Janji kampanye Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno untuk menghadirkan Program Sarapan Gratis bagi pelajar akhirnya urung terealisasi. Program yang semula digadang sebagai inisiatif unggulan itu kini resmi dialihkan menjadi proyek renovasi kantin sekolah.
Program Sarapan Gratis pertama kali diluncurkan sebagai bagian dari visi besar pasangan Pramono-Rano sejak masa kampanye Pilkada Jakarta pada Oktober 2024. Tujuan utamanya adalah memastikan siswa, terutama dari keluarga kurang mampu, mendapatkan asupan nutrisi yang layak sejak pagi tanpa membebani biaya keluarga.
“Kami ingin melengkapi program makan siang gratis dari Presiden Prabowo Subianto. Jika pusat memberikan makan siang, maka kami akan memberikan sarapan,” ujar Pramono dalam debat Pilkada Jakarta, Minggu (27/10/2024).
Pramono, yang mengaku berasal dari keluarga sederhana, menyebut program ini lahir dari kepekaannya terhadap kebutuhan masyarakat Jakarta. Bahkan, program tersebut direncanakan masuk dalam prioritas 100 hari kerja pertama setelah dilantik.
Target Prioritas dan Keterlibatan UMKM
Plt Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sarjoko, sempat mengungkap bahwa pelaksanaan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari wilayah-wilayah RW kumuh yang menjadi prioritas. Anggaran program dirancang menggunakan dana APBD DKI Jakarta 2025, dan akan melibatkan sekitar 2.600 pelaku UMKM lokal sebagai penyedia sarapan.
“Targetnya tahun ini sudah bisa dimulai, kita lakukan secara parsial dengan mempertimbangkan kesiapan lokasi dan anggaran,” ujar Sarjoko, Kamis (16/1/2025).
Rencana ini bahkan sempat memicu penyesuaian struktur APBD yang telah disahkan sebelumnya, karena belum teralokasi secara spesifik dalam perencanaan anggaran 2025.
Ketua Tim Transisi Pramono-Rano, Ima Mahdiah, menjelaskan bahwa seluruh UMKM yang dilibatkan wajib lolos uji klinis dari Dinas Kesehatan. Dari sekitar 3.000 UMKM, hanya 2.699 yang dinyatakan memenuhi standar kelayakan penyajian makanan.
Menuai Kritik dan Dinilai Redundan
Namun, tak semua pihak menyambut program ini dengan antusias. Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai adanya tumpang tindih antara program Sarapan Gratis dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintah pusat.
“Ini bisa menimbulkan kebingungan di masyarakat. Apalagi jika programnya mirip, publik bisa salah paham antara kewenangan pusat dan daerah,” kata Trubus, Jumat (17/1/2025).
Ia juga mengkritisi beban anggaran besar yang berpotensi menggeser prioritas pembangunan sektor lain di Jakarta.
Ditekan Pusat, Pramono Ubah Haluan
Puncaknya, pada Sabtu (8/3/2025), Pramono resmi mengumumkan pembatalan program Sarapan Gratis dalam acara pembubaran tim sukses di Menteng, Jakarta Pusat. Sebagai gantinya, anggaran akan dialihkan untuk renovasi dan perbaikan fasilitas kantin di seluruh sekolah di Jakarta.
“Program sarapan pagi tetap kami laksanakan, namun bukan dalam bentuk penyediaan makanan langsung. Fokusnya kami alihkan ke renovasi kantin agar lingkungan makan siswa menjadi lebih bersih, sehat, dan layak,” ujar Pramono.
Ia menyebut bahwa perubahan ini merupakan hasil koreksi dari pemerintah pusat yang meminta agar seluruh program pangan siswa dikelola secara terpusat melalui MBG.
Menurut Pramono, larangan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, dalam pertemuan retreat kepala daerah beberapa waktu lalu.
“Pemerintah daerah tidak diizinkan menjalankan program sejenis MBG. Maka kami menyesuaikan,” jelas Pramono.
Solusi Alternatif di Tengah Tekanan
Meski program Sarapan Gratis batal, Pramono memastikan upaya peningkatan gizi dan kesejahteraan pelajar tetap menjadi prioritas. Renovasi kantin dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem penyediaan makanan sehat di sekolah sekaligus memberdayakan UMKM lokal.
“Kami tetap berkomitmen menyejahterakan siswa, meski jalurnya kini berbeda. Yang penting, hasilnya tetap untuk kebaikan pendidikan dan kesehatan generasi muda Jakarta,” tegas Pramono.
Artikel Lain :
Minyak Oplosan Merajalela, Badan Perlindungan Konsumen Jadi Penonton?
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






