Tony Blair di Danantara Sebagai Figur Internasional atau Kepentingan Asing?

| PENAMARA . ID

Selasa, 25 Februari 2025 - 18:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kier Starmer PM Inggris dengan bayangan Tony Blair dalam artikel

Ilustrasi Kier Starmer PM Inggris dengan bayangan Tony Blair dalam artikel "Apa yang masih perlu dipelajari Partai Buruh dari Tony Blair, 25 tahun kemudian?" oleh: Robert Shrimsley | Sumber: Financial Times/ft.com

Penunjukan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, sebagai anggota Dewan Pengawas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menuai banyak perbincangan publik. Banyak pihak mempertanyakan urgensi dan kelayakan tokoh kontroversial ini dalam mengelola investasi strategis Indonesia.

Danantara, yang akan mengelola aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan investasi nasional, membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki pengalaman global, tetapi juga rekam jejak bersih dan kepentingan yang selaras dengan kepentingan nasional. Namun, rekam jejak Tony Blair justru menunjukkan sebaliknya —ia kerap terlibat dalam keputusan politik yang kontroversial dan dianggap lebih mengutamakan kepentingan asing dibandingkan kepentingan rakyat.

Jejak Kontroversial Tony Blair:

Perang Irak 2003: Keputusan Berdasarkan Kebohongan

Salah satu keputusan paling kontroversial yang diambil Tony Blair selama menjadi Perdana Menteri (PM) Inggris adalah keputusannya membawa Inggris bergabung dalam invasi ke Irak pada tahun 2003. Keputusan ini didasarkan pada klaim bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal (WMD).

Namun, laporan Chilcot Inquiry pada 2016 membuktikan bahwa klaim tersebut tidak didukung bukti yang kuat. Blair dianggap telah membesar-besarkan ancaman Irak untuk membenarkan perang yang akhirnya menghancurkan negara tersebut dan menyebabkan ratusan ribu kematian.

Skandal Blair dan Kedekatan dengan Rezim Otoriter

Setelah meninggalkan jabatannya sebagai PM, Blair dikenal karena hubungannya dengan berbagai rezim otoriter dan perusahaan multinasional. Ia diduga menerima bayaran tinggi untuk memberikan konsultasi politik dan ekonomi kepada pemerintah seperti Kazakhstan, Mesir di bawah Abdel Fattah el-Sisi, dan Arab Saudi. Blair juga dikritik karena perannya dalam memberikan legitimasi kepada rezim-rezim tersebut, yang memiliki catatan buruk dalam hak asasi manusia.

Skandal Keuangan dan Lobi Politik

Blair telah lama dikaitkan dengan praktik lobi politik yang meragukan. Laporan investigatif menunjukkan bahwa ia menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan kontrak bisnis yang menguntungkan. Melalui Tony Blair Institute for Global Change, ia memiliki jaringan luas yang melibatkan kepentingan bisnis dan politik global. Banyak yang mempertanyakan apakah posisinya di Danantara hanya akan menjadi kepanjangan dari kepentingan modal asing yang ingin mengendalikan investasi strategis Indonesia.

Mengapa Indonesia Perlu Berhati-hati?

Penunjukan Blair sebagai Dewan Pengawas Danantara menimbulkan pertanyaan besar: apakah pemerintah Indonesia benar-benar mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keterlibatan tokoh dengan rekam jejak yang begitu kontroversial?

Dalam konteks kedaulatan ekonomi, Indonesia harus berhati-hati dalam memilih figur yang akan memegang peran strategis dalam pengelolaan aset nasional. Kehadiran Blair dalam lembaga ini bisa membuka celah bagi intervensi asing dalam kebijakan ekonomi Indonesia, serta berisiko menempatkan kepentingan global di atas kepentingan nasional.

Penunjukan Tony Blair sebagai Dewan Pengawas Danantara bukan hanya keputusan yang mengejutkan, tetapi juga mengkhawatirkan. Pemerintah seharusnya lebih transparan dalam menjelaskan alasan di balik pemilihan Blair, serta memastikan bahwa tokoh yang terlibat dalam lembaga strategis ini benar-benar memiliki kepentingan yang sejalan dengan visi pembangunan Indonesia.

Jika rekam jejak Tony Blair selama ini lebih banyak membawa dampak negatif bagi negara-negara yang bekerja sama dengannya, apakah Indonesia akan menjadi korban berikutnya?


Artikel Lain : Danantara Peluang atau Ancaman Ekonomi Indonesia?

Penulis : Ginanjar Putro Wicaksono

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Di Bawah Bayang-Bayang Rezim Prabowo dan Rule of Law yang Tersandera
Makan Bergizi Gratis yang Tak Pernah Bergizi dan Gratis; Proyek Bengis Pemerintahan Prabowo-Gibran
Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?
Rakyat yang Menanggung, Negara yang Menghitung
Tiga Provinsi Terendam, Pemerintah Bilang Belum Tetapkan Bencana Nasional
Retorika Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran; dari Janji ke Realisasi menuju Stagnasi
Krisis BBM Swasta; Rapuhnya Sistem Pengelolaan Energi Kita
DPR Bikin Emosi: Kok Bisa Orang-Orang ‘Kualitas Rendahan’ Duduk di Senayan?

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:41 WIB

Di Bawah Bayang-Bayang Rezim Prabowo dan Rule of Law yang Tersandera

Sabtu, 7 Februari 2026 - 04:01 WIB

Makan Bergizi Gratis yang Tak Pernah Bergizi dan Gratis; Proyek Bengis Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jumat, 9 Januari 2026 - 00:04 WIB

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Kamis, 25 Desember 2025 - 00:11 WIB

Rakyat yang Menanggung, Negara yang Menghitung

Jumat, 28 November 2025 - 19:40 WIB

Tiga Provinsi Terendam, Pemerintah Bilang Belum Tetapkan Bencana Nasional

Berita Terbaru