Negara dalam Proyek Politik Neo-Liberalisme

| PENAMARA . ID

Sabtu, 19 April 2025 - 02:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Demo Mogok Massal di Prancis | (Foto: AP Photo/Thibault Camus)

Demo Mogok Massal di Prancis | (Foto: AP Photo/Thibault Camus)

Tulisan ini berangkat dari keberisikan isi kepala saya tentang sistem pendidikan dan sistem kesehatan di negeri tercinta Indonesia, yang ternyata — hanya dapat dinikmati oleh kelas masyarakat tertentu. Kelas tertentu masyarakat seperti apa? Tentunya saya teringat buah pemikiran Marx atas fenomena sosial yang menjadi perjuangan hidup peradaban manusia yaitu tentang perjuangan kelas, pertentangan antara kelas pletariat dan kelas kapital. Jika kita berefleksi sedikit, apakah negara kita sedang dalam proyek politik neo-liberalisme? Mari kita bahas.

Menurut saya menjadi relevan dan sangat dirasakan mengingat perjuangan kelas ini memang menjadi hal yang nyata terjadi di depan mata kita hari ini. Bagaimana tidak, ditambah faktor penopang perbedaan kelas yang ada, jurang bernama neo-liberalisme semakin memperparah keadaan sosial kita hari ini, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan seperti yang akan saya bahas lebih lanjut. Jika negara kita terjebak dalam proyek politik atau agenda neo-liberalisme, saya rasa perjuangan kita akan menjadi agak sulit dan kita perlu merumsukan sebuah agenda politik alternatif terhadap fenomena tersebut.

Saya melihat bahwa terdapat 2 hal yang cukup mendasar untuk sebuah negara (pemerintah) dalam menjamin warga negaranya dengan baik. Pertama adalah persoalan pendidikan dan kedua adalah persoalan kesehatan. Kedua klasifikasi ini memberikan dampak terhadap penguatan kapasitas serta kapabilitas sumber daya manusia suatu negara. Karena kesehatan dan pendidikan sebenarnya sangat dekat dengan individu manusia.

Menyinggung narasi saya terkait dengan gagasan neo-liberalisme, saya mencoba berpikir kalau memang penerapan sistem sosial kita hari ini, dimana negara (pemerintah) pasif dalam sistem pasar yang kemudian mempunyai dampak terhadap keadaan sosial kita hari ini, pendidikan dan kesehatan sangat sulit dijangkau oleh kaum atau masyarakat miskin dengan kelas sosial menengah ke bawah. Fenomena sosial ini kemudian memberi saya pandangan bahwa gagasan liberalisme sebenarnya tidak semenyenangkan itu, tidak pula memberikan kebebasan kepada semua orang. Mengutip kata Angela Davis, seorang aktivis perempuan kulit hitam Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa “ gagasan kebebasan memang menginspirasi. Tapi apa artinya? Jika Anda bebas dalam arti politik tetapi tidak punya makanan, apa itu? Kebebasan untuk kelaparan? ”. Ini yang kemudian cukup mengunggah pandangan saya.

Salah satu kebijakan atau penerapan gagasan neo-liberalisme adalah flesibilitas modal yang kemudian memberikan pemerintahan terhadap negara untuk tidak campur tangan negara dalam pengendalian harga. Privatisasi badan usaha negara yang dikendalikan oleh swasta juga memberikan ruang kontrol yang bebas terhadap pengusaha. Supremasi pasar pada dasarnya menekan kontrol atau pengaruh negara dalam pengendalian harga sehingga proses liberalisme dalam bidang ekonomi ini hanya selalu kembali ke sistem liberalisme klasik yang pada akhirnya dapat membawa kita pada krisis yang berkelanjutan.

Pengaruh gagasan neo-liberal ini mempunyai dampak buruk yang sangat serius terhadap kelas sosial menegah kebawah atau masyarakat miskin kota hari ini. Posisi pasifnya negara (pemerintah) hari ini dalam berbagai sektor sosial mengakibatkan privatisasi di sejumlah bidang dan salah dua nya adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Hari ini, yang bisa menikmati atau mendapat akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang mumpuni adalah kalangan atau kelas sosial di masyarakat menegah keatas. Kebebasan yang kita idam-idamkan sebagai individu pada akhirnya tidak diimbangi dengan akses pemerataan sehingga berdampak pada ketimpangan sosial.

Ini tidak mengherankan mengapa situasi dan kondisi hari ini cukup problematik apalagi masalah pendidikan dan kesehatan yang angkanya melambung tinggi. Sekolah bukan lagi untuk membentuk manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu tetapi sekolah hari ini sudah menjadi sangat komersial, ada barang ada harga. Keadaan dan kondisi yang sangat relevan yang dapat saya gambarkan. Pendidikan untuk setiap orang adalah mitos belaka, kesehatan adalah hak setiap orang juga menjadi mitos terbesar peradaban manusia yang dilanggengkan. Kita semua hidup dalam kemunafikan.

Seperti yang saya singgung diatas, gagasan tentang kesetaraan tidak pula diimbangi dengan pemberian akses yang merata terhadap setiap orang. Absen nya negara (pemerintah) dalam menjamin kesejahteraan sosial adalah bentuk dari pengabaian terhadap konstitusi serta ideologi negara Indonesia. Pada akhirnya, gagasan neo-liberalisme ini menurut saya pribadi justru semakin memperparah jurang kemiskinan, jurang ketidakadilan, serta kecenderungan untuk selalu menghisap yang lemah. Kapitalisme tak dapat terhelakan lagi, karena penghisapan kian bertambah jumlahnya. Ini semua jelmaan dari neo-liberalisme itu sendiri ketika ia menjadi proyek politik negara, khususnya Indonesia.

Pada akhirnya kesejahteraan masyakarat digadaikan hanya untuk kepentingan pemilik modal karena bidang penting seperti pendidikan dan kesehatan sudah dimonopoli oleh pasar. Pengharapan terhadap kehidupan yang lebih baik memiliki titik sulit untuk hari ini. Bagaimana caranya kita tetap berada di tengah situasi dan kondisi yang sebenarnya kian mendesak kita untuk menjadi asing di tanah sendiri? Kekhawatiran ini hanya saya punya untuk tetap berpengharapan sekaligus akan selalu menjadi perjuangan seumur hidup.


Artikel lain: resensi buku dunia shophie jostein gaarder

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster
IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?
Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas
Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?
Baru Gajian Dompet Langsung Tipis

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 23:54 WIB

8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster

Senin, 2 Maret 2026 - 14:27 WIB

IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 03:55 WIB

Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki

Senin, 26 Januari 2026 - 02:02 WIB

Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:48 WIB

Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?

Berita Terbaru