PENAMARA.id — Dalam setiap denyut sebuah negeri, selalu ada kekuatan yang tidak selalu terdengar, namun justru paling menentukan, ia adalah perempuan. Mereka bukan hanya pengasuh generasi, tetapi penopang nilai, penjaga akhlak, dan penggerak perubahan sosial. Karena itu, tidak berlebihan ketika perempuan disebut sebagai tiang negeri, sebab dari keteguhan dan kecerdasan merekalah sebuah bangsa menemukan keseimbangan dan arah.
Perempuan menjadi madrasah pertama bagi manusia, namun pengaruh mereka tidak berhenti di pangkuan. Ketika perempuan terlibat dalam pendidikan, ekonomi, budaya, dan kepemimpinan, negeri mendapat kekayaan perspektif yang tidak bisa digantikan. Kehadiran perempuan bukan sekadar pelengkap sistem, melainkan unsur inti yang menentukan kualitas masyarakat.
Namun, di balik penghargaan itu masih ada kenyataan yang harus diakui. Banyak perempuan tetap berhadapan dengan batas-batas yang tidak mereka pilih, seperti tekanan budaya, stereotip, hingga kebijakan yang tidak sensitif pada kebutuhan mereka. Di sinilah muncul ketegangan yang nyata. Perempuan memiliki kapasitas, tetapi seringkali ruangnya belum benar-benar terbuka. Konflik antara potensi dan pembatasan itulah yang menandai perjuangan perempuan hingga hari ini.
Perempuan memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan laki-laki, dan keinginan mereka tidak boleh dibatasi hanya karena jenis kelamin. Namun kesetaraan bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya. Ia tidak tercipta hanya karena perempuan bersuara, atau hanya karena laki-laki memberi ruang. Kesetaraan adalah hasil dari proses bersama, yang fondasinya adalah dialog yang sungguh-sungguh.
Dialog menjadi penting karena laki-laki dan perempuan hidup dalam sistem sosial yang sama, namun membawa pengalaman yang berbeda. Laki-laki tidak selalu sadar akan beban yang dipikul perempuan, seperti ekspektasi ganda antara rumah dan pekerjaan, atau ruang publik yang tidak selalu aman bagi mereka. Sebaliknya, perempuan pun tidak selalu mengetahui tekanan yang dialami laki-laki sebagai pencari nafkah, penjaga stabilitas, atau korban standar maskulinitas yang mengekang. Tanpa dialog, kedua pihak berjalan dengan asumsi masing-masing. Dengan dialog, mereka bertemu pada landasan yang sama: saling memahami, bukan saling menuntut.
Dialog yang sehat bukanlah percakapan yang bertujuan menang, melainkan percakapan yang bertujuan mengerti. Ia lahir dari keberanian untuk mendengar, bukan sekadar menjawab. Dalam dialog demikian, perempuan dapat menyampaikan pengalamannya tanpa takut dianggap berlebihan, sementara laki-laki dapat mengungkapkan pandangannya tanpa harus menegaskan dominasi. Dialog yang sehat menempatkan keduanya sebagai mitra, bukan lawan, akan tetapi sebagai pendamping, bukan pesaing.
Bentuk dialog ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, misalnya, kesetaraan tumbuh ketika suami dan istri membagi peran berdasarkan kemampuan dan kesepakatan, bukan tradisi semata. Di lingkungan sosial, dialog hadir ketika laki-laki bersedia mempertimbangkan perspektif perempuan dalam pengambilan keputusan, dan perempuan diberi otoritas untuk ikut menentukan arah kegiatan masyarakat. Hal-hal sederhana seperti ini sering menjadi sumber perubahan yang paling berpengaruh, karena kesetaraan sesungguhnya dibangun melalui praktik nyata, bukan sekadar wacana.
Maka, ketika kita menyebut perempuan sebagai tiang negeri, itu bukan sekadar penghormatan simbolik. Itu adalah pengakuan bahwa negeri tidak akan stabil tanpa peran perempuan yang merdeka, dihargai, dan diberdayakan. Namun pengakuan ini tidak akan bermakna jika laki-laki tidak ikut terlibat. Kesetaraan bukan proyek perempuan semata, ia adalah perjalanan bersama yang harus dilalui dua pihak yang saling menopang. Sebuah negeri hanya akan kokoh ketika perempuan dan laki-laki berdiri sejajar bukan saling mendahului, tetapi saling menguatkan.
Pada akhirnya, Perempuan Tiang Negeri mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan bukan ancaman bagi siapa pun, melainkan berkah bagi bangsa. Kesetaraan bukan dominasi satu pihak atas yang lain, tetapi hasil dari keberanian untuk berdiskusi, kesiapan untuk berubah, dan kesediaan untuk membangun hidup bersama dengan adil. Selama dialog tetap terbuka, selama perempuan diberi ruang untuk berdiri setara, dan selama laki-laki bersedia berjalan di samping mereka, negeri ini akan tumbuh menjadi tempat yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih manusiawi.
Baca lagi opini lainnya: Seratus Hari Prabowo-Gibran, Rakyat Tercekik, Elit Berpesta?
Penulis : Boy Dowi
Editor : Redaktur






