Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan: Antara Relevansi dan Tantangan Adaptasi

| PENAMARA . ID

Jumat, 22 Mei 2026 - 02:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustasi

Ilustasi

Sekarang bukan hal ganjal melihat penggunaan AI (Artificial intelligence/Kecerdasan Buatan) di berbagai bidang. Setiap dari kita pasti pernah mencoba kecanggihan yang ditawarkan oleh AI.

Bagaimana tidak, hanya dengan ketikan singkat saja kita “diberikan” informasi dari banyak sudut yang mungkin belum kita ketahui — kecanggihan teknologi tak terasa sudah jadi bagian dari keseharian manusia di abad ini.

Baik dari media sosial, aplikasi sehari-hari yang kita pakai, maupun saat menggulir video yang di generate [dihasilkan] AI. Sama seperti hal-hal pada dasarnya, semua hal di dunia ini memiliki dampak baik dan buruk.

Semuanya — tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Intensitas pemakaian kita terhadap teknologi AI ini juga berpengaruh tentunya.

Dunia pendidikan sendiri. Jika diamati, kita akan sering menyadari para siswa juga sering menggunakan AI dalam proses pembelajaran. Baik secara langsung maupun tidak, entah sebagai alat bantu saja atau mereka benar-benar menyalin seluruh hasil pemikiran AI itu.

Opini pun terbangun bahwa  dengan AI maka akan ada beberapa profesi yang bisa tergantikan dengan kecanggihan teknologi yang satu ini. Terutama dalam pendidikan — profesi guru bisa saja tergantikan oleh “kecerdasan buatan”.

Kualitas pendidikan adalah tolak ukur hadirnya SDM yang dimiliki suatu negara. Keberadaan pendidik dengan AI memang kadang akan jauh berbeda, jika pendidik — terutama pendidik muda — tidak membangun esensi pendidikan sejak dari diri sendiri.

Lalu pendidik yang tetap mengajar dengan cara konvensional berisiko tertinggal dari perkembangan zaman. Era teknologi yang terus melaju membawa tanggung jawab lebih besar bagi para pendidik untuk terus bertumbuh dan beradaptasi.

Pendidik harus berusaha beradaptasi dengan AI dan kecanggihan teknologi yang jika dikolaborasikan, proses pembelajaran jadi efektif. Peran pendidik bukan hanyalah menjelaskan, membuat peserta didik memahami isi materi, dan dapat mengisi ujian dengan bagus.

Beberapa pendidik kadang salah kaprah dengan metode belajar yang menjuru pada penghafalan saja. Sehingga ketika peserta didik dihadapkan dengan subyek yang mirip namun berbeda pada detail tertentu, peserta didik akan bingung.

Perlu kita ketahui yang sangat krusial dalam peran pendidik adalah tidak berorientasi pada hafalan melainkan pemahaman dan penerapan yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap ilmu yang diberikan oleh para pendidik, secara tidak langsung akan mengarah pada implementasi kehidupan sehari-hari peserta didik. Tingkat keberhasilan penerapan ilmu inilah yang menjadi tonggak acuan transfer ilmu yang dilakukan oleh para pendidik.

Sehingga ketika pendidik tidak lebih baik daripada AI maka peran pendidik bisa saja tergeser oleh AI jika pendidik tidak meningkatkan kompetensinya dalam mengajar. Namun tentu saja AI tidak memiliki sifat kecerdasan emosional yang hanya bisa diberikan oleh para pendidik.

Dalam pendidikan, pendidik tidak hanya memberikan kecerdasan intelektual melalui ceramah dan penghafalan rumus. Akan tetapi lebih daripada itu adalah kecerdasan emosional yang bisa pendidik berikan kepada peserta didik.

Disinilah peran pendidik yang bukan hanya mengajar, namun juga memperhatikan kondisi fisik dan psikologis peserta didik. Memperhatikan kondisi siswa saat belajar maupun dalam proses pembelajaran itu sendiri.

AI hanya bisa memberikan kecerdasan intelektual tanpa memperhatikan perasaan yang dialami peserta didik, perubahan perilaku pada peserta didik, dan keadaan psikologis mereka. Ketika pendidik tidak dapat menjalin hubungan kedekatan emosional maka pendidik tidak lebih dari AI yang hanya memberikan ilmu saja tanpa arahan dan didikan yang jelas.

Mari kita sebagai calon pendidik maupun pendidik saat ini, mengkolaborasikan berbagai metode dan bahan ajar dengan kecanggihan teknologi saat ini. Memberikan perhatian cukup untuk peserta didik, sehingga pendidik melibatkan aspek emosional dalam proses pembelajaran.

Hal itu tentu membantu untuk meningkatkan para pendidik memahami peserta didiknya. Lalu juga untuk meningkatkan tingkat efektivitas dalam proses transfer ilmu dalam pembelajaran.

Artikel Lain :

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham

Menakar Kebijakan Blokir Akun Anak

Digitalisasi Instrumen Kontrol Baru Kapitalis Global?

Penulis : Margaretha Tinambunan

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin
Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia
Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi
Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran
Soekarno dan Seni Menjelaskan Indonesia dengan Bahasa yang Dipahami Rakyat
Jangan Gaduh Karena Banpres, Ibadah Kurban Seharusnya Membawa Kebahagiaan
Dialektika Ketimpangan: Antara Akumulasi Modal Marxian dan Pengkhianatan Amanat Marhaenisme
Spanduk Minta Maaf UGM Sebagai Simbol Keberanian atau Romantisme Perlawanan yang Steril?

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:50 WIB

“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin

Rabu, 10 Juni 2026 - 23:45 WIB

Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:23 WIB

Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:38 WIB

Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:16 WIB

Soekarno dan Seni Menjelaskan Indonesia dengan Bahasa yang Dipahami Rakyat

Berita Terbaru