penting tentang keberanian berpikir, berdikari secara politik, dan gagasan gagasan anti imprealisme juga anti kolonialisme.
Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh Khamenei, gagasan Soekarno justru menemukan kehidupan baru di luar Indonesia. Ia dibaca, dipahami, dan dijadikan rujukan dalam pergulatan politik global.
Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah Soekarno relevan atau tidak. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih bersedia membaca, memahami, dan merawat warisan pemikirannya dengan sungguh-sungguh?
Jika tidak, maka mungkin suatu hari nanti, Soekarno akan lebih hidup dalam ingatan bangsa lain—daripada di tanah yang pernah ia bangkitkan dengan kata-katanya sendiri.
Artikel Lain :
Konflik AS-Iran, GMNI Jaktim Minta Pemerintah Bersikap Tegas
Mampukah Indonesia Damaikan Perang AS-Israel dan Iran?
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






