Resensi Buku: Seni Mencintai – Erich Fromm

| PENAMARA . ID

Sabtu, 31 Mei 2025 - 01:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Buku Seni Mencintai oleh Erich Fromm, diterbitkan basabasi.co, cetakan pertama (2018) | Sumber: Ist

Buku Seni Mencintai oleh Erich Fromm, diterbitkan basabasi.co, cetakan pertama (2018) | Sumber: Ist

Sinopsis Singkat

Buku Seni Mencintai adalah karya penting dari seorang psikolog humanistik, Erich Fromm, yang menjelaskan cinta sebagai suatu seni dan keterampilan yang harus dipelajari dan dilatih secara sadar. Buku ini menantang anggapan umum bahwa cinta adalah perasaan spontan yang muncul dengan sendirinya.

Fromm memaparkan bahwa cinta adalah tindakan aktif yang melibatkan perhatian, pengorbanan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Buku ini membuka wawasan tentang berbagai bentuk cinta—cinta romantis, cinta sesama, cinta diri, dan cinta kepada Tuhan—serta bagaimana masing-masing bentuk tersebut mengandung nilai moral dan spiritual yang dalam.

Cinta Adalah Keterampilan yang Perlu Dilatih

Fromm memulai buku ini dengan menjungkirbalikkan keyakinan umum bahwa cinta adalah perasaan yang terjadi secara alami. Menurutnya, banyak orang menginginkan cinta, tetapi tidak siap menjalani proses panjang untuk mencapainya. Ia menekankan bahwa cinta bukan sekadar emosi, tetapi seni yang menuntut pengetahuan dan usaha.

“Cinta adalah suatu seni. Sama seperti seni lain, seperti musik atau melukis, cinta membutuhkan pengetahuan dan usaha.”

Ini menjelaskan gagasan utama Fromm bahwa cinta harus dipelajari layaknya keterampilan lainnya. Dalam konteks ini, cinta tidak cukup hanya dengan niat atau hasrat. Diperlukan disiplin, konsentrasi, dan komitmen untuk benar-benar mampu mencintai. Gagalnya banyak hubungan bukan karena kurang cinta, tapi karena tidak memahami bagaimana mencintai.

Ragam Bentuk Cinta

Fromm menguraikan bahwa cinta memiliki berbagai bentuk: cinta orang tua kepada anak, cinta erotis, cinta diri, cinta sesama manusia, dan cinta kepada Tuhan. Dari semua bentuk ini, cinta kepada sesama manusia mendapat tekanan khusus sebagai landasan etika dan kemanusiaan dalam hidup bermasyarakat.

“Cinta kepada sesama manusia adalah cinta antara dua manusia yang tidak saling memiliki satu sama lain, tetapi tetap saling menghormati dan memberi.”

Menegaskan bahwa cinta sejati kepada sesama tidak didasarkan pada kepemilikan atau penguasaan, melainkan pada keinginan untuk memberi tanpa pamrih. Fromm menekankan bahwa cinta jenis ini tidak mengenal dominasi atau eksploitasi, melainkan tumbuh dari rasa hormat dan pengakuan terhadap martabat manusia lain sebagai pribadi yang merdeka. Cinta kepada sesama manusia mencerminkan kedewasaan emosional yang menjadi dasar bagi solidaritas sosial dan perdamaian.

Kritik Terhadap Masyarakat Modern

Fromm tidak hanya berbicara tentang cinta sebagai relasi pribadi, tetapi juga dalam konteks sosial. Ia menyoroti bagaimana masyarakat kapitalistik telah mengkomersialisasi cinta, menjadikannya semacam transaksi yang kehilangan makna sejatinya. Akibatnya, hubungan menjadi dangkal dan rapuh.

“Dalam budaya modern, cinta sering kali dilihat sebagai objek untuk ‘dibeli’ dan ‘dijual’, bukan sebagai hubungan yang hidup.”

Kutipan ini mengandung kritik tajam terhadap cara manusia modern memperlakukan cinta sebagai barang konsumsi. Fromm mengingatkan bahwa cinta sejati bukan tentang mencari pasangan ‘terbaik di pasaran’, melainkan tentang membangun hubungan yang hidup, saling menghargai, dan tumbuh bersama secara emosional dan spiritual.

Dimensi Moral dan Spiritualitas dalam Cinta

Di bagian akhir, Fromm menempatkan cinta sebagai satu-satunya jalan keluar dari keterasingan dan kehampaan eksistensial manusia. Ia melihat cinta bukan hanya sebagai relasi personal, tetapi sebagai jalan spiritual untuk menyatu dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan Tuhan.

“Cinta adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal dan memuaskan bagi masalah keberadaan manusia.”

Ini merangkum seluruh pesan moral dan filosofis buku ini. Fromm menyatakan bahwa hanya dengan mencintai secara mendalam dan bertanggung jawab, manusia dapat menemukan makna hidup dan melampaui rasa keterasingan. Cinta menjadi dasar untuk hidup yang utuh dan bermakna.

· · ·

Seni Mencintai adalah karya monumental yang tak lekang oleh waktu. Buku ini bukan hanya relevan bagi psikolog dan filsuf, tetapi bagi siapa saja yang ingin memahami dan menghidupi cinta secara lebih bermakna dan bertanggung jawab. Erich Fromm membuka mata kita bahwa cinta adalah seni hidup yang harus dipelajari dan dijalankan secara penuh kesadaran.

Membaca buku ini adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih peka, bijaksana, dan mampu membangun hubungan harmonis. Di tengah dunia yang sering kali mementingkan kecepatan dan kesenangan instan, Seni Mencintai mengajak kita kembali ke esensi cinta yang sejati dan mendalam.


Kirim resensi buku yang kamu baca ke PENAMARA.ID

Penulis : Boy Dowi

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?
Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas
Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?
Baru Gajian Dompet Langsung Tipis
Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah
Suharto dan Gelar Pahlawannya; Upaya Penundukan Kembali Gerakan Perempuan

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 03:55 WIB

Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki

Senin, 26 Januari 2026 - 02:02 WIB

Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:48 WIB

Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:33 WIB

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Senin, 5 Januari 2026 - 15:53 WIB

Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?

Berita Terbaru