Sanggar Manggar Kelape, Dua Dekade Menjaga Budaya Betawi

| PENAMARA . ID

Selasa, 6 Mei 2025 - 23:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Logo dari Sanggar Manggar Kelape. | Dokumentasi: Spesial

Logo dari Sanggar Manggar Kelape. | Dokumentasi: Spesial

Jakarta sebagai pusat ekonomi, politik, dan kebudayaan utama Indonesia, telah mengasimilasi akar identitas lokalnya. Begitu banyak generasi muda Jakarta tidak lagi mengenal atau punya rasa memiliki budaya Betawi yang “ramah, toleran, dan nyeblak — apa adanya”.

Laju modernisasi serta arus urbanisasi telah membuat pemudaran budaya seolah biasa saja, untuk meninggalkan lenong, gembang kromong, ondel-ondel, hingga tradisi kuliner juga penuturan sehari-hari. Sama dengan “biasa saja” menjadi asing di tanah sendiri, asing dengan bangsa sendiri.

Dan saat satu dekade lalu banyak sanggar Betawi yang tutup, pada 5 Mei kemarin “Sanggar Manggar Kelape” justru merayakan Hari Jadinya yang ke-21 tahun, merayakan upaya konsistensi serta ideologis untuk melawan ancaman yang dianggap “biasa saja” selama ini.

Sanggar Manggar Kelape
Para tokoh pelopor Sanggar Manggar Kelape dalam HUT ke-21 tahun: (kiri ke kanan) Edy Mulyadi, Saparudin Uwo alias Bang Uwo, Bang Boang, Kholid Zein. | Dokumentasi: Devis Mamesah

Sanggar Manggar Kelape mulai dirintis sejak tahun 2004 oleh Edy Mulyadi sebagai ketua yayasan, besama Kholid Zein dan Saparudin Uwo yang akrab dipanggil “Bang Uwo”. Ketiganya berangkat dengan visi “masyarakat Jakarta yang cinta budaya Betawi”, mereka percaya budaya hanya akan hidup jika diwariskan melalui wadah ekspresif yang membumi, dengan—

Pelestarian budaya lewat pelatihan pencak silat, tari tradisional, kuliner khas, kesenian lokal, dan pengajian rutin. Semua kegiatan ini menekankan beberapa aspek utama yang disebut “Empat Pilar”, yaitu memperkokoh akidah, menanamkan nilai kebangsaan, menjaga akhlak yang santun, dan memupuk keterampilan atau talenta.

Jejak kegiatan yang telah dijalankan selama 21 tahun:

Dalam perjalanannya, sanggar ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga menjadi tempat bernaung bagi anak muda Jakarta yang ingin mengenal jati dirinya. Padatnya gerak kota, Manggar Kelape hadir sebagai ruang jeda, tempat tradisi bukan sekedar tontonan, tetapi menjadi bagian kehidupan dengan pemaknaan secara kolektif.

Seperti yang disebutkan sebelumnya banyak sanggar Betawi yang tutup antara tahun 2014-2015, maka tantangan tentu tidak sedikit, yang mana sanggar harus mengupayakan finansial secara mandiri bersamaan dengan terbatasnya ruang terbuka di Jakarta, dan persepsi modern yang menganggap budaya “tradisional” sesuatu yang “kuno”.

Lebih dari itu, tantangan utama lain ialah menelusuri sejarah Betawi yang kurang terdokumentasi, ibarat jejak di tanah yang tertimbun waktu lalu, harus dikoredin [bahasa Betawi ‘menggali’]. Banyak kisah hanya bertahan dari mulut ke mulut, sementara catatan tertulis terbatas dan tersebar di luar jangkauan masyarakat umum.

Tidak sedikit budaya Betawi telah terdistorsi oleh pandangan kolonial atau terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional yang lebih menonjol di Jakarta. Akibatnya identitas Betawi hanya terwakili lewat simbol permukaan saja, seperti ondel-ondel atau kerak telor — tanpa paham bahwa dibaliknya ada konteks sosial, perjuangan, dan dinamika yang membentuknya sebagai entitas budaya.

Perjuangan panjang 21 tahun sanggar ini dalam melakukan studi tentang kehidupan masyarakat Betawi; juga sebagai wadah provokasi melawan pergeseran budaya, khususnya Betawi yang dianggap “biasa saja”. Tentu dapat membangun kesadaran akan identitas sebenarnya dari masyarakat Jakarta serta identitas sebenarnya Indonesia — sebagai bangsa pejuang.

Artikel Lain :

Bootcamp Islamin Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas Perkuat Ukhuwah

Krisis Keyakinan di Barat upaya Meninggalkan Agama?

Mewarisi serta Merawat Semangat Perjuangan Kartini

Penulis : Hasyim Ahmadi

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Ketika Putusan Pengadilan tak Lagi Berkepastian Hukum; Wujud Diamnya Negara Lewat OJK
GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Bahas Dugaan Pengadaan Korupsi Mesin Jahit dan Peran Pemuda dalam Pengawasan Hukum.
FKPPAI Jakarta Timur dan DPP GJPI Resmikan Posko Bantuan Bencana di Hari Pahlawan : Gerakan Nyata Pemuda untuk Kemanusiaan dan Alam.
Forum Komunikasi Pemuda Pecinta Alam Indonesia Resmi Bentuk Pengurus Wilayah Jakarta Timur Masa Bhakti 2025–2028.
Menwa Jayakarta Apresiasi Sikap Positif Gubernur Jakarta dalam Menyikapi Pengurangan DBH dan Isu Mengendapan Dana.
Desak Presiden Cabut IUP Smart Marsindo dan Tangkap Bos HSM; SEMMI Malut Datangi KPK
Efrem Elman Siarif Ndruru dan Noval Fahrizal Gunawan Terpilih Sebagai Ketua Cabang GMNI Jakarta Timur Periode 2025-2027.
Perayaan HUT PERATIN, Herman Febrian Resmi Dilantik dan Dikukuhkan Sebagai Ketua DPC PERATIN Jakarta Pusat.

Berita Terkait

Kamis, 25 Desember 2025 - 00:34 WIB

Ketika Putusan Pengadilan tak Lagi Berkepastian Hukum; Wujud Diamnya Negara Lewat OJK

Sabtu, 29 November 2025 - 16:00 WIB

GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Bahas Dugaan Pengadaan Korupsi Mesin Jahit dan Peran Pemuda dalam Pengawasan Hukum.

Jumat, 14 November 2025 - 17:39 WIB

FKPPAI Jakarta Timur dan DPP GJPI Resmikan Posko Bantuan Bencana di Hari Pahlawan : Gerakan Nyata Pemuda untuk Kemanusiaan dan Alam.

Rabu, 29 Oktober 2025 - 16:00 WIB

Forum Komunikasi Pemuda Pecinta Alam Indonesia Resmi Bentuk Pengurus Wilayah Jakarta Timur Masa Bhakti 2025–2028.

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 15:37 WIB

Menwa Jayakarta Apresiasi Sikap Positif Gubernur Jakarta dalam Menyikapi Pengurangan DBH dan Isu Mengendapan Dana.

Berita Terbaru

Ilustrasi Sumber : DigitalMama.id

Teknologi

Menakar Kebijakan Blokir Akun Anak

Senin, 9 Mar 2026 - 11:17 WIB