Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Alam Runtuh

| PENAMARA . ID

Senin, 13 Oktober 2025 - 12:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Ist

Gambar: Ist

PENAMARA.id — Memasuki satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, wajah pembangunan nasional tampak gagah di permukaan. Pemerintah bangga dengan capaian investasi, pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5 persen, serta gencarnya proyek hilirisasi mineral. Namun di balik narasi keberhasilan itu, ada fakta yang jauh lebih gelap seperti kerusakan lingkungan yang meluas, tata kelola tambang yang amburadul, dan kebijakan ekologis yang semakin longgar.

Kebijakan hilirisasi nikel dan dorongan investasi tambang memang menjanjikan devisa besar, tetapi dampak ekologisnya tidak pernah dihitung dengan serius. Lubang tambang di Kalimantan Timur, pencemaran sungai di Sulawesi Tengah, hingga deforestasi masif di Papua terus dibiarkan. Pemerintah seolah menganggap kerusakan lingkungan sebagai “biaya pembangunan” yang wajar. Padahal, setiap hektar hutan yang hilang berkelindan dengan hilangnya sumber air, oksigen, dan ruang hidup masyarakat adat.

Satu tahun ini memperlihatkan arah pembangunan yang lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek daripada keberlanjutan ekologis. Regulasi lingkungan cenderung dikendurkan atas nama kemudahan investasi. Banyak perusahaan tambang yang melanggar izin, meninggalkan lubang tanpa reklamasi, dan tidak menjalankan tanggung jawab sosialnya. Ironisnya, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan nyaris tidak terdengar.

Pemerintah sering menggunakan istilah “transisi energi hijau” sebagai pembenaran, padahal praktik di lapangan justru memperkuat ketergantungan pada industri ekstraktif. Produksi nikel untuk baterai listrik, misalnya, memang disebut ramah lingkungan di tahap akhir, tapi proses penambangannya di Indonesia justru menimbulkan polusi udara, kerusakan tanah, dan konflik sosial di wilayah tambang. Konsep “energi bersih” menjadi paradoks ketika sumbernya justru berasal dari eksploitasi yang merusak.

Dampak sosial dari kebijakan tambang pun tidak bisa diabaikan. Konflik lahan meningkat, masyarakat lokal kehilangan sumber mata pencaharian, dan ruang hidup mereka terampas oleh izin konsesi besar. Alih-alih menciptakan kesejahteraan, tambang justru memperdalam ketimpangan ekonomi antarwilayah. Pusat-pusat industri kaya, sementara masyarakat sekitar tambang tetap miskin dan terpinggirkan.

Secara politik, pemerintahan ini tampak kuat di atas kertas, namun secara moral kehilangan pijakan ekologis. Negara lebih sibuk mengatur arus investasi ketimbang menegakkan keadilan lingkungan. Tidak ada arah kebijakan yang menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat yang terdampak eksploitasi tambang.

Satu tahun ini menjadi cermin bahwa pembangunan tanpa etika lingkungan hanyalah proyek jangka pendek yang berujung pada krisis jangka panjang. Bila arah ini tidak diubah, pemerintahan Prabowo-Gibran akan dikenang bukan sebagai era kemajuan industri, melainkan periode di mana negara membiarkan alamnya runtuh demi pertumbuhan angka-angka ekonomi.


Baca lagi soal Kerusakan Lingkungan: Pulau Gebe di Titik Kritis; Gubernur Malut Wajib Bertanggungjawab

 

Penulis : Fiki Bahta

Editor : Boy Dowi

Berita Terkait

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam
Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan
Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu
Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme
Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan
Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 April 2026 - 19:02 WIB

Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan

Rabu, 15 April 2026 - 18:00 WIB

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu

Rabu, 15 April 2026 - 01:15 WIB

Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia

Selasa, 14 April 2026 - 02:30 WIB

Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?

Berita Terbaru

Freepik.com

Opini

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 Apr 2026 - 19:44 WIB

Global

Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:16 WIB