Bisakah Program MBG jadi Solusi Stunting dan Krisis Gizi Anak?

| PENAMARA . ID

Rabu, 13 Mei 2026 - 00:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi : SerikatNews.com

Ilustrasi : SerikatNews.com

Masalah pada tumbuh kembang anak yang menjadi utama, yaitu malnutrisi. Berdasarkan Survei Satuan Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2024 ada sekitar 2.3 juta anak di enam provinsi — relatif di Pulau Jawa — masih mengalami masalah gizi.

Masalah ini kita dapat kita temui di sekolah, pilihan makanan dan minuman tak sehat [jajanan bebas] yang di dalam maupun lingkungan sekolah, mulai dari jajanan yang tinggi gula sampai makanan kemasan murah yang minim nutrisi dan kaya pengawet.

UNICEF Indonesia menilai, peran sekolah terkadang tidak dominan, serta tanpa pedoman jelas untuk operasional kantin, seperti persiapan makanan yang tidak memadai dan kemampuan sekolah untuk menyediakan pilihan makanan atau minuman aman bagi anak.

Kekurangan gizi atau malnutrisi tidak hanya berdampak pada fisik (seperti stunting [tengkes] atau wasting), tetapi juga menyerang masa depan anak melalui penurunan kemampuan kognitif, seperti: daya ingat yang lemah, sulit fokus saat belajar, kesulitan dalam kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Masalah malnutrisi disini bukan hanya soal lapar. Kondisi akibat kekurangan gizi seperti tengkes disebut tubuh pendek, sedangkan wasting disebut dengan berat badan rendah. Selain dampak pada fisik terhambat, kemampuan otak dan kecerdasan anak pun ikut terganggu.

Berdasarkan masalah ini, maka sedikit banyak membantu sebagian anak dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang sudah di atur sesuai usia mereka.

Hasil dari telaah dari beberapa artikel adalah menjelajahi lebih dalam tentang Masalah pada Tumbuh (Malnutrisi) maupun kembang (Kognitif) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini bukan hanya sekedar anak merasa ‘’yang penting kenyang’’ tetapi apa saja gizi yang anak dapatkan. Kegiatan ini  bisa menjadi memutuskan rantai masalah gizi langsung dari lingkungan sekolah.

Manfaat dari program ini diantaranya, standar gizi yang terukur sesuai usia dengan memastikan seimbangnya nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak maupun vitamin dan lainnya terpenuhi, karena orang tua mungkin belum memahami sepenuhnya gizi yang ada pada beka atau kebutuhan gizi harian anak.

Lalu adanya edukasi pola makanan sehat menjadi sarana belajar bagi  anak tidak hanya makan tetapi mulai mengenal makanan sehat untuk mengubah mindset anak agar lebih memilih makanan bergizi gratis daripada jajanan kemasan yang tidak jelas kandungan gizinya.

Dengan penerima manfaat yang merata akan menghapus kesenjangan antara siswa mampu dan kurang mampu. Setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, berhak mendapatkan akses makanan berkualitas setiap harinya.

Maka penting bagi kita sadar akan masalah gizi itu bukan cuma soal angka di data kesehatan saja, tetapi menjadi taruhan untuk masa depan penerus bangsa kita. Jika anak-anak kekurangan gizi, dampaknya nggak main-main seperti masalah diatas yaitu badan susah tumbuh dan otak jadi lemot buat berpikir.

Program Makan Bergizi Gratis cukup penting agar tidak ada lagi anak yang “layu” sebelum belajar karena lapar. Dengan program ini tidak bisa jalan sendiri, tetapi butuh kerja sama antara sekolah, ortu, sama pemerintah untuk menjaga kualitas makanannya.

Di balik semangat program ini, ada pekerjaan rumah besar yang tidak boleh diabaikan. Pengelolaan MBG yang buruk, mulai dari menu yang tidak memenuhi standar gizi, pengawasan kantin yang lemah, hingga distribusi yang tumpang tindih, bisa mengubah program mulia ini menjadi sekadar proyek seremonial.

Anak-anak Indonesia berhak mendapat lebih dari sekadar makanan yang “cukup untuk foto”. Mereka berhak atas gizi yang benar-benar terukur, diawasi, dan dipertanggungjawabkan. Karena generasi emas tidak lahir dari program yang dikelola setengah hati.

Artikel Lain :

Guru Honorer Masih Tersisa, Disdik Kota Tangerang Sebut jadi PR Nasional

Utang RI Nyaris Rp10 Ribu Triliun, Pemerintah bilang: “Memangnya Kenapa?”

Orang Tua Berhak Protes Soal Menu MBG, DPRD Tangerang: Itu Uang Pajak Rakyat

Penulis : Nayla Sekar Ramadhani

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Berburu Ikan Sapu-Sapu Tidak Selamatkan Sungai Jakarta
Antara Kepatuhan dan Kesadaran; Dilema Risiko di Indonesia
Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam
Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan
Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar
Teror Menguji Keberanian Demokrasi

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 00:44 WIB

Bisakah Program MBG jadi Solusi Stunting dan Krisis Gizi Anak?

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:49 WIB

Berburu Ikan Sapu-Sapu Tidak Selamatkan Sungai Jakarta

Selasa, 28 April 2026 - 00:16 WIB

Antara Kepatuhan dan Kesadaran; Dilema Risiko di Indonesia

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 April 2026 - 19:02 WIB

Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan

Berita Terbaru

Ilustrasi : Linkedin

Sosial

Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:58 WIB