Gen Z Tangerang Pilih PDIP Sebagai Partai Perjuangan dan Ideologi

| PENAMARA . ID

Minggu, 24 Mei 2026 - 22:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ari Sujatmiko/PENAMARA

Foto : Ari Sujatmiko/PENAMARA

Dunia politik yang selama ini identik dengan wajah-wajah senior perlahan mulai berubah. Di Kota Tangerang, perempuan dan anak muda mulai muncul ke permukaan, bukan sekadar jadi penonton rapat atau penggembira acara partai, melainkan ikut duduk di struktur organisasi dan bicara soal idealisme, demokrasi, sampai harapan terhadap masa depan politik.

Pemandangan itu terlihat saat DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang melantik ratusan pengurus ranting se-Kota Tangerang di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang, Kompleks Ruko Mahkota Mas, Cikokol, Kecamatan Tangerang, Sabtu (23/5).

Pelantikan yang berlangsung selama dua hari hingga Minggu (24/5), itu menjadi bagian dari konsolidasi organisasi partai banteng moncong putih menuju kontestasi politik 2029. Total ada 936 pengurus ranting dari 104 kelurahan di 13 kecamatan yang dilantik.

Di tengah barisan pengurus baru itu, muncul nama-nama anak muda yang usianya bahkan masih dekat dengan masa kuliah. Salah satunya Nanda Ingzurli (23), mahasiswa Universitas Pelita Bangsa yang kini dipercaya menjadi sekretaris pengurus ranting.

Bagi Nanda, politik bukan sekadar soal rebutan kursi atau adu baliho di musim pemilu. Ia melihat politik sebagai ruang belajar memahami masyarakat sekaligus tempat memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.

“Saya melihat PDI Perjuangan sebagai partai yang mendengarkan suara rakyat, termasuk suara perempuan dan masyarakat kecil. Itu yang membuat saya tertarik untuk belajar dan berkembang di sini,” ujar Nanda usai pelantikan.

Nanda mengaku keterlibatan perempuan di dunia politik masih perlu diperkuat. Menurut dia, banyak isu perempuan yang sering kali tidak benar-benar terdengar karena minimnya keterwakilan perempuan dalam pengambilan kebijakan.

“Perempuan-perempuan jangan takut terlibat di dunia politik. Kita harus lebih aktif menyuarakan hak-hak perempuan agar semakin terdengar dan diperhatikan,” katanya.

Di usia yang masih muda, Nanda sadar dirinya masih banyak belajar memahami dinamika organisasi dan kerasnya dunia politik. Tetapi justru dari situ ia merasa proses berpartai menjadi menarik.

“Semoga dengan amanah baru ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif untuk partai maupun masyarakat,” ujarnya.

Ia juga berharap partai tempatnya berproses bisa tetap menjaga kedekatan dengan masyarakat.

“Harapannya tentu partai ini semakin baik ke depannya dan tetap menjadi partai yang selalu hadir di hati rakyat,” kata dia.

Suara serupa juga datang dari Ageng Tri Arjuna (21), mahasiswa Universitas Budi Luhur asal Kelurahan Kreo yang kini menjabat wakil ketua pengurus di wilayahnya.

Ageng mengaku mulai aktif berpartai sejak 2025. Ketertarikannya pada PDI Perjuangan muncul dari lingkungan keluarga sekaligus keyakinannya terhadap arah perjuangan partai tersebut.

“Saya memilih PDI Perjuangan karena saya melihat partai ini memiliki arah perjuangan yang jelas, ideologi yang kuat, dan kedekatan dengan masyarakat. Selain itu, keluarga saya juga sejak lama mengenal nilai-nilai perjuangan partai ini,” kata Ageng.

Di tengah banyaknya anak muda yang memilih menjaga jarak dari politik, Ageng justru berpandangan sebaliknya. Menurut dia, generasi muda tidak bisa terus-menerus hanya menjadi komentator media sosial yang sibuk mengeluh tetapi enggan terlibat.

“Anak muda perlu terlibat langsung dalam politik agar memahami proses pengambilan kebijakan publik. Dari situ kita belajar tentang organisasi, kepemimpinan, dan bagaimana memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak alergi terhadap politik. “Pesan saya untuk anak-anak muda, jangan alergi terhadap politik. Pilihlah pemimpin dan partai yang memiliki arah perjuangan jelas serta benar-benar dekat dengan rakyat,” ucapnya.

Ageng berharap kehadiran kader muda di tubuh partai tidak berhenti sebatas formalitas struktur organisasi, tetapi benar-benar bisa memperkuat kerja politik hingga tingkat bawah.

“Harapannya tentu kami bisa semakin solid dan mampu memenangkan hati masyarakat melalui kerja-kerja nyata di tengah rakyat,” katanya.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang, Gatot Wibowo, mengatakan regenerasi kader memang menjadi fokus partainya dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, pelibatan perempuan dan generasi muda bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan kebutuhan organisasi.

“Ini bagian dari proses regenerasi kader. Karena bagaimanapun partai kader adalah partai yang selalu melahirkan kader-kader potensial. Proses regenerasi itu sudah kami mulai sejak Konfercab, Musancab, hingga hari ini Musran,” ujar Gatot.

Ia menyebut PDI Perjuangan juga mewajibkan keterwakilan perempuan dalam setiap jenjang kepengurusan, termasuk membuka ruang bagi kader Gen Z.

“Kami selalu melibatkan Gen Z dan mengingatkan bahwa kuota 30 persen perempuan itu wajib di setiap jenjang struktur. Sekurang-kurangnya ada satu perwakilan Gen Z di setiap struktur. Kebinekaan juga harus menjadi perhatian agar PDI Perjuangan menjadi rumah besar kaum nasionalis,” katanya.

Di tengah citra politik yang sering dianggap tegang, penuh intrik, dan bikin orang cepat emosi di kolom komentar, Gatot justru mendorong konsep “politik riang gembira”.

Menurut dia, partai seharusnya menjadi ruang silaturahmi dan penguatan kader, bukan arena saling menjatuhkan.

“Ketika kita sudah sepakat di bawah naungan PDI Perjuangan dan ideologi Pancasila, maka berpartai itu harus dibawa riang gembira. Partai ini menjadi ajang silaturahmi, konsolidasi, dan penguatan mental kader,” ujarnya.

Gatot mengakui dinamika dan perbedaan pendapat dalam organisasi tidak mungkin dihindari. Namun ia meminta seluruh persoalan tetap diselesaikan lewat mekanisme partai.

“Kalau ada ketidakpuasan atau selisih pendapat itu biasa dalam organisasi. Tetapi selesaikan di atas meja organisasi, jangan dibawa perasaan. Saya selalu mengajak teman-teman berpartai itu dibawa enak saja,” katanya.

Artikel Lain :

Spanduk Minta Maaf UGM Sebagai Simbol Keberanian atau Romantisme Perlawanan yang Steril?

Tantangan Mahasiswa Baru: Membangun Karakter, Berpikir Kritis, dan Kesadaran Sosial

Berita Terkait

Rapimnas PII 2026 di Tangerang, Konsolidasi Nasional Pelajar Islam Hadapi Tantangan Zaman
Wali Kota Tangerang Tinjau BPJS Cimone: Pastikan Layanan Makin Mudah
Camat Batuceper Antar Langsung Anak Terlantar ke Dinas Sosial
Perawat Korban Penusukan di Klinik Gigi Periuk Mulai Pulih, DPRD Minta Kasus Diusut Tuntas
Pria 23 Tahun Lompat ke Sungai Cisadane Tangerang, BPBD Melakukan Pencarian
Forum Potensi Tangsel Gelar Monitoring Sungai Ciputat, Petakan Titik Rawan Banjir
Keluhan soal Parkir Liar Akhirnya Direspons dan Dalam Tahap Uji Coba Akhir Pekan
Baru Menjabat, Kajari Kota Tangerang Bongkar Dugaan Korupsi Sewa Pesawat Rp5,4 Miliar

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:00 WIB

Rapimnas PII 2026 di Tangerang, Konsolidasi Nasional Pelajar Islam Hadapi Tantangan Zaman

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:53 WIB

Camat Batuceper Antar Langsung Anak Terlantar ke Dinas Sosial

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:27 WIB

Perawat Korban Penusukan di Klinik Gigi Periuk Mulai Pulih, DPRD Minta Kasus Diusut Tuntas

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:41 WIB

Pria 23 Tahun Lompat ke Sungai Cisadane Tangerang, BPBD Melakukan Pencarian

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:16 WIB

Forum Potensi Tangsel Gelar Monitoring Sungai Ciputat, Petakan Titik Rawan Banjir

Berita Terbaru