PENAMARA.ID – Pada tanggal 28 Desember 1962, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Solo menyaksikan sebuah pidato yang menggugah semangat dari Presiden Soekarno. Pidato ini disampaikan dengan semangat yang menggelora, menyerukan para peserta muktamar untuk hidup dengan keberanian menghadapi risiko, menggunakan istilah “vivere pericoloso” yang berarti hidup dalam bahaya. Pesan ini sangat relevan untuk membentuk mental anak muda Indonesia saat ini agar berani menghadapi tantangan zaman.
Soekarno menegaskan bahwa keberanian adalah elemen kunci dalam perjuangan. “Saya selalu menganjurkan agar berani hidup menghadapi bahaya. Dalam bahasa asing disebut vivere pericoloso,” ujar Soekarno dengan penuh keyakinan. Pesan ini mengajak anak muda untuk tidak gentar menghadapi bahaya, baik dalam skala pribadi maupun dalam skala bangsa. Keberanian ini bukan hanya untuk mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga untuk mencapai tujuan yang lebih besar demi kemajuan bangsa.
Sebagai anak muda, kita sering dihadapkan pada berbagai rintangan dan hambatan yang dapat menggoyahkan semangat kita. Namun, meneladani semangat “vivere pericoloso” dari Soekarno, kita harus berani menghadapi segala risiko dan tantangan dengan kepala tegak. Soekarno mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang sering menghadapi bahaya dalam perjuangannya. “Jika perlu, mari kita hadapi bahaya tersebut. Vivere Pericoloso,” tegas Soekarno. Dengan menanamkan mental keberanian ini, anak muda akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup dan tidak mudah menyerah.
Pidato Soekarno berlangsung dengan penuh semangat hingga mendekati waktu shalat Jumat. Pada pukul 11.45 WIB, peserta muktamar mulai bersiap untuk shalat. Soekarno kemudian menurunkan tempo pidatonya, memberikan nasihat bahwa keberanian ini tidak boleh mengarah pada pembangkangan terhadap Tuhan. “Namun, jangan kita vivere pericoloso terhadap Tuhan. Janganlah kita menantang bahaya yang ditentukan oleh Tuhan,” katanya.
Pidato Soekarno di Muktamar NU 1962 adalah manifestasi dari semangat juang dan keberanian yang ia harapkan dari rakyat Indonesia. Semangat “vivere pericoloso” yang diserukannya tetap relevan hingga kini, menginspirasi generasi penerus untuk selalu berani dalam menghadapi tantangan hidup, sembari tetap memegang teguh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.
Anak muda Generasi Z Indonesia harus mengambil pelajaran dari pidato ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berani menghadapi risiko, berani berinovasi, dan berani berjuang demi kebenaran adalah langkah awal untuk menciptakan perubahan positif. Dengan mental “vivere pericoloso,” kita dapat menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan dan optimisme.
Artikel Lain : Klaim Gelar Habib Terhadap Rhoma Irama
Penulis : Ari Sujatmiko






