Persaingan ekonomi antara Eropa [NATO/EU], Rusia-Tiongkok, dan Amerika Serikat (AS), menjadi permulaan pada tahun ini. Dari upaya frontal Presiden AS Donald Trump yang diucap sejak kampanye sampai pelantikan pada selasa (21/1) lalu benar diwujudkan, dengan konsep ekonomi garis keras yang dinamai “America First”, telah merubah situasi ekonomi global.
Secara transparan, AS memulai ancaman kepada negara tetangga – Kanada dan Meksiko – dengan penambahan 25% tarif impor, lalu ingin mengganti nama “Teluk Meksiko” menjadi “Teluk Amerika”, dan mengontrol Terusan Panama dengan perjanjian lama “Torrijos Carter”; serta
Memutus kerja sama transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) bersama Denmark sembari mendesak agar Greenland dilepas [jual] kepada AS. Ancaman sanksi ekonomi dan perdagangan juga ditujukan bagi negara yang tidak menerima repatriasi [pemulangan] paksa imigran ilegal mereka di AS— semua tampak menerima.
Deportasi Imigran yang “Bukan Penjahat”
AS berharap “semua negara menerima pemulangan warga negara mereka yang berada di Amerika Serikat secara ilegal,” kata juru bicara Gedung Putih, Brian Hughes. Tiongkok pun menyampaikan kesediaannya atas pemulangan warga yang “terverifikasi [benar] berasal dari daratan Tiongkok,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, dikutip dari Reuters.
Sedangkan menurut sumber Bloomberg.com, AS telah mengidentifikasi ada sekitar 18 ribu imigran India yang tak berdokumen untuk di pulangkan. AS tampaknya tegas pada setiap negara, meski istri dari JD Vance merupakan imigran dari India juga, Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi— tampak dapat meredam sedikit.



Lalu setelah mengancam akan mengenakan 25% dan dalam satu minggu dinaikan kembali menjadi 50% tarif impor oleh Presiden AS Trump, Kolombia yang awalnya menolak pemulangan 200 imigran ilegal, akhirnya Presiden Gustavo Petro menerima pemulangan warga negaranya,
di antaranya ada 20 anak-anak, dan “mereka bukan penjahat,” kata Menteri Luar Negeri Kolombia, Luis Gilberto Murillo dalam penyataan vidio yang diunggah di X [twitter], dan beberapa jam kemudian, menyampaikan vidio ucapan pemunduran diri dari jabatannya.
Sengatan Listrik di Laut Baltik
Konflik sembunyi-sembunyi dilancarkan ke laut Baltik, negara-negara yang jago akan inovasi dan teknologi ini, mengalami kerusakan pada saluran telekomunikasi atau kabel optik dasar laut, dan beberapa di antaranya terputus diduga diseret jangkar kapal-kapal.
Kremlin [pusat kota Moskow, Rusia] “telah menjalankan kampanye hibrida [serangan ganda] terhadap Eropa selama bertahun-tahun, mulai dari menyebarkan disinformasi [hoax] dan serangan siber hingga mempersenjatai pasokan energi. Sejak Invasi Rusia ke Ukraina,” kata Perwakilan Tinggi Uni Eropa (UE/EU) yang juga mantan PM Estonia (2021-2024), Kaja Kallas di FoxNews.com, (14/1).
Tak cuma curiga pada Rusia, pada Oktober 2023, kapal NewNew Polar Bear milik Tiongkok, ditemukan “menyeret jangkar”, dan merusakan dua kabel optik dasar laut, bahkan pipa gas Balticconnector, jalur energi dan arus informasi penting yang menghubungkan Swedia dan Estonia— Semenanjung Skandinavia dengan negara-negara Baltik.
Hal serupa kembali terjadi pada November 2024, dua kabel optik dasar laut Baltik “putus”, oleh angkatan laut Denmark ditemukan kapal Tiongkok yang dijuluki Yi Peng 3 dan dipaksa berlabuh di tengah laut menunggu otoritas internasional menyelidiki insiden itu.


Hingga sekarang sudah 11 kabel optik dasar laut yang rusak, dan terbaru terjadi pada jalur hubung antara Latvia dengan pulat Gotland di Swedia, terjadi hari minggu (26/1) kemarin. Diindikasi kapal Vezhen milik Bulgaria, Aleksander Kalchev, pimpinan perusahaan Vezhen, membantah kejadian itu disengaja.
Dilain sisi “DeepSeek” (aplikasi kecerdasan buatan Tiongkok) telah membalap tipis ChatGPT milik AS. Sebagaimana yang disampaikan diawal [ketegangan Denmark-AS]— posisi Nordik dan Baltik seakan dalam jepitan Liberal-Amerika secara ekonomi dan disabotase Komunis-Asia dari bawah laut.
Peristiwa nakal ini membuat NATO makin bersiaga dengan unjuk kehadiran militer sejak tiga minggu lalu dengan patroli dan menelusuri kapal-kapal yang hilang jangkarnya. Akankah Eropa melakukan pembatasan untuk perdagangan Tiongkok serta— Rusia yang juga telah menghentikan sumber ekspor gasnya sehingga mendampak rugi untuk Eropa
Bagi Tiongkok, mempersempit kawasan perdagangannya, dimana AS jelas hendak menambah tarik impor untuk barang-barang mereka. Ketegangan ini hanya memperumit masyarakat secara global, terutama negara yang dalam gesekan politik dalam negeri seperti Jerman, Prancis, dan Kanada.
Meski sedang dalam keadaan kurang stabil tersebut, Paris dan Berlin masih menyerukan penolakan atas pemindahan warga Palestina di Gaza ke mana pun oleh Presiden AS Trump.
“Posisi Prancis tidak berubah: pemindahan paksa penduduk Gaza tidak dapat diterima,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis. Begitu juga yang disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman, Christian Wagner, “Penduduk Palestina tidak dapat diusir dari Gaza, dan Gaza tidak boleh diduduki atau bermukim kembali secara permanen oleh Israel.”
Setelah itu Presiden AS Trump mengumumkan bahwa barang-barang dari Eropa juga akan dikenakan “Tarif sepenuhnya”. “Uni Eropa telah memperlakukan kami dengan sangat buruk,” keluh Trump kemarin.

· · ·
Indonesia sendiri dikutip dari fakta.com, telah ada koordinasi antara pihak Kedutaan Besar RI dengan pihak imigrasi dan bea cukai AS (Immigration Custom Enforcement/ICE), hasilnya ada sekitar 120 ribu WNI tak terdaftar, mereka bertahun-tahun hidup cukup di negeri orang daripada harus sengsara di negeri sendiri.
Dari sana negara-negara harusnya belajar kembali dalam menjamin hak hidup layak, sebagai pendekatan yang paling dekat untuk mengatasi masalah selundup-menyelundupi ini, hal yang sudah ditorehkan pada kertas-kertas yang bernama “konstitusi”— lawan kata yang tepat untuk “kemanusiaan”.
Konflik laut juga tidak hanya merugi dan membuang-buang makin banyak waktu, untuk tujuan yang tak tentu dari Rusia dan Tiongkok. Konflik langsung tidak dapat menguji apa-apa selain mengganggu ketenangan orang-orang biasa.
Untuk apa juga perseteruan ganas oleh AS, demi wilayah dan sumber daya. Bagaimana tidak melimpahnya sumber mandiri AS yang dikelilingi tetangga kaya. Seperti suplay minyak jika hanya dari Kanada, Meksiko, dan Rusia, sudah mencukupi lebih dari setengah kebutuhan mereka— betul-betul negara yang terberkati Tuhan.
Artikel Lain : AS dengan Trump yang Agresif, Bagaimana Indonesia Bersikap?
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Redaktur






