Kala nilai kebangsaan ditanamkan bukan lewat ceramah, tapi lewat permainan dan keceriaan
Di tengah terik matahari Minggu pagi (1/6/2025), tawa anak-anak terdengar nyaring dari sebuah lapangan kecil di RW 07, Kelurahan Karawaci Baru. Mereka berlari, menyanyi, mewarnai, dan berjoget sambil memeluk balon di perut temannya bukan hanya bermain, tapi juga belajar. Di hari itu, Pancasila bukan sekadar kata-kata dalam buku, tapi menjadi bagian dari permainan yang menyenangkan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang digelar oleh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Cabang Cimone dan Ciledug, khususnya dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM). Mereka membawa semangat Hari Lahir Pancasila dengan cara yang tak biasa dengan mendekat ke masyarakat, terutama anak-anak, dan menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dalam balutan aktivitas yang mereka cintai.
Tema kegiatan, “Bermain, Belajar, dan Berkreasi Bersama Nilai-Nilai Pancasila”, bukan sekadar slogan. Di tangan para mahasiswa ini, nilai-nilai seperti gotong royong, persatuan, dan cinta tanah air diterjemahkan menjadi aktivitas yang sesuai dengan dunia anak-anak.
F. Juan, mahasiswa UBSI sekaligus ketua pelaksana kegiatan, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat respons warga.
“Kami sadar, Pancasila sering terasa jauh dan abstrak, apalagi bagi anak-anak. Tapi kalau kita masuk lewat dunia mereka bermain, berkarya mereka akan lebih mudah menyerapnya,” ujarnya.
Juan dan timnya merancang lomba-lomba seperti menyanyi lagu kebangsaan, mewarnai gambar yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, serta permainan kolaboratif seperti joget balon. Setiap permainan punya pesan. Setiap tawa punya makna.
Tak hanya anak-anak, para orang tua dan warga RW 07 pun ikut larut dalam semangat acara. Beberapa membantu menjadi juri, membagikan air minum, atau sekadar ikut menyemangati dari pinggir lapangan.
Ferdy Yusuf, Ketua RW setempat, mengaku senang dengan pendekatan yang digunakan para mahasiswa. Baginya, edukasi seperti ini jauh lebih mengena dibanding sekadar ceramah formal.
“Kita ini negara besar, tapi kadang lupa menanamkan dasar-dasar kebangsaan sejak kecil. Dengan acara seperti ini, anak-anak tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga punya jiwa kebangsaan,” ujarnya sambil tersenyum.
Menariknya, kegiatan ini juga dihadiri perwakilan dari beberapa universitas lain yang memiliki program studi Ilmu Komunikasi, seperti Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS), Universitas Raharja, dan Universitas Budhi Dharma. Mereka datang bukan hanya sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari kolaborasi semangat kebangsaan.
“Kalau kita mau membentuk generasi bangsa yang kuat, kita juga harus bisa kerja sama, lintas kampus, lintas komunitas. Dan ini salah satu buktinya,” kata salah satu peserta dari UNIS.
Bagi HIMAKOM UBSI, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan atau formalitas organisasi. Mereka sadar, mungkin tak semua anak langsung memahami arti lima sila yang mereka dengar hari itu. Tapi benihnya sudah ditanam dalam tawa, dalam warna krayon, dalam irama lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan ramai-ramai.
Kegiatan itu ditutup dengan pembagian hadiah dan foto bersama. Tapi dampaknya bisa jadi tak selesai di situ. Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin akan ada anak dari RW 07 Karawaci Baru yang tumbuh dengan semangat gotong royong dan cinta tanah air dan mengingat hari ketika ia pertama kali memahami Pancasila lewat balon dan lagu.
Karena kadang, cinta pada bangsa tak perlu ditanam dengan kata-kata besar. Cukup dengan tawa yang tulus dan niat yang baik.
Artikel Lain :
Resensi Buku: Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno
Pancasila Bintang Penuntun yang Kian Redup
Penulis : Alda
Editor : Redaktur






