Belajar Bahasa Prancis Penting, Tapi Belajar Sejarah Revolusi Prancis Lebih Penting

| PENAMARA . ID

Selasa, 2 Juni 2026 - 02:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

“Semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis.”

Begitu kira-kira pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat berkunjung ke Prancis dan bertemu Presiden Emmanuel Macron beberapa waktu lalu. Kalimat itu langsung menarik perhatian publik. Sebagian setuju karena bahasa Prancis memang termasuk bahasa internasional yang berpengaruh dalam dunia diplomasi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sebagian lagi bertanya-tanya, kenapa harus bahasa Prancis?

Saya pribadi tidak punya masalah dengan gagasan itu. Belajar bahasa asing selalu baik. Semakin banyak bahasa yang kita kuasai, semakin luas pula jendela yang terbuka untuk melihat dunia. Lagi pula, bahasa Prancis punya sejarah panjang sebagai bahasa para filsuf, seniman, ilmuwan, dan diplomat.

Namun setiap kali mendengar kata “Prancis”, pikiran saya justru tidak langsung melayang ke Menara Eiffel, croissant, atau kata-kata romantis yang sering muncul dalam film. Yang terlintas justru sebuah penjara tua bernama Bastille yang diserbu rakyat pada 14 Juli 1789.

Mungkin terdengar aneh. Orang lain membayangkan Paris yang indah, saya malah membayangkan revolusi.
Tapi memang itulah salah satu warisan terbesar Prancis bagi dunia.

Kalau bahasa Prancis mengajarkan cara berbicara, Revolusi Prancis mengajarkan apa yang bisa terjadi ketika rakyat merasa tidak lagi didengar. Dan pelajaran itu tampaknya tidak pernah kehilangan relevansinya.

Sejarah sering kali digambarkan sebagai kumpulan peristiwa masa lalu yang sudah selesai. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak peristiwa bersejarah yang sesungguhnya terus hidup dalam bentuk yang berbeda. Nama tokohnya berubah, teknologi berubah, kendaraan berubah, tetapi sifat dasar manusianya tetap sama.

Rakyat tetap ingin hidup layak.
Penguasa tetap ingin mempertahankan kekuasaan. Dan ekonomi tetap menjadi urusan yang paling sensitif dalam hubungan keduanya. Itulah yang terjadi di Prancis pada akhir abad ke-18.

Pada masa itu, Prancis sebenarnya merupakan salah satu negara terkuat di Eropa. Kerajaannya besar, wilayahnya luas, dan pengaruhnya menjangkau banyak negara. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun seperti rumah yang dinding depannya dicat rapi sementara fondasinya mulai retak, masalah besar sedang tumbuh di balik kemegahan tersebut.

Ketika Louis XVI naik takhta pada tahun 1774, kondisi keuangan negara sebenarnya sudah jauh dari sehat. Utang kerajaan menumpuk akibat berbagai perang dan pengeluaran negara yang terus membengkak. Situasi semakin rumit ketika Prancis memutuskan membantu Revolusi Amerika melawan Inggris.

Secara politik, keputusan itu berhasil. Inggris berhasil dipukul mundur dan Amerika memperoleh kemerdekaannya. Tetapi keberhasilan itu harus dibayar sangat mahal. Kas negara terkuras habis. Utang bertambah besar. Pemerintah mulai kesulitan mencari sumber pendapatan baru.

Di sinilah masalah yang lebih serius muncul.

Kalau negara sedang kekurangan uang, solusi yang paling umum tentu menarik pajak. Namun sistem pajak Prancis saat itu jauh dari kata adil. Kaum bangsawan dan pemuka agama menikmati berbagai hak istimewa yang membuat mereka tidak menanggung beban sebesar rakyat biasa.

Sementara itu petani, pedagang, buruh, dan kelompok masyarakat bawah harus membayar sebagian besar kebutuhan negara.

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana, rakyat kecil diminta menutup lubang kapal yang dibuat oleh orang-orang yang duduk nyaman di ruang VIP.

Tidak heran jika kemarahan mulai tumbuh.

Namun keadaan ternyata masih bisa menjadi lebih buruk. Pada tahun 1788, panen gandum mengalami kegagalan besar, Produksi pangan menurun drastis, Harga roti melonjak tajam. Bagi masyarakat modern, kenaikan harga roti mungkin terdengar biasa saja. Tetapi bagi rakyat Prancis saat itu, roti bukan sekadar makanan ringan. Roti adalah kebutuhan pokok yang menentukan apakah sebuah keluarga bisa makan atau tidak pada hari itu.

Ketika harga roti naik, jutaan orang langsung terkena dampaknya, Kelaparan mulai muncul, Kesulitan hidup semakin terasa, Dan dalam situasi seperti itu, rakyat mulai membandingkan hidup mereka dengan kehidupan para elite kerajaan.

Biasanya tidak ada bahan bakar yang lebih mudah menyulut kemarahan selain kesenjangan yang terlihat jelas di depan mata.

Di satu sisi ada keluarga yang kesulitan membeli makanan, Di sisi lain ada istana yang tetap menyelenggarakan pesta.

Di satu sisi ada rakyat yang harus menghemat setiap keping uang. Di sisi lain ada bangsawan yang tetap hidup dalam kemewahan.

Maka muncullah sosok yang kemudian menjadi simbol ketimpangan itu: Marie Antoinette. Sampai hari ini namanya masih sering dikaitkan dengan kalimat terkenal, “Let them eat cake.”

Meski banyak sejarawan meyakini bahwa ia tidak pernah mengucapkan kalimat tersebut, kisah itu telanjur hidup dalam ingatan publik. Dan mungkin memang itu yang menarik. Dalam politik, persepsi sering kali bekerja lebih kuat daripada fakta.

Yang dilihat rakyat saat itu bukan apakah Marie Antoinette benar-benar mengucapkan kalimat tersebut atau tidak. Yang mereka lihat adalah jarak. Jarak antara istana dan rakyat.

Jarak antara kemewahan dan kesulitan.

Jarak antara mereka yang berkuasa dan mereka yang harus menanggung akibat dari setiap kebijakan.

Ketika jarak itu semakin lebar, kepercayaan mulai terkikis. Dan sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang bisa bertahan lama setelah kehilangan kepercayaan rakyat.

Pada Mei 1789, Raja Louis XVI mencoba mencari jalan keluar dengan mengumpulkan wakil-wakil rakyat untuk membahas krisis keuangan negara. Namun langkah itu justru menghasilkan efek yang tidak diharapkan.

Rakyat semakin sadar bahwa masalah yang mereka hadapi bukan sekadar soal utang atau harga pangan.

Mereka mulai mempertanyakan sistem yang selama ini berjalan. Mengapa sebagian orang mendapat hak istimewa?

Mengapa sebagian besar beban justru ditanggung rakyat biasa?
Mengapa suara mereka selama ini tidak pernah benar-benar didengar?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian berkembang menjadi niat roda Revolusi. Dan ketika tuntutan perubahan tidak menemukan jawaban, kemarahan mengambil alih, dan yah roda Revolusi mulai berjalan.

Puncaknya terjadi pada 14 Juli 1789 ketika rakyat menyerbu Penjara Bastille. Peristiwa itu kemudian menjadi simbol dimulainya Revolusi Prancis.

Menariknya, yang membuat Bastille begitu penting bukan jumlah tahanan di dalamnya. Penjara itu sebenarnya tidak berisi banyak orang saat diserbu. Yang membuatnya penting adalah maknanya.

Bastille adalah simbol kekuasaan absolut.

Dan ketika simbol itu jatuh, rakyat seolah ingin mengatakan bahwa mereka tidak lagi takut.

Dari titik itulah sejarah Prancis berubah, Tiga tahun kemudian monarki dihapus. Sebuah kerajaan yang telah berdiri selama berabad-abad runtuh. Dunia memasuki babak baru yang kelak melahirkan gagasan tentang hak-hak warga negara, demokrasi modern, dan kesetaraan di hadapan hukum. Semua itu berawal dari satu hal yang sangat sederhana: krisis ekonomi.

Karena itulah Revolusi Prancis selalu menarik untuk dipelajari. Ia mengajarkan bahwa ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan atau grafik inflasi yang dipresentasikan dalam rapat-rapat resmi. Di balik setiap angka ada manusia, Ada keluarga yang harus membeli makanan, Ada pekerja yang harus mencari nafkah, Ada masyarakat yang berharap hidup mereka sedikit lebih baik dari hari kemarin.

Ketika harapan itu hilang, ketika kesenjangan terasa semakin lebar, dan ketika rakyat merasa suaranya tidak lagi didengar, masalah ekonomi bisa berubah menjadi masalah sosial dan politik yang jauh lebih besar.

Maka saya setuju bahwa belajar bahasa Prancis adalah ide yang baik. Tetapi kalau ada satu pelajaran dari Prancis yang tidak boleh kita lewatkan, itu bukan cara mengucapkan bonjour atau merci.

Melainkan memahami bagaimana sebuah kerajaan yang terlihat begitu kuat ternyata bisa runtuh karena terlalu lama mengabaikan suara rakyat yang kesulitan membeli roti.

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Kenapa 1 Mei Jadi Hari Buruh? Ini Sejarahnya dan Peran Kaum Anarkis
Cara PKI Mencetak Kader-Kadernya Disekolah Politik, Partai dan Organisasi Sekarang Harus Catat Ini sih
Soekarno dalam Ingatan pemimpin Iran Ali Khamenei
Santri Bolos Jadi Presiden: Gus Dur dan Jalan Sunyi Membela Manusia
Perempuan yang Mengukir Sejarah Kepemimpinan
Refleksi Peran Pemuda dalam Sejarah: Belajar dari Era 50-an hingga Revormasi
Revolusi Hijau dan Multikulturalisme Pangan
76 Tahun Tan Malaka Pergi, Madilog Tetap Hidup

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 02:38 WIB

Belajar Bahasa Prancis Penting, Tapi Belajar Sejarah Revolusi Prancis Lebih Penting

Kamis, 30 April 2026 - 20:00 WIB

Kenapa 1 Mei Jadi Hari Buruh? Ini Sejarahnya dan Peran Kaum Anarkis

Kamis, 16 April 2026 - 02:32 WIB

Cara PKI Mencetak Kader-Kadernya Disekolah Politik, Partai dan Organisasi Sekarang Harus Catat Ini sih

Minggu, 22 Maret 2026 - 17:23 WIB

Soekarno dalam Ingatan pemimpin Iran Ali Khamenei

Senin, 2 Februari 2026 - 04:18 WIB

Santri Bolos Jadi Presiden: Gus Dur dan Jalan Sunyi Membela Manusia

Berita Terbaru

Daerah

Mahasiswa UNIS Turut Semarakkan Hari Pancasila

Selasa, 2 Jun 2026 - 02:50 WIB