Tajuk Rencana | PENAMARA.ID – Berita bohong atau hoaks, sering berupa informasi palsu, gambar atau video manipulatif, dan berita yang sengaja dipelintir. Tujuan berita untuk menjernihkan malah membuat masyarakat tidak nyaman dan kebingungan.
Konsumsi hoaks menjadikan opini masyarakat bias dalam menarik kesimpulan yang berdasarkan perasaan — suka atau benci — sampai berpotensi menimbulkan kerusuhan dan muncul kelompok masyarakat yang rasis bahkan radikal fanatik.
Pendekatan represif, seperti pemblokiran konten atau penindakan hukum tidaklah cukup. Upaya itu memang penting, namun membangun ketahanan masyarakat melalui literasi lebih dapat menutup lahan subur bagi hoaks tumbuh dan menyebar.
Literasi yang dimaksud tidak sebatas kemampuan membaca, tetapi kecakapan dalam menganalisis sumber, memahami konteks, dan mengevaluasi kebenaran informasi. Sekarang muncul juga istilah kecakapan “literasi digital”.
Pola kognitif ini [literasi digital] dapat mengubah individu dari penerima informasi pasif — yang asal membagikan informasi baik lisan maupun digital tanpa menyaring atau kroscek (validasi) sumber resmi lain — menjadi konsumen yang kritis dan cerdas.
Namun sekali lagi, sekadar kroscek tidak juga cukup. Hampir setiap saran hanya sampai divalidasi pasti sumber secara akurat. Padahal berita bohong sudah ketahap yang lebih halus ke dalam bentuk “kesesatan berfikir” (logical fallacy).
Hoaks tidak lagi hanya mengiris-iris informasi atau memutarbalikkan data dengan argumentasi, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, masyarakat walau sudah membaca ulang berita tetap cepat mengambil kesimpulan atau mengkaitkan sebuah kejadian tunggal demi memuaskan opini mereka.
Inilah juga yang disebut “post-truth”, saat keyakinan pribadi telah mengalahkan fakta kebenaran. Budaya bertutur (dialog khas Indonesia) menjadi ajang pembutian “siapa yang paling benar”. Kekecewaan mendalam masyarakat terhadap pemerintah, media, bahkan para ahli, membuat konspirasi opini lebih nyaman untuk memvalidasi keadaan.
Masyarakat pun bergerak pada kelumpuhak sosial jika literasi tidak ditingkatkan, kelumpuhan ini bukan berhenti beraktivitas, melainkan kita kehilangan kemampuan untuk bergerak bersama secara kolektik — menjauhkan Indonesia dari Gotong Royong.
Energi sosial akhirnya habis untuk hal yang sia-sia atau kontraproduktif, apalagi ditengah geopolitik tidak pernah mendingin, media massa dan media sosial penuh dengan kejadian-kejadian negatif meskipun itu berbasis pada laporan peristiwa.
Upaya melawan hoaks bukan sekadar membenahi informasi, melainkan dibenasi secara holistik dimulai dari cara berpikir dan bertutur bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan media harus bergandengan tangan membangun ekosistem informasi yang sehat, bukan hanya mengejar kecepatan.
Pada level masyarakat, perlu dihidupkan kembali budaya dialog yang sehat, bukan dengan debat yang mengklaim kemenangan. Ruang diskusi di komunitas, warung kopi, lingkungan kerja, hingga rumpi tetangga dapat menjadi laboratorium kecil untuk bernaral sehat.
Dari sana nilai Gotong Royong menemukan kembali masyarakatnya tidak hanya fisik, tetapi juga pikiran. Ketahanan terhadap hoaks bukanlah proyek media atau pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kolektif. Literasi harus dirawat sebagai budaya, bukan dijadikan program triliunan, nantinya lahan subur bagi hoaks akan mengering sendiri.
Artikel Lain :
Antara Kepatuhan dan Kesadaran; Dilema Risiko di Indonesia
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Agnes Monica






