Ratusan pengemudi transportasi online (driver online), baik pengemudi roda dua (motor) dan pengemudi roda empat (mobil), menggelar diskusi publik di Graha PENA 98, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/4) kemarin sore. Mereka datang dari sekitar 80 komunitas driver online berbagai daerah.
Topik yang dibahas merupakan isu yang sudah mencuat sepekan terakhir, mengenai “perusahaan penyedia layanan transportasi serta pengantaran barang dan makanan secara online (aplikator) yang memotong sebanyak 20% dari pendapatan para driver online” — jumlah itu memberatkan dan para driver online ingin agar “potongannya cukup 10%”.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya Adian Napitupulu, Anggota DPR RI Komisi V [bidang infrastruktur-perhubungan] dari Fraksi PDIP; Rendi Prasetyo, Ketua Asosiasi Peneliti Analisis Jaringan Sosial Indonesia (APJARSI); Eddy Suzendi, pengamat transportasi; Aries Renaldi, driver online roda empat; Kemed, driver online roda dua; di moderatori oleh Ichsan Azis.
Untung dari Driver dan Merchant
Kalau potongannya Rp 2.000 per pengantaran dan tiap driver melayani lima pesanan, itu sudah Rp 10.000. Jadi “kalau rata-rata setiap driver online yang [berjumlah] 3,1 juta itu memberikan sepuluh ribu pada aplikator, berarti per hari hanya dari driver online-nya mereka dapatkan paling tidak Rp 31 miliar,” jelas Adian, menuturkan hitungan sederhana yang mencengangkan.
Adian melanjutkan, “disisi lain, ada satu juta merchant. Kita [hitung] rata sepuluh ribu, berarti 10 miliar yang ditambah 31 miliar,” — untung per hari sudah 41 miliar.
Menariknya dalam diskusi, selain driver yang diminta sebagai narasumber, ada juga Laura Valentyna Siregar, sebagai merchant atau pelaku UMKM yang mendagangkan minumannya dengan merek “Juice Be With You” melalui aplikasi layanan GoFood dan GrabFood.
“Belakangan teman-teman UMKM saya, dimintainnya 25% — sementara kan kalau 25% kita mau dapat berapa lagi, dengan harga sekarang tuh makan kan untungnya tipis,” ujar Laura. Ia menuturkan bahwa potongan tersebut mungkin dilakukan oleh seles dari penyedia aplikasi, karena akun merchant mereka dikelola seles-seles.
Eksploitasi Kemitraan
Selain potongan, ada juga sistem Aceng (di GoJek) dan Slot (di Grab), dari sistem ini membuat para driver online hanya mendapatkan bayaran sebanyak Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per pengantaran, atau mereka cuma dibayar “ala kadarnya,” kata Kemed.
Kemed juga menjelaskan, apa yang disampaikan Adian mungkin terlalu kecil jika kita benar-benar diuraikan lebih rinci dan mendalam atas ribuan transaksi per hari, puluhan ribu transaksi per bulan, serta ratusan ribu transaksi per tahun, dan itu “harus dipertanggung jawabkan secara jelas, kalau perlu memang ada indikasi penyelewengan kita akan bawa ini ke proses hukum,” tandas Kemed.
“Jika terealisasi potongan 10% ini akan sangat bermanfaat,” lanjutnya.
Diskusi menegaskan satu hal, bahwa aplikasi ojek online telah menjadi alat eksploitasi baru. Padahal jika dikelola dengan baik tanpa manipulasi, seharusnya dapat mengangkat taraf hidup para pengemudi roda dua atau roda empat, dan para pelaku UMKM, mereka yang dianggap “mitra” oleh aplikator.
Artikel Lain :
Digitalisasi Instrumen Kontrol Baru Kapitalis Global?
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Redaktur






