PENAMARA.id — Pernahkah Anda merasa bahwa setiap wawancara kerja hanyalah ‘transaksi‘ untuk menentukan harga diri yang kita tawarkan kepada kapital, sementara pembicaraan tentang “visi” hidup hanya sebagai bumbu pemanis obrolan wawancara? Di era kapitalisme modern hari ini, mengejar gaji besar dengan mengabaikan etika pekerjaan bukan lagi dianggap skandal, melainkan keadaan “realistis” yang dipaksakan untuk diterima oleh masyarakat kita. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau Marxisme Radikal, Komunisme Kiri, dan Feminisme Materialis, fenomena ini adalah bukti bahwa kita sedang hidup dalam Kediktatoran Upah yang telah mencabut akar kemanusiaan kita.
Akar masalah ini bermula dari apa yang disebut Karl Marx sebagai Alienasi. Dalam sistem kapitalis, pekerjaan bukan lagi sarana bagi manusia untuk berkarya, melainkan alat untuk bertahan hidup. Ketika tenaga kerja berubah menjadi komoditas, orientasi kita bergeser secara paksa dari “apa yang saya buat bagi dunia” menjadi “berapa nilai saya di pasar“. Marx menjelaskan dalam Manuscript 1844 bahwa proses ini membuat manusia terasing dari hakikat kemanusiaannya sendiri (Gattungswesen).
Kita tidak lagi bekerja untuk hidup, melainkan hidup untuk bekerja—dan dalam proses itu, nurani menjadi sesuatu yang tidak punya nilai tukar. Kita dipaksa menjadi alat mekanis yang hanya peduli pada angka di slip gaji karena dalam sistem ini nilai seorang manusia tidak lagi diukur dari integritasnya, melainkan dari daya belinya.
Tekanan ini diperparah oleh kediktatoran modal yang impersonal, sebagaimana dijelaskan tokoh Komunisme Kiri, Amadeo Bordiga. Bordiga menegaskan bahwa dalam pasar global, individu tidak memiliki pilihan nyata. “Kebebasan” untuk memilih pekerjaan yang etis hanyalah ilusi ketika semua kebutuhan dasar rumah, kesehatan, hingga pendidikan telah diprivatisasi dan berubah menjadi jerat finansial.
Di bawah ancaman kemiskinan (teror ekonomi), pragmatisme buta terhadap problematika kerja adalah mekanisme pertahanan diri. Kita dipaksa mengabaikan apakah perusahaan kita merusak lingkungan atau menindas orang lain, karena sistem akan menghukum siapapun yang mendahulukan moral di atas profitabilitas.
Perspektif ini menjadi lebih tajam dan membumi melalui lensa Feminisme Marxis, seperti yang diusung oleh Silvia Federici. Federici mengingatkan bahwa obsesi pada kerja upahan di kantor sebenarnya berdiri di atas eksploitasi Reproduksi Sosial yakni kerja domestik, perawatan, dan kasih sayang yang secara historis dibebankan pada perempuan tanpa bayaran.
Kapitalisme menciptakan tatanan di mana hanya aktivitas yang menghasilkan uang langsung yang dianggap berharga. Hal ini memaksa kita untuk mengejar upah setinggi-tingginya demi membeli kembali layanan (seperti pengasuhan atau dukungan emosional) yang dulunya disediakan oleh solidaritas komunitas, namun kini telah dihancurkan oleh logika pasar. Kita mengejar angka bukan karena serakah, tapi karena kita telah kehilangan jaring pengaman sosial yang kolektif.
Selanjutnya, Guy Debord melalui teori Society of the Spectacle menjelaskan bahwa kita kini hidup dalam masyarakat citra. Uang dikejar bukan hanya untuk konsumsi, tetapi untuk mempertahankan “status” di hadapan spectacle masyarakat. Kita lebih peduli pada bagaimana pekerjaan kita “tampak” daripada apa yang sebenarnya pekerjaan itu kita lakukan terhadap dunia. Inilah Fetisisme Komoditas pada puncaknya: uang dianggap memiliki kekuatan ajaib untuk mencuci bersih noda moral dari cara kita mendapatkannya.
Kesimpulannya, orientasi buta pada uang adalah tanda kemenangan total modal atas nurani manusia. Kita telah menjadi zombi ekonomi yang mengejar angka di layar monitor sementara bumi dan kemanusiaan di sekitar kita hancur. Kritik ini bukan untuk menghakimi individu yang berjuang mencari nafkah, melainkan untuk membongkar struktur yang tidak menyisakan ruang bagi martabat.
Kita tidak membutuhkan “karier yang lebih baik”, melainkan tatanan baru yang menempatkan keberlangsungan kehidupan di atas akumulasi modal. Revolusi sejati bukan hanya soal kenaikan upah, tapi soal merebut kembali waktu hidup kita dari tangan pasar yang menindas.
Negara dalam Proyek Politik Neo-Liberalisme
Penulis : Serena Tomira
Editor : Agnes Monica






