Pernikahan dalam Mental Kapitalisme, Perzinahan jadi Perlarian

| PENAMARA . ID

Sabtu, 5 April 2025 - 05:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi | Sumber: Freepik/TribunNews.com

Ilustrasi | Sumber: Freepik/TribunNews.com

Masyarakat kapitalis adalah masyarakat yang melandaskan sistem ekonominya sendiri, dimana segala sesuatu dinilai berdasarkan kepemilikan atas modal, kekayaan, dan materi. Namun, dalam kehidupan sosial sehari-hari, masyarakat kapitalistis juga dapat diartikan sebagai kelompok yang menjunjung tinggi pandangan hidup yang mengutamakan kemapanan dalam hal uang, jabatan, dan harta semata.

Ukuran kehormatan seseorang tidak lagi didasarkan pada kualitas keilmuan, moral, atau integritas pribadi, melainkan pada seberapa tebal dompetnya. Dengan paradigma seperti itu, individu yang dianggap berhasil secara materi akan lebih mudah dihormati dan mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi.  Sebaliknya individu dengan kecerdasan, baik dalam ilmu agama maupun ilmu duniawi, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan seringkali dipandang sebelah mata dan tidak mendapat tempat yang dalam masyarakat.

Penyebab Individu Sukar Menikah 

Fenomena in isangat terasa dalam konteks pernikahan. Masyarakat kapitalis zaman sekarang telah menjadikan pernikahan sebagai sesuatu yang sukar, bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai cita-cita yang mustahil. Mencari nafkah, atau yang kerap disebut “struggle for life“, menjadi semakin berat.

Dimulai dari sulitnya individu dalam mencari pekerjaan layak, hingga tekanan untuk mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidup. Beban ini makin berat ketika standar kesiapan menikah hanya berpatokan pada kemapanan finansial semata. Individu dianggap siap menikah jika sudah mapan secara ekonomi, memiliki rumah, kendaraan, dan penghasilan tetap.

Aspek keilmuan, kedewasaan, dan akhlak baik, seolah tak lagi cukup. Maka tak heran jika banyak individu yang pas-pasan dalam materi merasa tidak percaya diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Akibatnya, mereka menundah, atau bahkan menghindari pernikahan.

Pernikahan akhirnya menjadi privilage bagi segelintir individu yang memiliki rezeki berlimpah. Bagi mereka yang belum memiliki cukup materi, mereka harus bersabar, menunggu, hingga rezeki yang cukup itu datang.

Berdampak Perzinahan

Padahal, secara kodrati, Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam keadaan berpasang-pasangan. Manusia ada lelaki dan perempuannya; binatang ada jantan dan betina; alam raya ada siang dan malamnya; zat ada kohesi dan adhesinya; elektron ada positif dan negatifnya; bahkan gaya ada aksi yang menjalin dengan reaksinya; —

Dalam setiap hal, selalu ada kesinambungan yang diciptakan. Dalam tatanan manusia lelaki dan perempuan saling membutuhkan untuk dapat hidup secara seimbang dan normal. Mereka tidak dapat secara utuh tanpa kehadiran pasangannya.

Olive Schreiner, seorang penulis Eropa, dalam bukunya “Drie Dromen in de Woestijin, mengambarkan lelaki dan perempuan sebagai dua makhluk yang diikat oleh satu “tali hidup”. Sebuah ikatan kodrati yang lebih dalam daripada sekadar tinggal serumah atau berbagi piring makan, ikatan itu adalah talih kehidupan yang bersumber dari kehendak alamiah, dari fitrah biologis dan psikologis manusia — tali seksualitas.

Hubungan seks buka sekadar pemuasan biologis, melaikan salah satu kekuatan paling penting dalam dinamika kehidupan manusia. Para filsuf dan ahli biologi sepakat bahwa dorongan seks merupakan salah satu motor utama dalam kehidupan manusia sebagai fi’il membuat keturunan.

Namun, ketika dorongan seksual memuncak, sementara jalan halal untuk menyalurkannya “yakni pernikahan” terhambat oleh sistem sosial yang materialistis, maka sebagian individu mencari pelampiasan melalui jalan belakang. Jalan yang hina, jalan yang merusak martabat, yaitu perzinahan. Api yang berkobar dalam jiwa tidak menemukan saluran suci, maka ia membakar melalui lorong-lorong gelap perbuatan keji dan nista.

· · ·

Masyarakat kapitalistis telah membentuk standar yang berat dalam membangun pernikahan, menjadikannya sebagai beban yang harus ditanggung hanya oleh mereka yang sudah mapan secara ekonomi. Hal ini menghambat upaya individu untuk memenuhi fitrahnya secara alami dan suci. Ketika pernikahan menjadi sesuatu yang sulit dijangkau, maka jalan terlarang menjadi alternatif yang dipilih dalam keterpaksaan.

Perzinahan tumbuh subur bukan semata karena kehendak bebas manusia, tapi juga karena sistem sosial yang menciptakan ketimpangan dan menutup jalan-jalan kebaikan. Sudah saatnya kita merekonstruksi nilai dalam masyarakat agar kehormatan tidak lagi ditakar oleh harta, tetapi oleh akhlak, ilmu, dan kesungguhan hati untuk membangun rumah tangga yang suci dan bermartabat.


Artikel Lain : Benarkah Suap Diperbolehkan meski Tujuannya Baik?

Penulis : Boy Dowi

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham
Koalisi Progresif Mahasiswa UNTARA Lebih Maju : Farhan Rafiqi dan Mohammad Yusup Menang Pemira.
HMI Cabang Kabupaten Tangerang Gandeng Komunitas Hijaukan Pesisir Mauk.
Simak Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Mahasiswa UNPAM
Bullying dan Kesehatan Mental; Ini yang Dilakukan PKM UNPAM
Mahasiswa Unpam Siap Jadi Pelopor Perubahan Hidup Tanpa Narkoba
Memahami Sholat dalam Perspektif Muhammadiyah
Micin dan Makan Malam, Betul Sebahaya Itu?
Berita ini 124 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:31 WIB

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham

Jumat, 25 Juli 2025 - 04:17 WIB

Koalisi Progresif Mahasiswa UNTARA Lebih Maju : Farhan Rafiqi dan Mohammad Yusup Menang Pemira.

Minggu, 29 Juni 2025 - 14:20 WIB

HMI Cabang Kabupaten Tangerang Gandeng Komunitas Hijaukan Pesisir Mauk.

Rabu, 25 Juni 2025 - 19:59 WIB

Simak Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Mahasiswa UNPAM

Rabu, 25 Juni 2025 - 19:10 WIB

Bullying dan Kesehatan Mental; Ini yang Dilakukan PKM UNPAM

Berita Terbaru

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB

Ilustrasi : Banksy, Seniman Jalanan Misterius | take via hot.detik.com

Esai

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Selasa, 6 Jan 2026 - 11:33 WIB