“Mengaranglah dengan ilham, tulislah yang engkau lihat, yang engkau alami, dan yang engkau rasakan.”
— Buya Hamka
Perkataan Buya Hamka ini seakan menjadi penyemangat bagi saya untuk menulis. Bahwa menulis bukan sekedar merangkai kata, tetapi juga merekam kenyataan yang kita lihat, kita alami, dan kita rasakan. Tidak ada yang lebih jujur daripada tulisan yang lahir dari pengalaman nyata, dari pergulatan batin yang dirasakan sendiri.
Tulisan ini bukan sekedar kritik, tetapi sebuah refleksi kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Kemunafikan bukan hanya milik para politisi atau mereka yang bergelimang harta, tetapi juga bisa melekat pada sosok yang seharusnya menjadi panutan seorang “ahli ilmu”.
Ahli Ilmu: sosok yang seharusnya berintegritas
Seorang ahli ilmu adalah mereka yang memiliki pemahaman mendalam dalam suatu bidang tertentu – khususnya disini – ilmu agama Islam. Mereka memahami Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh, qiyas, dan ijma’ sebagai pedoman dalam kehidupan.
Namun, bagaimana jika mereka yang memahami hukum-hukum Islam justru menjadi orang pertama yang mengkhianati? Bagaimana jika mereka menggunakan ilmu untuk kepentingan pribadi, menghalalkan kezaliman dengan dalih “demi kemaslahatan”.
Ketika ilmu tidak lagi digunakan untuk memperjelas kehidupan, malah untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, disitulah kemunafikan seorang “ahli ilmu” lahir.
Kemunafikan: wajah ganda yang menyesatkan
Istilah munafik berasal dari bahasa Arab “nafaq“, yang berarti kepura-puraan atau “ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan”. Dalam bahasa Yunani penggambarannya terkesan mengejek dengan istilah “hypokrites“, merujuk kepada “aktor bertopeng di atas panggung”.
Seorang munafik bisa juga mereka yang berpura-pura baik, tetapi menyimpan kebusukan di dalam hati. Dalam konteks keagamaan, seorang ahli ilmu [dan] munafik adalah mereka yang berkata keadilan tetapi berlaku zalim, mereka mengajarkan kejujuran tetapi hidup dalam kebohongan, serta mereka penyeru kesalehan yang memanipulasi agama untuk kepentingan sendiri.
Allah SWT dengan tegas melaknat orang-orang munafik ini dalam Al-Qur’an:
“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”
Bahkan Rasulullah SAW dalam haditsnya menyebutkan empat tanda kemunafikan:
“Jika diberi amanat, ia berkhianat; jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika berselisih, ia berbuat zalim.”
[HR. Muslim]
Sangat menyedihkan ketidak empat peringatan ini malah kita temukan pada mereka yang bergelar “ulama” atau “cendikiawan”. Orang-orang yang seharusnya menjadi cahaya bagi umat, tetapi justru menjadi kegelapan yang membutakan.
Contoh nyata kemunafikan dalam sejarah
Sejarah Islam telah mencatat banyak contoh kemunafikan untuk menjadi pelajaran. Salah satu tokoh munafik terkenal adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka Madinah yang berpura-pura masuk Islam, tetapi diam-diam bersekongkol dengan musuh-musuh Rasullah SAW.
Di masa kini, kita bisa melihat kemunafikan serupa:
- Dalam politik, banyak pemimpin yang yang mengatasnamakan agama demi meraih kekuasaan – setelahnya – malah mengabaikan nilai-nilai Islam;
- Dunia akademik, ada pengajar yang menyampaikan nilai-nilai moral, tetapi mereka sendiri terlibat korupsi akademik, plagiarisme, terkadang menyalahgunakan wewenang;
Jika ilmu hanya sebagai alat mencari keuntungan, dengan begitu ilmu kehilangan maknanya. Seorang ahli ilmu [dan] munafik tidak hanya merusak diri sendiri, juga menyesatkan orang lain.
Perspektif Al-Qur’an dan Hadits
Selain QS. At-Taubah: 68, ada banyak ayat lain yang mengecam kemunafikan. Salah satunya adalah QS. Al-Baqarah: 8-10:
“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”
Ayat ini menggambarkan bagaimana orang-orang munafik berpura-pura beriman, tetapi sebenanya mereka adalah pendusta.
Hadits Nabi juga menegaskan bahwa seorang ulama yang tidak mengamalkan ilmunya akan mendapat azab yang lebih-lebih berat:
“Di hari kiamat nanti, orang yang paling berat singsanya adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya.”
[HR. Ad-Darimi]
Lalu apa seorang ahli ilmu [dan] munafik tidak takut dengan ancaman Allah ini? Ataukah hati mereka telah mati sehingga tidak lagi peduli pada kebenaran?
Perspektif Prikologi: mengapa orang menjadi munafik?
Dalam tinjauan psikologis alasan orang menjadi munafik, akibat ketakutan akan kehilangan status [ulama atau intelektual] yang lebih perduli dengan jabatan serta penghormatan, daripada kebenaran.
Ada juga tekanan sosial menjadikan mereka berpura-pura saleh karena takut dikucilkan masyarakat, serta godaan kekuasaan dan materi yang menggunakan ilmu sebagai alat keuntungan pribadi.
Kemunafikan yang tanpa disadari menipu diri sendiri. Mereka merasa aman karena masih dihormati, padahal sedang membuat lubang bagi kehancuran “jati diri” mereka.
Moral Kampus “diuji” Dana Beasiswa
Era digital sekarang, segala dapat mudah terungkap pada publik, termasuk bagaimana kemunafikan yang terjadi di dunia akademik— yang seharusnya menjadi rumah cetakan generasi berintergritas, justru sering menjadi rumah pratik korupsi.
Seperti, Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang diperuntukkan bagi mahasiswa kurang mampu agar dapat mengeyam pendidikan tinggi tanpa kendala biasa, dengan berani disalahgunakan oleh oknum dosen atau pihak manajemen kampus sendiri.
Dari pemotongan dana beasiswa oleh pihak kampus dengan alasan “administrasi” sampai “sumbangan sukarela”. Duga dosen atau pejabat kampus yang memanipulasi data penerima agar jatuh ke tangan orang tak berhak.
Pihak manajeman kampus yang menggunakan dana itu untuk kegunaan pribadi, seperti perjalanan fiktif atau proyek tak transparan. Sampai ancaman bagi mahasiswa yang melaporkan penyalahgunaan tersebut, berupa ancaman pencabutan beasiswa.
Hal yang lebih menyakitkan ketika para penjahat ini justru sering tampil di seminar akademis dan diberi lebel “Pendidik yang peduli Mahasiswa miskin”. Mereka bicara soal keadilan dan pemerataan pendidikan, sembari merancang cara mengingkari ucapan sendiri.
Keadaan ini bukan hanya merugikan mahasiswa yang betul-betul membutuhkan, tetapi merosotkan moral akademik. Kampus sebagai tempat yang menanamkan nilai kejujuran berbalik melawan secara terstruktur.
Selanjutnya, di mana para “ahli ilmu” yang menjadi penjara kebenaran? Mengapa mereka diam ketika kezaliman terjadi? atau sistem culas ini telah menjadi kelopak mata yang tak terbuka terhadap ketidakadilan?
Ini kemunafikan yang telah mencederai dunia akademisi dan harapan generasi muda. Jika seorang mahasiswa sejak awal sudah melihat ketidakadilan didalam kampusnya, bagaimana bisa percaya dunia luar sana sedang lebih baik?
Kita tanyakan kembali esensi pendidikan tinggi: apakah kampus telah berubah menjadi stempel gelar, atau tempat pahat membetuk manusia yang berintegritas? Jika praktik semacam ini terus terbiar, maka tidak hanya kepercayaan pada akademik yang hilang, harapan terhadap masa depan menjadi putus asa.
· · ·
Seorang ahli ilmu [yang] munafik bukan hanya menyesatkan dirinya, tetapi merusak umat. Jika ilmu justru sebagai alat keuntungan pribadi atau kelompok, tentu ilmu kehilangan berkahnya.
Kita harus waspada terhadap kemunafikan, yang ada diluar dan yang ada didalam bisa tumbuh kapan saja dalam diri kita. Jangan hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi juga bercermin pada diri sendiri. Akhirnya, hanya kejujuran dan ketulusan yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
“Media masih berteriak-teriak dengan kebohongan, hanya kepada langit kita berharap kebenaran, dan dunia ini palsu.”
— Soe Ho Gie
Penulis : Boy Dowi
Editor : Redaktur






