PENAMARA.ID – Kepemimpinan jadi jualan dalam berbagai diskusi organisasi, seminar orientasi, atau pelatihan orang bersertifikasi sejak wabah Covid-19 mulai melumut dan membuat masyarakat terpeleset, juga makin sering ketika pucuk kepemimpinan suatu lingkup dilemparkan kepada orang yang dikenal demi lancarnya kepentingan.
Terlihat jelas sebetulnya yang dijual atau diceritakan adalah ilmu manajemen, kepemimpinan bukan hal yang bisa dibuat dalam beberapa jam atau sekedar pengalaman karena lebih paham persoalan mekanis maupun teknis. Untuk menjadi pemimpin juga bukan soal kasihan akan kekurangan yang dalam lingkup kepemimpinannya, dia mesti datang dalam rasa memiliki orang yang sedang dia pimpin.
Persoalan kelompok yang dilihat dengan kepekaan kepemimpinan akan membuat persoalan itu menjadi lebih ramping, bahkan menjadikannya sebagai suatu peluang kedepan. Pemimpin yang ditempah pengalaman empiris dan objektif menganalisa dengan khas berfikir serta keputusan yang elastis makin jarang ditemui, karena kehormatan seperti itu diberikan kepada orang yang memiliki pencapaian individu bukan dilihat dari proses menyelesaikan persoalan bersama.
Tingkat-tingkat organisasi masyarakat, perusahaan, juga kampus menjadi merosot untuk sekedar menyelesaikan suatu tahapan kerja. Dari pemimpin yang mendebat bukan mengayomi, pemimpin yang menyembunyikan peluang dan keuntungan, lebih aneh jika dia tidak paham posisi nya sebagai pemimpin – kemerosotan ini banyak terlihat yang terjadi tidak hanya pada generasi muda yang dituduh kurang berpengalaman, juga terjadi pada yang tua mengaku berpengalaman – mungkin dasar inti kepemimpinan mesti diuraikan kembali secara jelas.
Mengurai selera masyarakat umum tentang kepemimpinan saat ini sungguh beragam – ada yang melihat dari perawakan gagah karena dianggap mampu dalam memimpin kelompok seakan mencari yang terkuat dalam kawanan binatang – ada yang senang dengan kesederhanaan supaya bisa merangkul seakan mereka adalah orang bawah dan mesti diperhatikan – ada pula ingin kecerdasan sedangkan kelompoknya diisi orang malas.

Kita berbicara tentang pemimpin yang pantas untuk masa mendatang sembari menyesali pilihan kemarin dan menyalahkan mayoritas, persoalan ini hanya jadi paradoks jika masyarakat tidak siap dengan lepas dari pemimpin yang sebenarnya tidak mampu namun dipajang oleh pikiran palsu : dia pemilik, mereka berkeluarga, dan ‘aku’ berhasrat menjadi besar – pikiran palsu ini lah yang terus memunculkan pemimpin yang sama saja.
Kita tak akan menuju lingkup yang lebih besar soal kepemimpinan sebelum mampu mengungkapkan rasional dan rasa kepantasan seseorang pemayung serta tidak sadar kesempatan untuk mengucap ada didepan mata. Rasional dan rasa itu mesti disampaikan dengan berani ditengah kepemimpinan yang didukung banyak kepentingan busuk dengan pikiran palsu diatas.
Merasakan Kepemimpinan Palsu dan Sebenarnya
Kepemimpinan yang berdasarkan strategi sembarangan dapat dirasakan bagaikan gatal bahkan sampai dibawah kulit, terasa buta dijalankan karena memang buta arah tujuannya, kita menjadi paralitik – enggan untuk bergerak karena memang pemimpin nya tidak berkemampuan bergerak. Gejala-gejala ini bukan hanya menjadi penyakit bagi organisasi tapi menjadi penyakit bagi kesuburan dan keinginan masyarakat.
Ada juga ambisius gelap yang sengaja didorongkan kepada kelompok yang jelas tidak ada hubungan untuk tujuan bersama, ini lebih muda disadari oleh kita sebelum tajuk kepemimpinan diambil oleh sosok tersebut – kelompok hanya jadi pijakan agar dia jadi lebih tinggi menginjak kepuasan pribadinya, kelompok digunakan untuk mengasah ketajamannya bersiasat.

Sayangnya manusia lebih mudah ditipu oleh sosok bersahaja yang otodidak paham psikologi manusia yang dengan mudah memanipulasi masyarakat akhirnya terpesona untuk dipimpin oleh mereka, entah bagaimana itu juga berkembang bebas dengan sebutan ‘dark psikologi’. Pola psikologi ini sungguh mengkhawatirkan jika dipadukan dengan ambisi pribadi barusan.
Persoalan dalam tulisan ini sebetulnya masih dalam perenungan penulis, karena setipis plastik untuk merasakan perbedaan kesahajaan manipulator dengan karisma kepemimpinan. Namun kepemimpinan berkarisma sangat peka dengan kebutuhan kelompok, mereka dapat dengan berani memberi instruksi yang berisiko dengan jaminan diri sendiri karena kenal dengan kemampuan kelompoknya. Sedangkan manipulator akan mendorong kelompoknya tanpa memikirkan risiko jika tujuan sudah selangkah didepan mata.
Rasa ingin menuruti tanpa pertimbangan dan rasa sungkan adalah dua hal berbeda untuk mengetahui apa kita dipimpin oleh orang berkarisma atau orang yang tajam akan pengalaman. Memang karisma seolah susah ditemui, namun itu bisa juga terbangun dalam susah senang yang terjadi dalam kelompok dengan pemimpin.
Asah Kepemimpinan Dalam Pertarungan
Kepemimpinan yang gagah bukan dilihat dari perawakannya, kecerdasan bukan dilihat dari tau segalanya, sederhana bukan dilihat penampilannya. Pemimpin yang akan tetap gagah meski kecil parawakannya, cerdas meski bertanya pada anggotanya, sederhana pikiran dan ucapannya – tidak dibangun dalam 1 seminar 2 diskusi dan 3 keberhasilan, itu bagai pedang patah dicairkan dalam panas dan ditempah dengan keras – lagi dan lagi setiap dia patah kembali.
Menghindari fenomena melebar mestinya masyarakat yang sadar akan kesalahan ini berani melempar ketakutan kepada ilmu kepemimpinan palsu yang digenggam penuh keyakinan untuk kita patahkan kepalsuan itu, bukan untuk memalukan tapi agar dia melelehkan diri menempah kekerasan dan mengasah ketajamannya jika dia sungguh-sungguh.
Pemimpin yang sebenarnya tidak akan pernah ada, hal semacam itu hanya membuat kita berhenti menjadi kuat. Memang bagi yang dalam tahap ini terasa membosankan ditengah masyarakat yang skeptis dan persoalaan masyarakat yang lebih cepat dari pada penyelesaiannya. Namun bukan rumusan penyelesaiannya yang belum diketemukan tapi persoalan yang belum kita sederhanakan.
Baca juga : Kudatuli Catatan Kelam yang Belum Menemukan Titik Terang Dalam Sejarah Indonesia Dimasa Orde Baru
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Redaktur






