Langit Kota Tangerang terasa lebih muram pada Minggu (19/7/2026) malam pukul 19:11 WIB. Kabar wafatnya Ketua DPRD Kota Tangerang, H. Rusdi Alam bin H. Rahmat, menyebar cepat dari telepon ke telepon, dari ruang-ruang pemerintahan hingga sudut-sudut permukiman warga. Sosok yang selama ini dikenal sederhana, mudah ditemui, dan aktif menjalin komunikasi lintas kelompok itu berpulang, meninggalkan duka yang melampaui batas-batas politik.
Sejak malam hingga Senin (20/7/2026), rumah duka dipenuhi pelayat. Tokoh politik, pejabat pemerintahan, ulama, aktivis organisasi kemasyarakatan, pemuda, wartawan, hingga masyarakat biasa datang silih berganti memberikan penghormatan terakhir. Mereka tidak hanya datang sebagai kolega, melainkan sebagai orang-orang yang pernah mengenal pribadi Rusdi Alam dalam berbagai fase kehidupannya.
Kepergian Rusdi Alam bukan sekadar kehilangan seorang Ketua DPRD. Kota Tangerang kehilangan salah satu putra daerah yang sepanjang perjalanan hidupnya memilih mengabdikan diri melalui aktivis, organisasi kepemudaan, dunia politik, dan pelayanan publik.
Lahir di Tangerang pada 4 April 1979, Rusdi tumbuh bersama denyut perkembangan kotanya. Masa mudanya diwarnai aktivitas organisasi. Saat menempuh pendidikan tinggi, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta Himpunan Mahasiswa Tangerang (Himata). Dari ruang-ruang diskusi mahasiswa itulah karakter kepemimpinannya mulai terbentuk.
Rekan-rekannya mengenang Rusdi sebagai sosok yang lebih memilih dialog daripada konfrontasi. Ia terbiasa mendengarkan berbagai pandangan sebelum mengambil keputusan. Sikap itu pula yang kemudian menjadi ciri khasnya ketika memasuki dunia organisasi yang lebih luas.
Dedikasinya mengantarkan Rusdi dipercaya memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tangerang periode 2015–2018. Di bawah kepemimpinannya, KNPI menjadi ruang yang mempertemukan berbagai organisasi kepemudaan dengan latar belakang berbeda. Ia berupaya menjaga agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Komitmennya terhadap pembinaan generasi muda tidak berhenti setelah masa jabatannya di KNPI berakhir. Rusdi tetap aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan dipercaya sebagai Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Tangerang periode 2024–2026.
Karier politik Rusdi Alam berjalan beriringan dengan aktivitas organisasinya. Sebagai kader Partai Golkar, ia dipercaya menjabat Wakil Ketua Bidang Hubungan Lembaga Politik DPD Partai Golkar Kota Tangerang periode 2020–2025.
Kepercayaan publik terhadap dirinya kembali terbukti pada Pemilu Legislatif 2024. Dari Daerah Pemilihan I yang meliputi Kecamatan Tangerang dan Karawaci, Rusdi meraih 11.787 suara. Perolehan tersebut mengantarkannya kembali menjadi anggota DPRD sekaligus dipercaya menduduki jabatan Ketua DPRD Kota Tangerang periode 2024–2029.
Sebagai pimpinan legislatif, Rusdi dikenal mendorong hubungan yang harmonis antara DPRD dan Pemerintah Kota Tangerang. Baginya, perbedaan pandangan antara legislatif dan eksekutif merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus diarahkan untuk menghasilkan kebijakan terbaik bagi masyarakat.
Selama memimpin DPRD, ia terlibat dalam pembahasan berbagai agenda strategis daerah, mulai dari penyelarasan peraturan daerah, penguatan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, penataan ruang, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan generasi muda. Ia juga dikenal aktif membuka ruang komunikasi dengan organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, pemuda, hingga wartawan.
Di tengah kesibukan sebagai pimpinan DPRD, Rusdi tetap mempertahankan kebiasaannya berdialog secara langsung dengan masyarakat. Tidak sedikit warga yang mengenalnya sebagai pribadi yang mudah dihubungi dan bersedia mendengarkan berbagai persoalan tanpa membedakan latar belakang.
Kabar wafatnya Rusdi Alam memunculkan duka dari berbagai kalangan, termasuk Gubernur Banten Andra Soni. Saat melayat ke rumah duka pada Minggu malam, Andra mengaku kehilangan seorang sahabat yang telah dikenalnya sejak awal memasuki dunia politik.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka cita atas berpulangnya sahabat kami, Bapak almarhum Rusdi Alam,” ujar Andra Soni
Menurut Andra, Rusdi merupakan orang pertama yang dikenalnya ketika mulai aktif di dunia politik. Saat itu Rusdi masih memimpin KNPI Kota Tangerang.
“Saya merasa sangat kehilangan, karena di dunia politik, orang pertama yang saya kenal adalah beliau saat menjadi Ketua KNPI,” katanya.
Di mata Gubernur Banten, Rusdi memiliki karakter yang jarang dimiliki banyak tokoh politik. Ia dinilai mampu menghadirkan ketenangan di tengah dinamika yang kerap mengiringi kehidupan politik.
“Beliau orang baik, selalu memberikan ketenangan, selalu berusaha meredam konflik, dan bisa diterima oleh semua pihak,” ujar Andra Soni.
Beberapa waktu sebelum wafat, kata Andra Soni, mereka masih sempat berdiskusi mengenai sejumlah agenda pembangunan yang berkaitan dengan Kota Tangerang. Karena itu, ia menegaskan berbagai gagasan yang telah dirintis Rusdi akan tetap dilanjutkan.
“Beberapa waktu yang lalu kami bersama-sama sedang melakukan upaya untuk kepentingan Kota Tangerang. Apa yang sudah beliau rintis tentu akan kami teruskan bersama,” katanya.
Andra Soni juga menyampaikan doa agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Banten dan masyarakat Banten, kami mengucapkan turut berduka cita. Semoga almarhum husnul khotimah.”
Duka serupa disampaikan Wali Kota Tangerang Sachrudin yang mengantar langsung jenazah Rusdi Alam hingga ke pemakaman di samping Masjid Al-Istiqomah, Jalan Budi Indah, Kelurahan Poris Gaga, Kecamatan Batuceper, Senin siang.
Prosesi pemakaman yang berlangsung sekitar pukul 13.45 WIB dihadiri ribuan pelayat. Jalan menuju lokasi pemakaman dipenuhi masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang selama ini mereka kenal dekat dengan warga.
Di hadapan awak media, Sachrudin menyebut Kota Tangerang kehilangan salah satu putra terbaiknya.
“Hari ini kita kehilangan putra terbaik Kota Tangerang. Kader terbaik, yaitu Pak H. Rusdi Alam bin H. Rahmat. Beliau orang yang bersahaja, rendah hati, dan memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk membangun Kota Tangerang,” katanya.
Bagi Sachrudin, hubungan dengan Rusdi tidak hanya sebatas kemitraan antara eksekutif dan legislatif. Mereka juga sering bertukar pikiran untuk mencari jalan keluar atas berbagai persoalan pembangunan.
“Beliau teman, sahabat, teman berdiskusi untuk memecahkan persoalan-persoalan pembangunan bagi masyarakat Kota Tangerang,” ujarnya.
Yang paling membekas dalam ingatan Sachrudin adalah pertemuan mereka beberapa jam sebelum Rusdi meninggal dunia. Saat itu, keduanya masih berbincang mengenai pembangunan Kota Tangerang dan pembinaan generasi muda.
“Beberapa jam sebelum beliau meninggal, kami masih sempat bertemu dan berbicara tentang kota ini, tentang masyarakat, dalam rangka pengkaderan generasi muda di Kota Tangerang,” tuturnya.
Sachrudin mengaku tidak melihat tanda-tanda yang mengarah pada kepergian sahabatnya itu.
“Tidak ada tanda-tanda. Itulah usia,” katanya.
Menurut Sachrudin, dedikasi Rusdi melampaui tugasnya sebagai pimpinan DPRD. Ia aktif membina organisasi kepemudaan, organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan, hingga kegiatan keagamaan.
“Loyalitas dan dedikasinya luar biasa. Perhatiannya kepada generasi muda, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, bahkan organisasi keagamaan terus ditunjukkan untuk membangun Kota Tangerang,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa almarhum, Pemerintah Kota Tangerang menginstruksikan pengibaran bendera setengah tiang di lingkungan pemerintahan.
“Kami sudah menyampaikan melalui Pak Sekda untuk mengibarkan bendera setengah tiang,” kata Sachrudin.
Kepergian Rusdi Alam memang menutup perjalanan hidup seorang politisi. Namun, bagi banyak orang yang mengenalnya, warisan terbesar yang ditinggalkan bukanlah jabatan, melainkan cara membangun hubungan antarmanusia. Ia dikenang sebagai sosok yang lebih memilih musyawarah dibanding pertentangan, lebih mengutamakan kolaborasi daripada kompetisi, dan berusaha menjaga komunikasi dengan semua kalangan.
Dalam usia 47 tahun, perjalanan hidup Rusdi Alam berakhir. Akan tetapi, jejak pengabdiannya melalui aktivis, organisasi kepemudaan, dunia politik, serta kerja-kerja pembangunan daerah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Kota Tangerang. Bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat yang pernah mengenalnya, Rusdi Alam akan tetap dikenang sebagai pemimpin yang membangun dengan ketenangan, merawat persaudaraan di tengah perbedaan, serta menempatkan kepentingan masyarakat sebagai tujuan utama pengabdiannya.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






