PENAMARA.ID — Setiap 8 Maret pasti perempuan di seluruh dunia memperingati International Women’s Day. Kata “empowerment” jadi tren tetapi ada banyak hal yang tidak pernah masuk desain poster.
Di rumah-rumah, ada ibu rumah tangga yang bekerja tanpa jam istirahat yang tetap, tanpa ada cuti, apalagi upah. Pekerjaannya dianggap “tugas alami”dan bukan kerja yang dapat menghasilkan nilai. Padahal, tanpa kerja domestik, tak ada tenaga kerja yang siap berangkat setiap pagi.
Kerja reproduktif selalu dianggap tak bernilai, seolah tidak membutuhkan pengakuan. Ketika ekonomi dibicarakan, angka-angka yang dihitung jarang memasukkan tenaga perempuan di ruang domestik.
Kerentanan itu sebetulnya nyata. Ketika kekerasan terjadi di dalam rumah, banyak perempuan tidak punya pilihan yang mudah untuk pergi begitu saja. Ketergantungan ekonomi pasti jadi tembok yang tinggi. Negara sering hadir tapi dalam bentuk imbauan, belum tentu dalam bentuk perlindungan yang konkret.
Di ruang kerja formal, situasinya tak sepenuhnya berbeda. Cuti melahirkan masih dipandang sebagai gangguan produktivitas. Kehamilan bisa mengubah cara atasan memandang komitmen seorang pekerja perempuan. Hak yang mestinya melekat, terasa seperti permintaan tambahan.
Tubuh perempuan terus menjadi bahan pertimbangan profesional. Terlalu emosional, terlalu lembut, terlalu ambisius, terlalu ibu atau terlalu tidak keibuan. Standar yang begitu karet, tapi selalu mengarah pada satu hal yaitu perempuan harus menyesuaikan diri atas nama penundukan.
Sementara itu, kekerasan terhadap perempuan tetap terjadi. Dari pelecehan yang dinormalisasi sebagai candaan, hingga pembunuhan oleh orang terdekat. Setiap kali kasus muncul, sorotan sering kali bergeser pada korban. Apa yang ia kenakan. Mengapa ia bertahan. Mengapa ia tidak pergi lebih awal.
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar biasa karena kita sudah terlalu terbiasa hidup dalam budaya yang memindahkan tanggung jawab. Seolah kekerasan adalah kesalahan manajemen risiko korban, bukan pilihan sadar pelaku.
Perempuan yang melawan pun tidak selalu aman. Ketika bersuara, mereka dicap berlebihan. Ketika menuntut keadilan, mereka dianggap merusak nama baik. Ketika bertahan dalam diam, mereka dibilang lemah. Apa pun pilihannya, pasti selalu akan ada penilaian.
Dalam situasi seperti ini, 8 Maret terasa paradoks. Kita merayakan hati perempuan, tapi belum sepenuhnya mendengar mereka. Kita memuji ketangguhan, tapi membiarkan sistem tetap timpang.
Padahal ini bukan hari yang netral. Ini adalah pengingat bahwa ketidakadilan itu nyata dan harus dilawan.
Jadi mungkin, 8 Maret bukan tentang seberapa indah kita merangkai kata-kata untuk perempuan. Tapi tentang seberapa berani kita membongkar sistem yang membuat mereka terus bertahan dalam ketidakadilan.
Dan untuk para patriarki yang masih merasa nyaman perempuan tidak lagi sekadar bertahan. Mereka mencatat, bersuara, dan juga melawan. Cepat atau lambat, sistem yang menormalisasi kontrol, kekerasan, dan pengabaian akan runtuh juga bukan karena diberi izin, tapi karena terus digugat.
yang Luput dari International Women’s Day lainnya: IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Penulis : Agsel Jesisca
Editor : Redaktur






