Sering Resign Sebuah Paradoks Gen Z di Dunia Kerja

| PENAMARA . ID

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: freepik.com

Ilustrasi: freepik.com

Baru kerja, udah keluar. Akhir-akhir ini sering diidentikkan dengan Gen Z — yang belum setahun udah pindah lagi. Dari luar, kelihatannya “kurang komitmen atau enggak tahan tekanan”. Tapi, kalau dipikir lagi, apa iya sesimpel itu?

Kalau dari sudut pandang Gen Z sendiri, yang mana mereka tumbuh di era digital dan informasi menjadi sangat gampang untuk di akses. Mau tau gaji standar, informasi perusahaan, sampai budaya di dalam dunia pekerjaan? — ya tinggal di “googling“.

Ketika kerjaannya dirasa udah gak sesuai ekspetasi atau dianggap “toxic“, tanpa ragu-ragu mereka langsung berani mengambil keputusan buat resign.

Cara Gen Z memandang kerja juga berbeda — bagi mereka kerja buka cuma soal jadi — tapi tentang kesehatan mental, waktu istirahat, dan kehidupan lain diluar kerjaan. Kalau kerjaan mulai bikin hidup terasa berat, mereka langsung mikir “ini worth it [sepadan] gak ya buat dipertahanin?”

Banyak Gen Z merasa kerjaan mereka itu harus ada dampak atau minimal bikin mereka berkembang. Kalau tiap hari cuma ngerjain hal yang sama tanpa arah jelas, rasa jenuh bisa datang lebih cepat. Dalam titik itu, resign sering jadi pilihan.

Mungkin rasa gak nyaman bukan berarti kita harus “langsung pergi”. Dunia kerja, emang enggak selalu enak, disana justru ada proses adaptatif, capek, dan momen di mana kita ngerasa stuck [terjebak]. Justru disitu biasanya kita banyak belajar.

Kalau sedikit-sedikit ingin keluar tanpa memahami situasi, bisa jadi kita hanya lari dari masalah yang sebenarnya perlu dihadapi. Jadi mungkin, ini bukan soal Gen Z yang terlalu “apa-apa resign“. Tapi lebih ke banyaknya informasi yang sampai ke Gen Z lalu dijadikan pembanding — tanpa ada niat untuk merubah atau menghadapinya sendiri.

Perilaku dari Gen Z yang cenderung buru-buru dan berani memilih meski dalam resiko yang belum dipertimbangkan — merasa enggan terjebak di situasi yang dianggap “nanti” merugikan — sembagi menciptakan situasi imajiner untuk bertahan dan beradaptasi.

Resign itu bukan salah atau benar, yang penting adalah kita tahun kenapa untuk pergi dan ke mana melangkah setelahnya.

Jadi Gen Z yang “cepat resign” sebenarnya bukan soal ketidaksabaran, tapi tentang cara dalam melihat dunia kerja. Mereka lebih ingin mempunyai keseimbangan antara kehidupan privat dan kehidupan publik — mencari lingkungan yang lebih sehat dan sesuai adalah tren umum di generasi ini.

Meski begitu, penting juga untuk tetap punya keseimbangan. Nggak semua masalah harus dihindari, dan nggak semua ketidaknyamanan berarti kita berada di tempat yang salah. Kadang, justru dari proses bertahan dan beradaptasi itulah kita tumbuh. Pada akhirnya, resign bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang kesiapan.

Artikel Lain :

Gagal Jadi Tentara, Justru Menemukan Panggilan Hidup di Kelas Anak Berkebutuhan Khusus

Menyerah Bukan Kelemahan, Tapi Keberanian yang Tak Diajarkan

Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan

 

Penulis : Febri Hadi Tristiono

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Gagal Jadi Tentara, Justru Menemukan Panggilan Hidup di Kelas Anak Berkebutuhan Khusus
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:13 WIB

Sering Resign Sebuah Paradoks Gen Z di Dunia Kerja

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:10 WIB

Gagal Jadi Tentara, Justru Menemukan Panggilan Hidup di Kelas Anak Berkebutuhan Khusus

Berita Terbaru

Ilustrasi: freepik.com

Senggang

Sering Resign Sebuah Paradoks Gen Z di Dunia Kerja

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:13 WIB