PENAMARA.ID – Perubahan dan perlawanan tidak bisa terwujud secara sendiri-sendiri, Menangnya kapital sebab mereka bersatu serta saling berbagi kelemahan dan kelebihan. Lingkar rakyat tertindas terus ada bukan karena berhentinya perlawanan, tapi terlalu cepat kemenangan dimuliakan – kapital justru menjadikan kekalahan sebagai pembelajaran agar meraih sesuatu yang lebih besar dimasa mendatang.
Menjadi lebih mulia kapital bukan karena mereka kalah, sebab mereka sudah tinggi diantara seribu musuh – disebut ‘kapital besar’ oleh sahabat penulis yang membuat sesak dada. Meski begitu masih ada gerakan-gerakan yang tidak puas dengan kemenangan tak lepas dalam perlawanan selalu bersuara meski dikekang dan dikokang, seperti: “Gejayan Memanggil,” mengamati sejak 2019 meski tidak terlalu cermat melihat aksi serta gerak mereka selalu konsisten dan tak pernah lemah dalam memanggil perlawanan.
Lalu yang membingungkan bagaimana riwayat seorang pejabat yang angkuh hari ini diceritakan dulu adalah pejuang rakyat. Apa kekuasaan memang merubah seseorang? Kekayaan mengeraskan hati? Atau takut miskin dan kelaparan lagi membuat mereka berperilaku picik?, mungkin betul dalam tulisan Nietzche bahwa ‘kesetaraan’ tercipta dari orang yang tidak mampu menentukan nasipnya dan menggunakannya untuk membuat simpatik umum demi penegasan ketidakberdayaannya – Lalu menjadi sama seperti kapital.
Sumbatan Perlawanan
Egois juga sebab perlawanan tersumbat: egoisme masa lalu, egoisme masa kini, dan egoisme masa depan – semua sama dalam menyumbat perlawanan. Egoisme lalu, dimulai dari perjuangan yang kandas karena cepat merayakan juga kebanggaan berlebih: persoalan sekarang tidak dapat selesai karena ‘aku’ tidak selesai. Egoisme kini, bukan karena setengah-setengah dalam sanubari tetapi puas sudah menggeret lawan yang bukan musuh sebenarnya. Egoisme depan, adalah percaya perlawanan akan tetap diteruskan oleh harapan bahkan jika harapan itu adalah hantu.
Kita tidak di zaman Barok dengan dua pribahasa: ‘Carpe Diem’ (Rebut Hari Ini); atau ‘Memento Mori’ (Ingat Akan Kematian). Zaman ini adalah zaman Perjuangan: hidup rebut hari ini sebab singkat kematian akan menjemput. Maka jangan sumbat perlawanan dengan menganggap cukup segitu saja hari ini, yang akan datang biarlah kesanggupan dari mereka.
Tingkah egoisme adalah tingkah yang sebegitu pengecut yang sama rendah dengan orang yang berteriak soal kesetaraan demi mengangkat nasipnya. Maka janganlah ikuti jalan perlawanan dengan berteriak kepada pejabat-pejabat seolah teriakan kita melambangkan rakyat padahal diisi kemunafikan kosong, seperti bisul yang ditahan meresahkan dipecahkan membuat kesakitan pada tubuh.
Inovasi kita pun diisi oleh kepentingan dan tidak murni melihat rakyat: untuk kepentingan perekonomian dibuatlah perumahan bukan mendorong usaha rakyat di bidang agraris, kelautan, atau bisnis kecil rakyat; terbit juga aturan memangkas birokrasi tapi korporasi yang diuntungkan untuk izin gedung hotel dan restoran mereka jadi lebih singkat; korporasi besar bukan diburu pajaknya demi rakyat tetapi diambil persenan demi tenggorokan sendiri.
Pernah pun dalam percakapan penulis dengan masyarakat tentang pendidikan, dikatakan begitu besar anggaran pendidikan mestinya kita ‘mainkan’, apa sebegitu korupnya mental kita sampai-sampai lupa dengan kalimat ‘memanfaatkan’. Tapi bukan, sebab upah kecil dengan kebutuhan besarlah yang membuat masyarakat membangun mental begini.
Pemimpin menjadi lalai, para pejuang dahulu pun malah ikut-ikut bersenang-senang dengan kegelimangan harta seperti sahabat-sahabat barunya. Belum pernah penulis baca soal fenomena ini; dan apakah akan sama jika kita mendapatkan kesempatan yang sama sembari berkata dalam hati egois: “ini adalah hasil perjuangan ku, mesti dinikmati selagi hidupku masih ada, hanya sekali ku begini tidak membuat rakyat yang ku perjuangkan mati.” Memang sulit berbuat adil bukan karena yang kita benci, tetapi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita.
Bahkan sekasarnya Machiavelli tentang cinta yang rapuh manusia masih terbersit tentang siapapun yang kita taklukan adalah kewajiban kita untuk memakmurkan. Sungguh terkubur dimana sifat picik mereka sewaktu berteriak tentang kesetaraan dan keadilan dihadapan kemiskinan – taukah mereka kesenangan rakyat adalah dongeng?
Penantian Rakyat Akan Kesejahteraan
Sepertinya rakyat kecil tidak muluk-muluk soal kesejahteraan, cukuplah makan mereka dan keluarga terpenuhi, layak tinggal mereka untuk memejamkan mata, bangga mereka terhadap putra-putri yang bersekolah demi terjamin masa depan mereka.
Kita tidak sanggup untuk berharap, sanggupkan diri untuk berbuat dan menciptakan kesejahteraan bersama yang dijunjung setinggi-tingginya dalam sanubari dan pikiran sampai terwujud. Apa yang membuat korupsi tak berhenti? Bukankan takutnya manusia keturunannya tidak terjamin lagi kedepan? Maka wujudkan negeri yang menjamin damai secara bersama yang diakarkan sampai ke darah kita.
Buang kekuatiran kita bukan dengan menjadi serakah, buang kekuatiran kita dengan menciptakan kesejahteraan seribu tahun untuk semua. Dan berhenti jadi menjijikan dengan hasrat untuk hal sementara, namun dalam cita itu agar selalu terjaga, dan jangan sekali-kali kamu mendampakan kekekalan.
Penindasan Rakyat Dalam Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Redaktur






