Oleh: Saras Sandriyanti
Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April tidak boleh berhenti sebagai sebatas seremoni kultural atau rutinitas tahunan yang terjebak pada simbol kebaya dan citra perempuan yang “lembut dan anggun.” Bagi kita, terutama kader progresif, Hari Kartini harus menjadi ruang kontemplasi kritis untuk memaknai kembali esensi perjuangan perempuan dalam sejarah bangsa serta dalam konstelasi perjuangan rakyat hari ini. Maka, dalam momen ini, refleksi Hari Kartini tentang perempuan, emansipasi, serta jalan revolusi sosial harus segara dikumdangkan.
Kartini adalah simbol semangat emansipasi, bukan dalam kerangka liberalisme individualistik ala Barat, tetapi dalam konteks perjuangan kebangsaan yang lebih luas. Ia lahir dan hidup dalam masyarakat feodal, patriarkal, dan kolonial, yang secara struktural menindas perempuan pribumi. Dalam keterbatasannya, Kartini menunjukkan perlawanan melalui jalan pendidikan dan pemikiran. Surat-suratnya menjadi bukti bahwa kebebasan berpikir dan hak perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah bentuk awal perlawanan terhadap sistem yang menindas.
Namun perjuangan belum selesai. Dalam masyarakat hari ini, bentuk penindasan terhadap perempuan telah berubah wujud, ia menjadi lebih subtil, sistemik, dan terinstitusionalisasi. Kapitalisme modern mengeksploitasi tubuh dan tenaga perempuan dalam dunia kerja, meminggirkan perempuan dari ruang pengambilan keputusan, bahkan menggiring perempuan pada standar-standar ideal yang dibentuk oleh pasar.
Sebagai Sarinah, perempuan revolusioner yang menjadi bagian dari gerakan rakyat, kita tidak boleh terjebak dalam romantisasi tokoh, tetapi harus menjadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk menguatkan kembali garis perjuangan. Emansipasi sejati hanya dapat terwujud apabila perempuan turut terlibat aktif dalam perjuangan kelas, dalam membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik.
Sebagaimana Bung Karno menegaskan bahwa perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya kuat, maka kokohlah bangsa. Maka menjadi tugas historis kita untuk memastikan bahwa perjuangan perempuan tidak tercerabut dari akar Nasionalisme, anti-imperialisme, dan Marhaenisme.
Hari Kartini adalah ajakan untuk bangkit. Menjadi perempuan yang sadar, terdidik, serta revolusioner. Perempuan yang bukan hanya mampu membaca nasibnya, tetapi juga menulis sejarah baru bersama rakyat tertindas. Sehingga, makna refleksi Hari Kartini yang berbicara soal perempuan dan emansipasi, dapat melahirkan jalan revolusi sosial yang nyata bagi seluruh perempuan.
Artikel Lainnya: Mewarisi serta Merawat Semangat Perjuangan Kartini
Penulis : Saras Sandriyanti
Editor : Agnes Monica






