Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan Bukit Daun Hotel and Resort, Bukit Daun Hotel and Resort, Sabtu (9/5). Puluhan pria mengenakan jas hitam, kemeja hitam, celana hitam hingga sepatu vantoufel tampil layaknya kelompok Yakuza di Jepang. Penampilan mereka sontak menyita perhatian publik yang hadir dalam deklarasi organisasi bernama Yakuza Maneges.
Organisasi sosial dan dakwah tersebut didirikan sejumlah tokoh di Kediri, Jawa Timur, termasuk para gus atau putra kiai. Inisiator sekaligus pendirinya, Thuba Topo Broto Maneges atau Den Gus Thuba, menegaskan nama “Yakuza” yang dipakai bukan merujuk pada kelompok kriminal Jepang, melainkan memiliki filosofi spiritual.
“Yakuza yang awalnya kotor ujungnya zuhud abadi,” ujar Gus Thuba saat dikonfirmasi, Senin (11/5).

Menurutnya, Yakuza Maneges menjadi wadah bagi orang-orang yang pernah terjerumus dalam kehidupan kelam namun ingin memperbaiki diri dan kembali ke jalan agama.
“Ini tempat bagi saudara-saudara kita yang sering disebut santri jalur kiri. Mereka pernah tersesat, jatuh dalam dosa berat, tapi masih punya niat untuk berubah menjadi pribadi yang bermanfaat,” katanya.
Gus Thuba menjelaskan, organisasi tersebut bergerak di bidang dakwah, sosial, hingga pendampingan masyarakat. Yakuza Maneges juga disebut berada di bawah naungan Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang didirikan almarhum KH Hamim Jazuli.
“Nilai utama organisasi ini adalah menanamkan spiritualitas yang dulu diajarkan Gus Miek kepada kaum marginal,” ungkapnya.
Ia memastikan Yakuza Maneges tidak memiliki afiliasi politik dan mendukung aparat penegak hukum. Organisasi itu juga mengaku siap membantu masyarakat yang menghadapi persoalan hukum maupun sosial.
“Kami tidak berseberangan dengan negara. Kami hadir untuk berjalan bersama aparat penegak hukum,” tegas Gus Thuba.
Dalam visinya, Yakuza Maneges ingin menjadi pembela masyarakat kecil sekaligus pengawal moral di tengah masyarakat.
“Penjaga yang lemah, pembela yang benar, pembenah yang salah,” katanya.
Deklarasi tersebut turut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati. Ia mengaku nama “Yakuza” cukup mengejutkan karena identik dengan mafia Jepang. Namun menurutnya, Gus Thuba berhasil memberi makna berbeda melalui pendekatan dakwah.
“Tidak banyak orang berani memakai nama Yakuza. Tapi di tangan Gus Thuba, nama itu justru membawa semangat merangkul orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik,” ujar Vinanda.
Ia berharap keberadaan Yakuza Maneges bisa ikut membantu pemerintah dalam membangun Kota Kediri yang maju, agamis, produktif, aman, dan ngangeni.
Penulis : Pujiawan
Editor : Redaktur






