PENAMARA.ID – Pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan moderen tentunya untuk kemajuan bangsa, tapi kemajuan palsu ini justu bentuk lain untuk perbudakan, kemajuan seperti ini adalah kemajuan untuk keuntungan negara dan lebih dalam untuk kekayaan dan menjadi kesombongan intelektual – ilmu pengetahuan berkembang jadi setan dalam diri, bukan lagi cahaya untuk dinyalakan.
Juga awal kemajuan industri demi kemajuan bangsa sangat abstrak dan justru bentuk absolutnya adalah kemajuan bagi golongan yang kaya. Sejak awal memang tidak ada raja yang ingin menginjak lumpur tempat rakyat menanam atau pemerintah yang menaruh empati tanpa kepentingan di wajah kusam rakyat.
Pendidikan menjadi hal lumrah yang dicita-citakan semua orang dengan dalih untuk kehidupan layak juga dibaliknya menjadi budak untuk kemajuan palsu – kapital yang membuat pendidikan tinggi bermuara pada danau korporasi, membagi sebesar mangkok kepada pekerja. Pendidikan diisi oleh pemuda yang berdiskusi ingin eksis dalam agama sementara mulutnya diisi oleh alkohol serta hati penuh dusta, perlawanan dan perjuangan ilmu pengetahuan untuk diabdikan kepada masyarakat menjadi ilusi untuk dibahas sabtu malam berikutnya, bahwa pendidikan itu berhasil jika mendapat pekerjaan yang layak kemudian memiliki keluarga yang anaknya diajarkan berenang dilaut korporasi.
Slogan tentang pendidikan tinggi untuk kehidupan yang baik dibanggakan oleh team marketing projek, padahal kualitas pendidiknya tidak sanggup memahami kehidupan sebagai keistimewaan dan unsur fundamental yang disampaikan dengan cara paling sederhana, dengan bahasa-bahasa kompendium. Ketika keberhasilan orang yang bersekolah dilihat dari apa yang didapat bukan bagaimana dia mendapatkan – sungguh penilaian yang terburu-buru untuk SD 6 tahun, SMP-SMA 6 tahun, kuliah IPK 4.0 tahun.
Setiap orang utuh saat masuk dunia kampus, justru menjadi setengah setelah keluar – menjadi setengah manusia yang setengahnya adalah dewa anti keramaian atau binatang tanpa naluri, pendidikan tinggi itu pun mesti memiliki batas untuk siapa yang betul-betul mengerti keistimewaan.
Pendidikan tinggi begitu biasa saja sejak menjadi hal umum bagi semua orang, menjadi inflasi sarjana yang tau bahwa perpanjangan namanya tidak sesuai dengan keperibadiaannya – binatang yang dikebiri nalurinya bertahun-tahun. Dan, sarjana yang menguasai keahliannya yang dikuasai bertahun-tahun dan sadar tidak bisa berbuat banyak selain bagi diri sendiri – dewa kesendirian yang tangguh.
Akhir nyata pendidikan menjadi mediokritas (biasa-biasa saja), sejak cum-laude yang berkehormatan besar menjadi cum-insulsus (hambar), ‘yang bernilai’ menjadi tidak bernilai dan ‘yang tidak bernilai’ menjadi ‘kehormatan baru’. Apa sejak ini suatu negara menjadi mundur? Kita tau negara mundur karena terlalu berlebihan membuat dan menikmati sesuatu sehingga yang lain menjadi timpang – dikecualikan pada kebodohan yang merugikan bagi diri sendiri dan untung bagi orang licik.
Pendidikan tinggi itu untuk orang berprevilage, untuk orang besar yang pantas mendapat pendidikan tinggi dan bukan orang kecil. Hal besar akan sesuai pada kapasitas besar dan tidak pada lainnya : sedang (setengah-setengah) atau kecil (tidak mampu). Mungkin menjengkelkan tapi bagaimana kita menjadi tidak menjengkelkan, tidak menjadi sarjana bunga matahari yang sibuk mencari matahari, tidak menjadi orang yang tergesah-gesah karena takut dengan kegagalan binatang yang dikebiri nalurinya, membuat pendidikan seolah-seolah keberuntungan dan hasil pendidikanmu dibagikan kepada tangan-tangan pengemis bukan membuat dia tidak mengemis sepeser hasil dan rasa kasihan – mereka adalah kegelapan dalam pendidikan.
Sistem pendidikan sejak awal mestinya terarah dan tidak kacau-balau dengan membuat orang menjadi setengah orang. Bagaimana bisa sebuah pemerintahan tidak menangis melihat pemudanya salah jalan minat dalam pendidikan dan menuduh mereka tidak berjuang dan kreatif padahal tidak membuat kejelasan dan kejelasan serta kejelasan apa itu ‘minat’, apa itu ‘kreatif’. Lalu salahkah jika pemuda menuding? Atau mereka memang haram untuk negara; wahai raja kecil?
Melihat Kebohongan Pejabat Tanpa Ilmu Psikologi
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Redaktur






