Rapa Dara dan Bombana; Sebuah Pengaburan Identitas

| PENAMARA . ID

Selasa, 30 September 2025 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Idam, Kader DPC GMNI Bombana

Gambar: Idam, Kader DPC GMNI Bombana

Oleh: Idam

PENAMARA.id — Bombana–Penetapan Rapa Dara sebagai salah satu motif khas Kabupaten Bombana kembali menuai sorotan. Kritik keras datang dari Idam, salah satu pemuda Moronene, yang menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk pengaburan identitas budaya masyarakat adat Moronene, suku asli Bombana.

Menurut Idam, secara etimologi Rapa Dara berarti “kepala kuda”. Namun kuda sama sekali tidak memiliki jejak historis dalam budaya Moronene. “Menjadikan kuda sebagai simbol daerah adalah sebuah kekeliruan besar. Kuda tidak pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Moronene. Ini jelas ahistoris,” tegasnya.

Ia menilai kebijakan ini tidak hanya keliru secara substansi, tetapi juga berpotensi melukai identitas kultural masyarakat asli. “Mengutamakan Rapa Dara sama saja menyingkirkan warisan Moronene yang kaya. Padahal kita punya banyak Talulu (ukiran) khas yang jauh lebih layak dijadikan simbol daerah,” lanjutnya.

Lebih jauh, Idam menuding proses penetapan Rapa Dara penuh kelemahan karena dilakukan tanpa melibatkan tokoh adat maupun budayawan Moronene. “Simbol daerah bukan keputusan administratif yang bisa ditetapkan sepihak. Ia harus lahir dari akar budaya, bukan dari selera sesaat,” ujarnya.

Idam menekankan, kebijakan ini bisa menimbulkan konflik identitas di tengah masyarakat. “Ketika wajah resmi daerah tidak mencerminkan jati diri masyarakat aslinya, maka yang lahir bukan kebanggaan, tapi keterasingan. Ini bahaya,” tegasnya.

Ia menutup kritiknya dengan ajakan keras kepada pemerintah daerah agar segera meninjau ulang penetapan Rapa Dara. “Simbol seharusnya memperkokoh martabat daerah, bukan menciptakan kebingungan. Bombana punya warisan Moronene yang otentik. Itulah yang seharusnya ditampilkan, bukan simbol asing yang dipaksakan,” pungkas Idam.


Baca yang lainnya: Tagih Transparansi Rekrutmen RSUD, GMNI Serang Kembali Geruduk DPRD Banten

 

Penulis : Idam

Editor : Agsel Jesisca

Berita Terkait

Aksi Brutal Aparat di Bombana: DPC GMNI Bombana Nilai Pertanyaan Rakyat Dijawab dengan Peluru
PMPKO Kecam Intimidasi Buntut Aksi, Siap Tempuh Jalur Hukum
Masyarakat Desa Bobo Tolak Pendirian Perusahaan Tambang IMS
Staf Gubernur Diduga Markup Dana Hibah untuk Gereja di Manado
Berita ini 216 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 03:39 WIB

Aksi Brutal Aparat di Bombana: DPC GMNI Bombana Nilai Pertanyaan Rakyat Dijawab dengan Peluru

Selasa, 30 September 2025 - 09:51 WIB

Rapa Dara dan Bombana; Sebuah Pengaburan Identitas

Sabtu, 15 Februari 2025 - 19:46 WIB

PMPKO Kecam Intimidasi Buntut Aksi, Siap Tempuh Jalur Hukum

Minggu, 2 Februari 2025 - 19:05 WIB

Masyarakat Desa Bobo Tolak Pendirian Perusahaan Tambang IMS

Selasa, 7 Januari 2025 - 19:04 WIB

Staf Gubernur Diduga Markup Dana Hibah untuk Gereja di Manado

Berita Terbaru

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB

Ilustrasi : Banksy, Seniman Jalanan Misterius | take via hot.detik.com

Esai

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Selasa, 6 Jan 2026 - 11:33 WIB