Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

| PENAMARA . ID

Minggu, 19 April 2026 - 02:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Langkah ini disebut sebagai respons atas blokade berkelanjutan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran oleh Washington.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu (1/4/2026), seperti dilansir Al Jazeera, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali “angkatan bersenjata”. Pernyataan itu merujuk pada blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan Iran yang masih berlangsung.

“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata,” kata komando gabungan IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim News Agency.

IRGC menegaskan hingga AS “memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran”, situasi di Selat Hormuz akan tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak berubah.

Di tengah situasi tersebut, ketegangan di lapangan turut meningkat. Sebuah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mengalami serangan saat melintasi Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan CNN pada Sabtu. Insiden itu terjadi tak lama setelah militer Iran menyatakan pembatasan kembali diberlakukan di jalur air vital tersebut, dengan alasan “pelanggaran kepercayaan berulang” oleh AS.

Pernyataan IRGC ini muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat menyatakan bahwa Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” bagi seluruh kapal komersial.

Keputusan itu diambil “sejalan dengan gencatan senjata di Lbanon,” ujarnya melalui platform media sosial X.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan situasi yang berubah cepat. Hingga Sabtu pukul 10.30 GMT, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas tercatat melintasi selat tersebut. Di sisi lain, jumlah kapal yang hampir sama dilaporkan berbalik arah setelah mulai meninggalkan Teluk Persia, menandakan meningkatnya kehati-hatian pelaku pelayaran.

Penutupan kembali Selat Hormuz ini sekaligus meredupkan optimisme Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sehari sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran “sudah sangat dekat”.

Trump sebelumnya menyambut pembukaan kembali selat itu pada Jumat, namun tetap menegaskan bahwa blokade terhadap Iran akan berlanjut hingga Teheran menyetujui kesepakatan, termasuk terkait program nuklirnya.

“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya,” kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One mengenai perjanjian gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada Rabu pekan depan. “Jadi akan ada blokade, dan sayangnya kami harus mulai menjatuhkan bom lagi.”

Saat ditanya kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat, Trump menyatakan, “Saya pikir itu akan terjadi.”

Di sisi lain, Iran menyatakan belum ada jadwal yang disepakati untuk putaran lanjutan pembicaraan damai. Teheran juga menuduh AS telah “mengkhianati” proses diplomasi dalam setiap negosiasi yang berlangsung.

Ketidakpastian informasi mengenai status Selat Hormuz turut memperburuk situasi di sektor pelayaran global. Laporan yang saling bertentangan membuat banyak kapal memilih menunda atau membatalkan pelayaran melintasi jalur strategis tersebut.

“Kapal-kapal telah mencoba melintasi selat tersebut sejak pengumuman itu, tetapi tampaknya banyak dari mereka kembali karena situasinya tidak jelas,” kata John-Paul Rodrigue, spesialis pelayaran maritim di Universitas Texas A&M, kepada Al Jazeera. “Ada informasi yang saling bertentangan yang dikeluarkan oleh semua pihak.”

Konflik ini berakar dari eskalasi militer pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah negara di kawasan yang menampung aset militer AS, yang diklaim sebagai bentuk pertahanan diri.

Sejak 8 April, konflik berada dalam fase jeda setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan. Meski demikian, situasi tetap rapuh.

Upaya diplomasi terus dilakukan. Washington dan Teheran telah menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan lalu guna mengupayakan perdamaian jangka panjang. Sementara itu, rencana pertemuan lanjutan di Islamabad masih dalam tahap penjajakan.

Penulis : Pujiawan

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Perlawanan Masyarakat AS atas Pergeseran Demokrasi ke Otokrasi
Adakah Potensi Perang Dunia?
Mampukah Indonesia Damaikan Perang AS-Israel dan Iran?
Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India
Gustavo Petro dan Keberanian Diplomasi: Antara Solidaritas dan Risiko
Ketergantungan Negara terhadap Investasi Asing
Jalan sempit Greenback untuk BRICS
NATO, Putin-Jinping, dan Trump 2.0

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 02:16 WIB

Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

Senin, 30 Maret 2026 - 09:29 WIB

Perlawanan Masyarakat AS atas Pergeseran Demokrasi ke Otokrasi

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:37 WIB

Adakah Potensi Perang Dunia?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:26 WIB

Mampukah Indonesia Damaikan Perang AS-Israel dan Iran?

Minggu, 21 Desember 2025 - 18:23 WIB

Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India

Berita Terbaru

Global

Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:16 WIB

Nasional

BBM Nonsubsidi Melonjak: Pertamax Turbo Tembus Rp19.400

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:09 WIB