Perlawanan Masyarakat AS atas Pergeseran Demokrasi ke Otokrasi

| PENAMARA . ID

Senin, 30 Maret 2026 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang perempuan berdandan seperti Patung Liberty ikut serta dalam protes

Seorang perempuan berdandan seperti Patung Liberty ikut serta dalam protes "No Kings" di Prancis (Foto AP: Aurelien Morissard)

Gelombang gerakan tak terbendung lagi, masyarakat AS mengecam segala langkah agresif Donald Trump: dari deportasi dan kekerasan oleh ICE (Lembaga Penegakan Imigrasi), pemotongan pada layanan publik (pendidikan dan jaminan sosial), hingga perang Iran yang sekarang jadi beban geopolitik baru bagi AS.

Ini angka baru dalam sejarah AS, sekitar 8 juta manusia bergerak serempak pada 28 Maret kemarin di lebih dari 3.300 titik, dari kota megapolitan sampai sudut-sudut pedalaman Alaska. Mereka membawa satu pesan utama: “No Kings”.

Gerakan sebesar ini tidak bisa sekadar direduksi sebagai sentimen anti-Trump atau reaksi emosi partisan. Apa yang diisukan adalah konkret dari jejak peristiwa dengan korban nyata — Twins Cities Minnesota dipilih sebagai lokasi utama gerakan, kota tewasnya Renée Good dan Alex Pretti akibat kebihakan imigrasi yang dijalankan secara represif oleh petugas ICE.

Frustasi ekonomi juga menjadi sorotan di tengah ketegangan militer di kawasan Asia Timur. “Kita melihat kenaikan harga bensin dan bahan makanan, sementara terjadi perang ilegal di Iran,” kata Sarah Parker, koordinator salah satu kelompok demonstran di lansir dari NBCnews.com.

Rasanya gejolak dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang konflik di luar batas wilayah saja. Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpuasan publik, keterlibatan pada konflik kawasan Asia Timur memperdalam krisis bagi stabilitas AS sendiri.

Isu ini juga mendominasi papan demonstran di New York dan Los Angeles — perang Iran — Trump dianggap memulai operasi militer terhadap Iran tanpa deklarasi formal dari Kongres AS, sebuah langkah yang melampaui kewenangan pemerintah eksekutif dengan tujuan yang bergeser minggu ke minggu.

Framing ‘raja’ digambarkan demonstran kepada kekuasaan yang melampaui norma konstitusional. Sebuah narasi dari mata yang melihat biaya hidup yang naik, dari pemikiran yang kehilangan dana riset, dan militer di jalanan kota.

Selama beberapa dekade, AS telah memposisikan diri sebagai wasit demokrasi global dengan menggunakan narasi “pelindung demokrasi” untuk membenarkan intervensi di negara-negara lain, termasuk di kawasan kita sendiri — Asia Tenggara.

No Kings adalah ironi dari kondiri yang selama ini dianggap sebagai masalah eksklusif negara berkembang [pengerahan militer untuk urusan sipil, penyempitan ruang kebebasan sipil, konsentrasi kekuasaan di poros eksekutif], kini terjadi di jantung yang mengklaim diri sebagai tatanan liberal dunia.

Ini bukan tanda demokrasi di AS sedang runtuh. Tetapi tanda demokrasi di mana pun adalah system yang selalu rentan, dan bisa dipertahankan melalui partisipasi aktif masyarakat yang mau meluangkan waktu, mengambil risiko, dan berani mengatakan kepada tirani untuk “sampai di sini saja”.

Artikel Lain :

NATO, Putin-Jinping, dan Trump 2.0

Jalan sempit Greenback untuk BRICS

 

Penulis : Devis Mamesah

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Adakah Potensi Perang Dunia?
Mampukah Indonesia Damaikan Perang AS-Israel dan Iran?
Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India
Gustavo Petro dan Keberanian Diplomasi: Antara Solidaritas dan Risiko
Ketergantungan Negara terhadap Investasi Asing
Jalan sempit Greenback untuk BRICS
NATO, Putin-Jinping, dan Trump 2.0
AS dengan Trump yang Agresif, Bagaimana Indonesia Bersikap?

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 09:29 WIB

Perlawanan Masyarakat AS atas Pergeseran Demokrasi ke Otokrasi

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:37 WIB

Adakah Potensi Perang Dunia?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:26 WIB

Mampukah Indonesia Damaikan Perang AS-Israel dan Iran?

Minggu, 21 Desember 2025 - 18:23 WIB

Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India

Jumat, 10 Oktober 2025 - 00:13 WIB

Gustavo Petro dan Keberanian Diplomasi: Antara Solidaritas dan Risiko

Berita Terbaru

Gambar : Depositphotos.com

Sosial

Mimpi Masa Kecil Bukan Tujuan, Melainkan Petunjuk

Rabu, 8 Apr 2026 - 17:36 WIB