Neo-Otoritarianisme: Demokrasi yang Tak Pernah Lahir

| PENAMARA . ID

Minggu, 16 November 2025 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Neo-otoritarianisme dapat dipahami sebagai hasil reproduksi dari otoritarianisme Orde Baru. Runtuhnya rezim otoriter pada 21 Mei 1998 sempat menghadirkan harapan bahwa Indonesia dapat mentransisikan diri menuju sistem demokrasi yang substansial. Namun, transisi yang diharapkan itu tidak pernah benar-benar terwujud. Salah satu penyebab utamanya adalah karena aktor-aktor yang melanjutkan pemerintahan pasca-Orde Baru masih berasal dari pecahan struktur lama, kelompok yang selama puluhan tahun terinternalisasi dengan logika kekuasaan dan praktik penjarahan sumber daya negara.

Dengan demikian, reformasi yang diimpikan tidak sepenuhnya tercapai. Reformasi lebih tampak sebagai relokasi atau redistribusi pemain-pemain utama politik, bukan transformasi menyeluruh atas sistem dan budaya politik. Watak otoritarianisme Orde Baru tetap diwarisi dan dijalankan, hanya dalam bentuk yang lebih halus dan adaptif terhadap konteks baru, inilah yang kita sebut sebagai Neo-otoritarianisme.

Fenomena-fenomena kontemporer semakin menguatkan tesis tersebut. Di berbagai platform media, kita menyaksikan bagaimana sosok tokoh sentral Orde Baru dengan mudah direhabilitasi dan bahkan dipromosikan sebagai pahlawan nasional. Upaya simbolik ini merupakan langkah normalisasi memori politik, yang pada akhirnya melemahkan kritik publik terhadap praktik otoritarianisme masa lalu.

Di sisi lain, percepatan pembahasan RKUHAP oleh Komisi III DPR RI tanpa partisipasi publik yang memadai, menjadi contoh nyata kecenderungan otoritarian dalam pembuatan kebijakan. Proses legislasi yang tertutup, minim diskursus publik, serta potensi pasal-pasal yang membahayakan hak warga negara adalah ciri klasik dari pemerintahan yang bergerak kembali ke arah pembatasan kebebasan dan penguatan kontrol negara atas masyarakat.

Dalam konteks ini, cita-cita Reformasi tampak tidak pernah benar-benar mewujud. Yang hadir dan semakin menguat justru adalah bentuk baru otoritarianisme. Lebih halus, lebih adaptif, namun tetap berakar pada pola pikir dan kepentingan yang dibangun sejak Orde Baru. Karena itu, dapat dikatakan bahwa yang nyata hari ini bukanlah Reformasi, melainkan Neo-Otoritarianisme.

Kondisi ini juga membuat proses demokratisasi kehilangan daya dorongnya, karena partisipasi warga dipersempit dan diarahkan sesuai kepentingan kelompok berkuasa. Dengan demikian, dinamika politik kontemporer menunjukkan bahwa bayang-bayang otoritarianisme tidak hanya kembali muncul, tetapi berkembang melalui mekanisme yang lebih canggih dan sulit dikenali secara kasat mata.

Penulis : Boy Dowi

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam
Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan
Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar
Teror Menguji Keberanian Demokrasi
Kritik Dibalas Serangan Fisik
Bagaimana kalau Ternyata yang Paling Indah dari Kehidupan adalah Kematian?

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 April 2026 - 19:02 WIB

Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 - 02:30 WIB

Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?

Senin, 30 Maret 2026 - 23:45 WIB

Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan

Senin, 23 Maret 2026 - 00:14 WIB

Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar

Berita Terbaru

Freepik.com

Opini

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 Apr 2026 - 19:44 WIB

Global

Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:16 WIB