Jakarta sebagai pusat ekonomi, politik, dan kebudayaan utama Indonesia, telah mengasimilasi akar identitas lokalnya. Begitu banyak generasi muda Jakarta tidak lagi mengenal atau punya rasa memiliki budaya Betawi yang “ramah, toleran, dan nyeblak — apa adanya”.
Laju modernisasi serta arus urbanisasi telah membuat pemudaran budaya seolah biasa saja, untuk meninggalkan lenong, gembang kromong, ondel-ondel, hingga tradisi kuliner juga penuturan sehari-hari. Sama dengan “biasa saja” menjadi asing di tanah sendiri, asing dengan bangsa sendiri.
Dan saat satu dekade lalu banyak sanggar Betawi yang tutup, pada 5 Mei kemarin “Sanggar Manggar Kelape” justru merayakan Hari Jadinya yang ke-21 tahun, merayakan upaya konsistensi serta ideologis untuk melawan ancaman yang dianggap “biasa saja” selama ini.

Sanggar Manggar Kelape mulai dirintis sejak tahun 2004 oleh Edy Mulyadi sebagai ketua yayasan, besama Kholid Zein dan Saparudin Uwo yang akrab dipanggil “Bang Uwo”. Ketiganya berangkat dengan visi “masyarakat Jakarta yang cinta budaya Betawi”, mereka percaya budaya hanya akan hidup jika diwariskan melalui wadah ekspresif yang membumi, dengan—
Pelestarian budaya lewat pelatihan pencak silat, tari tradisional, kuliner khas, kesenian lokal, dan pengajian rutin. Semua kegiatan ini menekankan beberapa aspek utama yang disebut “Empat Pilar”, yaitu memperkokoh akidah, menanamkan nilai kebangsaan, menjaga akhlak yang santun, dan memupuk keterampilan atau talenta.
Jejak kegiatan yang telah dijalankan selama 21 tahun:

Dalam perjalanannya, sanggar ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga menjadi tempat bernaung bagi anak muda Jakarta yang ingin mengenal jati dirinya. Padatnya gerak kota, Manggar Kelape hadir sebagai ruang jeda, tempat tradisi bukan sekedar tontonan, tetapi menjadi bagian kehidupan dengan pemaknaan secara kolektif.
Seperti yang disebutkan sebelumnya banyak sanggar Betawi yang tutup antara tahun 2014-2015, maka tantangan tentu tidak sedikit, yang mana sanggar harus mengupayakan finansial secara mandiri bersamaan dengan terbatasnya ruang terbuka di Jakarta, dan persepsi modern yang menganggap budaya “tradisional” sesuatu yang “kuno”.
Lebih dari itu, tantangan utama lain ialah menelusuri sejarah Betawi yang kurang terdokumentasi, ibarat jejak di tanah yang tertimbun waktu lalu, harus dikoredin [bahasa Betawi ‘menggali’]. Banyak kisah hanya bertahan dari mulut ke mulut, sementara catatan tertulis terbatas dan tersebar di luar jangkauan masyarakat umum.
Tidak sedikit budaya Betawi telah terdistorsi oleh pandangan kolonial atau terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional yang lebih menonjol di Jakarta. Akibatnya identitas Betawi hanya terwakili lewat simbol permukaan saja, seperti ondel-ondel atau kerak telor — tanpa paham bahwa dibaliknya ada konteks sosial, perjuangan, dan dinamika yang membentuknya sebagai entitas budaya.
Perjuangan panjang 21 tahun sanggar ini dalam melakukan studi tentang kehidupan masyarakat Betawi; juga sebagai wadah provokasi melawan pergeseran budaya, khususnya Betawi yang dianggap “biasa saja”. Tentu dapat membangun kesadaran akan identitas sebenarnya dari masyarakat Jakarta serta identitas sebenarnya Indonesia — sebagai bangsa pejuang.
Artikel Lain :
Bootcamp Islamin Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas Perkuat Ukhuwah
Krisis Keyakinan di Barat upaya Meninggalkan Agama?
Mewarisi serta Merawat Semangat Perjuangan Kartini
Penulis : Hasyim Ahmadi
Editor : Devis Mamesah









