Coffeshop yang Biasanya Dipakai Nongkrong, Di Tangerang Bung Karno Kembali Dibicarakan

| PENAMARA . ID

Senin, 22 Juni 2026 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ist

Foto: Ist

Malam Sabtu 20 Juni 2026 belum terlalu larut ketika kursi-kursi di Hortus Coffee Cisadane, Karawaci, mulai penuh. Dari luar, suasananya tak jauh berbeda dengan malam akhir pekan biasa. Ada aroma kopi, obrolan yang saling bersahutan, dan beberapa anak muda yang sesekali menyalakan rokok.

Namun malam itu ada satu hal yang berbeda. Di salah satu sudut ruangan, foto besar Bung Karno berdiri menghadap para tamu. Nama sang proklamator menjadi topik utama pembicaraan. Bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di meja-meja peserta yang datang dari berbagai latar belakang: mahasiswa, aktivis, anggota dewan, birokrat, hingga tokoh lintas agama.

Front Marhaenis Kota Tangerang menggelar Haul Bung Karno bertajuk “Malam Renungan Putra Sang Fajar, Memperkokoh Pagar Bangsa” pada Sabtu (20/6/2026).

Sekilas acara ini tampak seperti agenda tahunan mengenang wafatnya Presiden pertama Republik Indonesia yang jatuh setiap 21 Juni.

Tetapi semakin malam berjalan, semakin terlihat bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar sosok Bung Karno dalam buku sejarah, Yang dibicarakan adalah Indonesia hari ini.

Bung Karno dan Pertanyaan yang Belum Selesai

Ketua DPC GMNI Kota Tangerang, Elwin Mendrofa, membuka acara dengan mengingatkan bahwa Juni adalah bulan yang sulit dipisahkan dari Bung Karno.

Pada 6 Juni 1901, Soekarno lahir. Pada 1 Juni 1945, ia memperkenalkan gagasan Pancasila dalam sidang BPUPKI. Dan pada 21 Juni 1970, ia wafat.

Tiga tanggal itu selalu diperingati setiap tahun. Namun bagi Elwin, mengenang Bung Karno tidak cukup berhenti pada seremoni.

Karena itulah dalam sambutannya ia justru mengajak peserta melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa saat ini.

Salah satu yang ia singgung adalah isu oligarki yang beberapa tahun terakhir semakin sering muncul dalam diskusi politik nasional.

“Fenomena oligarki dalam susunan pemerintahan sering menjadi perbincangan publik. Ini perlu menjadi bahan refleksi bersama,” kata Elwin.

Tepuk tangan langsung terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Bukan karena istilah oligarki terdengar baru, Justru karena istilah itu terasa akrab dan membuat gelisah di telinga banyak orang yang hadir malam itu.

Di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi dan menguatnya kekuasaan kelompok elite tertentu, sebagian peserta melihat perdebatan mengenai oligarki sebagai sesuatu yang tidak jauh dari kritik-kritik sosial yang pernah disampaikan Bung Karno puluhan tahun lalu.

Bukan Sekadar Mengenang, Tapi Mengorganisasi Gagasan

Kalau diperhatikan lebih dekat, acara malam itu sebenarnya bukan hanya tentang Bung Karno. Yang menarik justru adalah siapa saja yang duduk bersama di bawah satu atap.

Di dalam Front Marhaenis Kota Tangerang terdapat berbagai organisasi yang bergerak di bidang berbeda. Ada GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang selama ini dikenal sebagai organisasi mahasiswa. Ada GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) yang bergerak di kalangan pelajar, Ada PA (Persatuan Alumni) GMNI yang menjadi rumah para alumni. Ada Pergerakan Sarinah yang fokus pada isu perempuan. Ada Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dan Pemuda Demokrat Indonesia yang aktif di kalangan pemuda dan masyarakat akar rumput. Sementara ISRI menjadi wadah para sarjana dan intelektual nasionalis.

Mereka memiliki segmentasi berbeda, bahkan medan perjuangan yang berbeda.

Namun semuanya dipertemukan oleh tiga hal yang sama: Marhaenisme sebagai asas ideologi, Bung Karno sebagai rujukan historis, dan keberpihakan kepada rakyat kecil sebagai orientasi perjuangan.

Kesamaan itulah yang membuat Front Marhaenis lahir.

Aliansi ini tidak dibangun untuk menciptakan organisasi baru. Ia lebih menyerupai ruang temu bagi berbagai kelompok nasionalis yang merasa memiliki akar pemikiran yang sama.

Karena itu, ketika berbicara mengenai Pancasila, mereka tidak melihatnya sebagai hafalan lima sila yang dibacakan saat upacara bendera. Bagi mereka, Pancasila adalah proyek politik yang belum selesai.

Ada dua agenda besar yang terus mereka bawa. Pertama, menjaga Pancasila 1 Juni 1945 sebagai dasar ideologis bangsa. Kedua, memperjuangkan cita-cita Sosialisme Indonesia yang pernah dirumuskan Bung Karno: masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan manusia atas manusia maupun bangsa atas bangsa lain.

Istilah itu mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang, Tetapi di tengah naiknya biaya pendidikan, mahalnya harga kebutuhan pokok, dan kesenjangan ekonomi yang terus melebar, para kader Marhaenis justru merasa istilah tersebut kembali menemukan relevansinya.

Dari Penjara Bung Karno hingga Lagu Fajar Merah

Suasana malam menjadi lebih tenang ketika Sehabis dibacakan teks mengheningkan cipta oleh Sarina Mega lalu dilanjutkan Sarinah Laras dan Sarinah Salsa membacakan refleksi perjalanan hidup Bung Karno.

Mereka mengisahkan bagaimana sang proklamator berpindah dari penjara ke penjara dan dari pengasingan ke pengasingan selama masa perjuangan kemerdekaan.

Salah satu kutipan yang mereka bacakan berasal dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Aku masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan aku meninggalkannya dengan tujuan yang sama.”

Ruangan sempat hening.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup untuk mengingatkan peserta bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang yang nyaman.

Menjelang akhir acara, suasana berubah lebih cair ketika Fajar Merah naik ke atas panggung. Putra mendiang Wiji Thukul itu membawakan sejumlah lagu perjuangan dengan iringan gitar. Beberapa peserta ikut bernyanyi. Sebagian lainnya memilih duduk sambil menikmati kopi yang mulai dingin.

Di luar area acara, diskusi-diskusi kecil masih berlangsung hingga malam semakin larut.

Ada yang membahas Pancasila, Ada yang memperdebatkan demokrasi, Ada pula yang kembali mengangkat soal oligarki Iindonesia saat ini.

Mungkin memang seperti itu cara Bung Karno hidup pada 2026.

Bukan semata-mata lewat patung, nama jalan, atau foto yang tergantung di kantor pemerintahan.

Melainkan lewat perdebatan yang belum selesai tentang bagaimana Indonesia seharusnya dijalankan, siapa yang seharusnya diuntungkan oleh pembangunan, dan apakah rakyat kecil benar-benar sudah menjadi tuan di negeri yang dulu diperjuangkan untuk mereka.

Artikel Lain :

GMNI FMIPA UNESA Soroti Dampak Kenaikan Harga Pertamax pada Diskusi Publik #KamisMarhaenis

Pendapat Tiyo BEM UGM soal SPPG: Benar Keberanian atau Berani Jadi Sensasi?

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Gesuri Terpilih Pimpin GAMKI Kota Tangerang, Siap Satukan Potensi Pemuda Kristen
Anggaran Makan-Minum Rp1,7 Miliar di Kecamatan Pasar Kemis Dipertanyakan
Perusahaan Pengolah Limbah B3 Disorot Usai Dugaan Pembuangan Limbah ke Sungai
Anggaran Sewa Mobil Pejabat Kota Tangerang Disorot, Dugaan Monopoli Vendor Mencuat
Rapimnas PII 2026 di Tangerang, Konsolidasi Nasional Pelajar Islam Hadapi Tantangan Zaman
Wali Kota Tangerang Tinjau BPJS Cimone: Pastikan Layanan Makin Mudah
Camat Batuceper Antar Langsung Anak Terlantar ke Dinas Sosial
Perawat Korban Penusukan di Klinik Gigi Periuk Mulai Pulih, DPRD Minta Kasus Diusut Tuntas

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 14:06 WIB

Coffeshop yang Biasanya Dipakai Nongkrong, Di Tangerang Bung Karno Kembali Dibicarakan

Senin, 22 Juni 2026 - 11:53 WIB

Gesuri Terpilih Pimpin GAMKI Kota Tangerang, Siap Satukan Potensi Pemuda Kristen

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:04 WIB

Anggaran Makan-Minum Rp1,7 Miliar di Kecamatan Pasar Kemis Dipertanyakan

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:39 WIB

Perusahaan Pengolah Limbah B3 Disorot Usai Dugaan Pembuangan Limbah ke Sungai

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:27 WIB

Anggaran Sewa Mobil Pejabat Kota Tangerang Disorot, Dugaan Monopoli Vendor Mencuat

Berita Terbaru

Ilustrasi: Bank Jago / jago.com

Esai

Bagaimana Filsafat Mengajarkan Cara Mengelola Uang?

Senin, 22 Jun 2026 - 13:00 WIB