Buat warga Neglasari yang sering jalan-jalan sore ke Taman Ecopark, pasti paham rasanya ngelihat satu bangunan kecil beratap rapi yang berdiri anggun di sana. Gedung itu diniatkan jadi perpustakaan mini taman. Tapi realitasnya? Lebih mirip rumah tua tempat syuting film horor lokal. Terlihat dari luar Sepinya konsisten, pintunya terkunci rapat, dan debunya tebal. Setiap hari, sepinya bisa mengalahkan kuburan dan aktivitas literasi yang dijanjikan pemerintah daerah nyaris nol besar alias tak beroperasi sama sekali.

Bangunan itu ada, bukunya terlihat sudah tidak ada, anggarannya jelas keluar dari APBD, tapi fungsinya gaib.
Melihat anggaran daerah yang bak menguap jadi angin surga dalam proyek fisik tanpa nafas tersebut, kawan-kawan mahasiswa dari Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) STISNU Nusantara akhirnya memutuskan untuk bergerak. Mereka sadar, ngomongin kritik cuma lewat pamflet kemarahan di Instagram Story atau bikin thread panjang di X tidak akan bikin pejabat terkait mendadak sadar.
Maka, pada Rabu sore (22/7/2026), belasan mahasiswa ini turun langsung ke lapangan. Mereka menggelar lapak buku gratis tak jauh dari halaman bangunan perpustakaan mini mangkrak tersebut. Sebuah aksi propaganda literasi yang tak hanya kaya makna, tapi juga menjadi bentuk satire paling elegan untuk Pemerintah Kota Tangerang.
Satire-nya sangat tidak ramah pejabat: perpustakaan resminya dikunci, tapi fungsi perpusnya malah dijalankan anak-anak mahasiswa di atas kain terpal.
Lapak buku yang diberi nama “Taman Baca Marhaenis” itu dibeber sederhana di atas kain terpal. Namun, jangan bayangkan resembles koleksi bukunya cuma komik bekas atau majalah cetak keluaran sepuluh tahun lalu. Jajaran buku yang dipajang di sana cukup buat bikin kening pejabat dinas berkerut kalau menyempatkan hadir.
Di atas terpal itu, bersanding dengan rapi pemikiran-pemikiran berat dari Soekarno, karya kritis Tan Malaka, novel-novel epik Pramoedya Ananta Toer, hingga analisis ekonomi-politik ala Karl Marx. Uniknya, di sebelah buku-buku kiri dan pemikiran kebangsaan yang garang itu, terhampar pula puluhan buku gambar, krayon, dan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Sebuah kontras yang menggelitik: mendidik calon pemikir bangsa sekaligus merawat keceriaan bocah-bocah kampung.
Ketua DPK GMNI STISNU Nusantara, Muhamad Ridwan, menegaskan bahwa aksi menyebarkan racun literasi ini adalah bentuk sentilan langsung buat Pemkot Kota Tangerang.
“Kami miris melihat perpustakaan di Taman Jagal ini mangkrak dan enggak beroperasi. Padahal, pembangunan fasilitas publik ini pakai uang rakyat yang enggak sedikit. Kalau dibiarkan mati begini, kan sama saja anggaran daerah dibuang sia-sia,” ujar Ridwan dengan ketawa kecilnya saat diwawancarai di lokasi, Rabu sore.
Menurut Ridwan, pejabat publik sering kali berlindung di balik narasi klasik yang klise: menyalahkan masyarakat yang katanya “rendah minat baca”. Padahal, masalah utamanya sering ada di cermin mereka sendiri. Fasilitas fisik dibangun demi mengejar daya serap anggaran dan seremoni peresmian, setelah itu dibiarkan terbengkalai tanpa konsep pengelolaan yang jelas.
Uniknya, lapak terpal ini malah diserbu warga yang kebetulan lewat. Saat gedung berwarna biru dan mera di samping mereka mati suri, terpal mahasiswa justru hidup.
Rendra (18), seorang pemuda lokal yang sore itu berniat jalan-jalan santai menghirup udara taman, mengaku kaget saat melihat kerumunan mahasiswa dan hamparan buku di lokasi. Rasa penasarannya menuntun langkah kakinya untuk singgah ke Taman Baca Marhaenis.
“Kaget juga, sih. Biasanya di taman cuma duduk sama ngopi, gedung perpus kosong aja saya pikir itu tempat nyimpan alat kebersihan,” kata Rendra sambil ketawa tipis. “Ya malu harusnya Pemkot. Masa kalah gerak sama mahasiswa yang cuma modal terpal?” Lanjutnya
Tak jauh dari Rendra, riuh suara anak-anak kecil memenuhi sudut terpal yang lain. Raka (13), salah satu bocah warga kampung sekitar taman, datang berlari bersama teman-temannya begitu melihat koleksi buku gambar dan krayon warna-warni yang disediakan kawan-kawan GMNI.
“Asyik, Kak, ada buku gambar gratis! Biasanya di sini cuma main, sama liat-liat orang mancing aja,” celetuk Raka polos.
“Senang ada buku gambar begini, jadi bisa mewarnai bareng,” lanjutnya

Melihat Raka dan Rendra asyik di atas terpal, kita jadi tahu satu hal: warga itu sebenarnya butuh ruang baca. Yang bermasalah bukan warganya, tapi niat dan konsep pemerintahnya.
Langkah DPK GMNI STISNU Nusantara di Taman Ecopark sore itu berhasil mengirimkan pesan tamsil yang amat menohok bagi birokrasi Kota Tangerang.
Pesan itu sederhana tapi menembus jantung masalah: kalau bikin fasilitas publik cuma buat mengejar pencapaian proyek dan formalitas laporan tahunan tanpa ada niat merawatnya, mending anggarannya dipake buat hal lain yang lebih langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Sebab, ketika mahasiswa sampai harus turun ke jalan, menyumbang tenaga, memutar otak, dan membawa buku koleksi pribadi demi menjalankan fungsi perpustakaan kota yang mangkrak, sebuah pertanyaan mendasar patut dilayangkan ke balai kota:
“Kalau bikin fasilitas publik cuma buat ngejar laporan proyek terus dibiarkan busuk, buat apa? Dan kalau pada akhirnya kesadaran masyarakat atau mahasiswa yang harus turun tangan ngelayanin warga, terus pegawai dinas terkait digaji buat ngapain?” Tutup Ridwan.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






