Oleh: Alpun Alhusnah
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Tangerang
Ospek atau orientasi mahasiswa baru adalah tradisi yang umum yang banyak diterapkan organisasi, baik organisasi formal maupun organisasi non-formal. Tujuan utama dariospek ini biasanya untuk memperkenalkan anggota baru kepada budaya organisasi, membangun kekompakan dan memberikan pemahaman dasar tentang struktur dan visi misi organisasi saat ini. Namun dalam praktiknya, ospek sering disalah gunakan sebagai kesempatan bagi senior untuk menunjukkan dominasi mereka terhadap junior, hingga akhirnya memunculkan dampak psikologis yang merugikandan menyebabkan organisasi menjadi tidak kompetitif.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di level universitas, tetapi juga di tempat kerja atau organisasi lainnya. Di banyakorganisasi, khususnya yang memiliki struktur hierarkis yang kaku, senioritas menjadi alat untuk mengontrol anggota baru, dengan alasan penghormatan terhadap pengalaman. Namun, ketidakadilan muncul ketika sistem senioritas ini tidak lagidigunakan sebagai sarana untuk membimbing, melainkanuntuk menindas dan merendahkan anggota junior. Pada titikinilah ospek, yang seharusnya menjadi ajang pengenalan, justru berubah menjadi alat dominasi, menciptakan ketegangan, dan merusak esensi penghormatan dalam organisasi.
Penghormatan Dalam Senioritas: Tujuan dan Praktek yang Sesungguhnya
Dalam organisasi, penghormatan terhadap senioritas pada dasarnya bertujuan untuk menjaga stabilitas, memberi arahan kepada anggota baru, dan memanfaatkan pengetahuandan pengalaman senior untuk membimbing yang lebih muda. Seringkali, senioritas dianggap sebagai pengakuan atas kerja keras dan dedikasi seseorang untuk organisasi, yang memungkinkan mereka untuk menduduki posisi yang lebih tinggi di hierarki organisasi.
Dalam bukunya “The Leadership Challenge”, James S. Clawson mengatakan penghormatan terhadap senioritas membantu organisasi bertahan hidup dengan memanfaatkan pengalaman yang dimiliki anggota senior dalam membuat keputusan stategis. Anggota senior juga memainkan peranpenting dalam membangun ikatan sosial yang kuat antara anggota organisasi karena mereka bertindak sebagai mentor dan mengajarkan prinsip atau aturan kepada anggota baru.
Dalam konteks ospek, peran senior harusnya memberikan bimbingan dan pembekalan yang positif, sehingga anggotabaru merasa diterima dan siap berkontribusi dalam organisasi.
Namun dalam kenyataannya, senioritas seringkali digunakan untuk tujuan yang berbeda, misal untukmempertahankan kekuasaan, mengontrol, dan memanipulasianggota baru. Ketika ospek lebih berkonsentrasi pada memperkenalkan anggota junior kepada “ritual” dan aturanyang menekan daripada mempelajari budaya dan tujuan organisasi, proses tersebut lebih cenderung mengarah pada penyalagunaan kekuasaan yang tidak adil.
Ketidakadilan yang Muncul dari Praktik OspekOrganisasi yang Salah Kaprah
Banyak aspek ketidakadilan muncul ketika ospekberubah menjadi ajang dominasi senioritas. Salah satu contohnya adalah ketika anggota senior menggunakan posisi mereka untuk memaksa anggota baru melakukan tugas yang tidak masuk akal atau bahkan merendahkan martabat mereka. Seringkali, tugas-tugas tersebut tidak terkait dengan tujuan organisasi atau nilai-nilai yang ingin diajarkan, tetapi lebih pada menumbuhkan ketakutan dan kepatuhan tanpa alasanyang jelas.
Max Weber, seorang sosiolog terkenal berpendapat bahwa teori birokrasi dan struktur hierarkis dapatmenyebabkan ketidakadilan sosial jika sistem yang terlalu berpusat pada senioritas dan berfokus pada kepatuhan dan penghormatan kepada senior daripada pengembangan individu. Praktik ospek yang lebih mengutamakan kepatuhandan penghormatan kepada senioritas daripada pengembanganindividu dapat menyebabkan anggota junior merasa tidak dihargai, bahkan sampai malas untuk sekadar hadir di acara-acara seperti rapat anggota dan undangan dari prodi atau fakultas lain untuk mempererat silaturahmi dan solidaritas.
Sebagai contoh, anggota baru yang bergabung dalam organisasi di berikan makan telat yang menyebabkan sakit dan diharuskan melakukan sejumlah aktivitas yang sangat melelahkan fisik dan mental. Dalam situasi seperti ini, ada ketidakadilan yang jelas, dan anggota junior merasa dihukum padahal melakukan kesalahan karena dipengaruhi oleh senior.
Ospek Sebagai Sarana Penguatan Dominasi
Ketika anggota senior menggunakan ospek untuk menunjukkan kekuatan mereka, mereka sering mengabaikankebutuhan emosional dan psikologis anggota baru, yang sebenarnya membutuhkan bimbingan dan rasa aman untukberkembang. Salah satu masalah utama dalam ospek organisasi adalah bahwa ini dapat menjadi cara bagi senior untuk memperkuat dominasi mereka atas anggota baru.
Menurut ahli kepemimpinan Brene Brown dan penulis buku “Dare To Lead”, keberaninan dalam kepemimpinan muncul ketika ada ruang yang aman di mana setiap anggota dapat berkontribusi tanpa khawatir akan dihukum atau ditolak argumentasinya. Namun, keberaninan untuk berbicara dan berpartisipasi sering kali dibungkam oleh kekuatan akandominasi senior dalam banyak praktik ospek organisasi yang berbasis pada senioritas. Di sini, senioritas yang seharusnya menjadi alat untuk membimbing, malah berubah menjadi alatpenindasan yang menimbulkan ketidakadilan dan dapatmenghalangi potensi anggota baru.
Kondisi ini dapat merusak nilai dan tujuan organisasi. Ketika organisasi membiarkan praktik ospek yang tidak adiluntuk berkembang, mereka menciptakan budaya ketidakadilan yang dapat menyebabkan konflik yang lebih besar. Jika anggota merasa tidak diperlakukan dengan adil, merekacenderung kehilangan rasa ketertarikan akan organisasi atauloyalitas terhadap organisasi mereka, sehingga berpotensi merugikan organisasi dalam jangka panjang.
Mengatasi Ketidakadilan dalam Ospek: Pendekatan yang Lebih Adil dan Inklusif
Untuk mengatasi ketidakadilan muncul dari sistem ospekyang menekankan senioritas sebagai bentuk dominasi. Organisasi harus memastikan bahwa ospek bukanlah ajangdominasi senior terhadap junior, melainkan sarana untukmenyebarkan nilai-nilai organisasi dan membangun hubunganyang saling mendukung atau solidaritas.
Dalam bukunya Give and Take, pakar psikologi organisasi Adam Grant menyarakan untuk menggantikan hierarki yang kaku dengan budaya yang mengutamakan kerjasama, penghargaan, dan pertukaran pengetahuan. Dalam konteks ospek, ini menunjukkan bahwa senior harus bertindak sebagai mentor yang menawarkan dukungan atau arahan dari pada menuntut kepatuhan buta. Langkah pertama yang penting menuju lingkungan yang adil dan inklusif adalah memberi anggota baru kesempatan untuk berkontribusi dan mengungkapkan pendapat mereka tanpa memotong pendapatnya oleh senior dan senior jangan merasa paling benar. Hal ini menimbulkan keterbukaan dalam organisasi.
Selain itu, dalam buku “The Leadership Challenge”, James Kouzes dan Barry Posner mengatakan bahwapemimpin organisasi harus memberikan ruang untuk inovasidan eksperimen tanpa khawatir akan kegagalan ataukonsekuensi. Dalam situasi seperti ini, ospek tidak bolehmerendahkan atau menghukum anggota baru, tetapisebaliknya harus membantu mengidentifikasi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Ospek yang sehat adalah mereka yang dapat memperkenalkan anggotabaru ke budaya organisasi tanpa membuat mereka merasaterluka atau tidak adil.
Artikel Lain :
Dekolonisasi Hak Asasi Manusia
Revolusi Hijau dan Multikulturalisme Pangan
Penulis : Alpun Alhusnah
Editor : Redaktur






