PENAMARA.ID — Lebaran tidak lagi sekadar soal pulang ketika dalam cengkraman kapitalisme. Ia tidak lagi hanya tentang memeluk ibu, mencium tangan ayah, atau saling memaafkan setelah setahun penuh luka dan lelah. Di tangan Kapitalisme, Idul Fitri telah direduksi menjadi festival konsumsi sebuah musim panen bagi pasar, dan musim tekanan bagi mereka yang tidak punya daya beli.
Kita diajarkan bahwa Lebaran adalah kemenangan. Tapi kemenangan bagi siapa? Apakah kemenangan buruh retail yang dipaksa lembur menjelang hari raya yang berdiri berjam-jam melayani gelombang konsumen tanpa jeda yang manusiawi? Apakah kemenangan kurir yang harus mengantar paket hingga larut malam demi memenuhi ledakan belanja online? Atau kemenangan perusahaan yang meraup laba berlipat dari kecemasan sosial yang mereka ciptakan sendiri?
Di balik gemerlap diskon “Ramadhan Sale” dan iklan penuh senyum keluarga sempurna, ada narasi yang dipaksakan, bahwa kebahagiaan harus dibeli. Bahwa cinta harus dikemas dalam hampers. Bahwa harga diri diukur dari baju baru yang dikenakan saat salat Ied.
Inilah wajah nyata dari apa yang pernah dikritik oleh Karl Marx ketika relasi manusia berubah menjadi relasi komoditas. Kita tidak lagi memberi karena ingin berbagi, tapi karena takut dihakimi. Kita tidak lagi membeli karena butuh, tapi karena takut terlihat “kurang”.
Tekanan itu nyata. Ia hidup dalam bisikan tetangga, dalam obrolan keluarga, dalam standar sosial yang tak tertulis namun menghantui: “Lebaran kok gak mudik?” “Bajunya itu lagi?” “Gak ngasih apa-apa?” Dan tanpa sadar, kita menjadi bagian dari mesin itu. Kita ikut mereproduksi tekanan yang sama, memaksa orang lain untuk memenuhi standar yang bahkan kita sendiri tidak sepenuhnya percaya.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok naik menjelang hari raya. Ongkos transportasi melambung tinggi. Mereka yang berada di lapisan ekonomi bawah harus memutar otak, berhutang, atau mengorbankan kebutuhan lain hanya demi memenuhi ekspektasi sosial yang dibungkus atas nama tradisi.
Apakah ini yang disebut kemenangan?
Lebaran seharusnya menjadi momen pembebasan dari ego, keserakahan, dan ketimpangan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia menjadi alat reproduksi ketimpangan itu sendiri. Yang kaya bisa merayakan dengan gemerlap, sementara yang miskin harus merayakan dengan kecemasan.
Namun, masalahnya bukan pada Lebaran itu sendiri.
Masalahnya adalah bagaimana sistem telah menyusup ke dalam makna mengganti nilai dengan harga, mengganti ketulusan dengan transaksi. Kapitalisme tidak menciptakan Lebaran, tapi ia sangat lihai dalam menjadikannya komoditas.
Dan yang lebih berbahaya adalah ketika ia membuat kita merasa semua ini normal. Padahal tidak. Tidak ada kenormalan ketika seseorang harus merasa malu karena tidak mampu membeli baju baru. Tidak normal jika kebahagiaan diukur dari isi parcel dan tidak normal jika momen spiritual berubah menjadi ajang pembuktian status sosial.
Kita perlu merebut kembali makna Lebaran. Menolak tunduk pada logika pasar bukan berarti menolak kebahagiaan. Justru sebaliknya, itu adalah upaya untuk mengembalikan kebahagiaan ke tempat asalnya, yaitu relasi manusia yang tulus dan bukan sekedar transaksi yang dipaksakan.
Kita bisa mulai dari hal sederhana, ketika kita datang tanpa membawa apa-apa selain diri kita sendiri, meminta maaf tanpa kemasan, merayakan tanpa harus membuktikan apa pun.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang apa yang kita beli, namun tentang apa yang kita lepaskan.
Soekarno dalam Ingatan pemimpin Iran Ali Khamenei
Penulis : Serena Tomira
Editor : Redaktur






