Muncul ‘Keyakinan’ Baru di Barat, Krisis Spiritual untuk Meninggalkan Agama?

| PENAMARA . ID

Rabu, 8 Januari 2025 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

[kiri sumber: newyorker.com] Ibram X. Kendi, tokoh anti-rasis | [tengah] Greta Thunberg, inspirator gerakan Friday's for Future (FFF) | [kanan sumber: reformatorisch dagblad.nl] Egbert Schuurman, filsuf dan politisi Belanda

[kiri sumber: newyorker.com] Ibram X. Kendi, tokoh anti-rasis | [tengah] Greta Thunberg, inspirator gerakan Friday's for Future (FFF) | [kanan sumber: reformatorisch dagblad.nl] Egbert Schuurman, filsuf dan politisi Belanda

PENAMARA.ID – Peran agama demi terbangunannya peradaban tidak bisa dipungkiri, namun haus keyakinan diri dan multikulturalisme [menghargai keragamaan] yang luntur juga tak bisa dihindari. Kekecewaan terhadap agama, terkhusus Kristen sebagai agama mayor di Barat terlihat dengan sepinya rumah ibadah [gereja].

Di Amerika Serikat (AS), kecemasan sosial dan mental individu menjadi perhatian. Muncul upaya menjadikan MDMA atau Ekstasi sebagai obat gangguan stres pasca-trauma [ditolak], hingga Rejoyn, aplikasi terapi digital untuk mengobati depresi yang disetujui (2/4/2024) oleh Food and Drug Administration (FDA/Pengawasan Obat dan Makanan).

Sungguh mengejutkan, jika ketidakseimbangan neurotransmitter – seperti serotin dan dopamin yang memunculkan depresi diobati dengan “gawai”. Kita pikir teknologi digital cukup digunakan dengan bijak untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas, juga menyelesaikan kesulitan.

Orang-orang seolah kerasukan sesuatu demi mencari jati diri atau keyakinan. Padahal sejak dulu caranya tidak berubah, cukup dengan kontemplasi, interaksi sosial, dan beribadah. Seperti kekecewaan pada diri sendiri dilemparkan kepada orang lain – ditinggalkan juga Tuhan.

Dalam kurasukan itu muncul paham-paham yang diambil dari kata woke (terjaga), klimatik (iklim), dan teknikal – meskipun ada banyak lagi – yang disulap dengan imbuhan “isme” menjadi “keyakinan” baru bagi orang Barat. Kita sebaiknya memeriksa dulu keyakinan baru ini sebelum kurang yakin dengan ajaran agama.

Hadir Melawan Diskriminasi

Sulit mengambarkan “Woke-isme” secara netral tanpa bias politik dan polarisasi publik, juga tidak ada yang berani mendefinisikan secara tetap. ABC News menulis “definisi ‘woke’ berubah tergantung pada siapa anda bertanya.” – kepada kaum konservatif [mempertahankan tradisi] atau kaum progresif [mendorong pembaruan].

Ucapan “woke” diklaim sudah ada sejak tahun 1930-an (Wikipedia), merupakan kata sifat yang berasal dari bahasa Inggris Pribumi Afrika-Amerika (AAVE/African-American Vernacular English) untuk mengungkapkan “kewaspadaan terhadap rasisme dan diskriminasi”.

Pengambaran woke dipertegas oleh penulis Afrika-Amerika, William Melvin Kelley, di The New York Times yang terbit tanggal 20 Mei 1962 dengan judul “If You’re ‘Woke’ You Dig It; No mickey mouse can be ecpected to follow today’s Negro idiom with a hip assist.” [terjemahan: Jika anda ‘sadar’, anda memahaminya; yang tidak paham, tak dapat mengikuti idiom orang Negro saat ini, tanpa bantuan ‘yang paham’.]

Muncul 'Keyakinan' Baru
Artikel William Melvin Kelley, di The New York Times yang terbit tanggal 20 Mei 1962 dengan judul “If You’re ‘Woke’ You Dig It | (Kanan) William Melvin Kelly, Foto Arsip Sarah Lawrence College/Sumber: bungkhistory.org

Kelley pada tahun 2014 dipuji oleh Oxford English Dictionary (OED) atas penciptaan “woke” menjadi istilah politik. “Tagar #staywoke menjadi slogan gerakan Black Live Matter,” tulis Eli Rosenblatt, peneliti budaya Yahudi yang salah satu landasan disertasi doktoralnya dari buku rekomendasi Kelley.

OED mencatat penggunaan istilah “Wokeisme” sebagai sikap atau praktik progresif [kelompok] sayap kiri [namun tidak populer di Prancis] untuk yang menentang ketidakadilan sosial atau diskriminasi yang dipandang sebagai doktriner, sok benar, jahat, atau tidak tulus. Oleh karena itu: sikap atau praktik tersebut dipandang sebagai suatu gerakan dan agenda sosial kolektif.

Tidak jelas juga bagaimana Wokeisme disebut sebagai agama. Paham ini “berupaya mendominasi kehidupan semua warga negara [AS] dengan cara yang tidak pernah dapat dilakukan oleh agama Kristen, Yahudi, atau Islam karena klausal pendirian Konstitusi AS melarangnya.” Tulis Emilie Kao dan Bernard Randall pada The Heritage Foundation. (16/7/2024).

Dalam siaran edisi pagi National Public Radio (NPR) yang berjudul “Apa sebenarnya arti kata ‘woke’, dan dari mana asalnya?”, Leila Fadel, pembawa acara membuka dengan pernyataan: “Hanya empat huruf, tetapi memiliki dampak besar pada politik Partai Republik [Partai yang identik konservatif di AS] menjelang pemilihan 2024.” (19/Juli/2023).

Ron DeSantis, dari Partai Republik, terpilih sebagai Gubernur Florida di tahun 2018 [dilantik Januari 2019], terpilih kembali dan dilantik pada 2023. Dia dianggap orang yang paling gigih melawan ‘woke’. Dalam kampanye untuk pemilihan Gubernur Florida yang keduanya, Elon Musk [penyumbang untuk Donald Trump juga] adalah penyumbang kedua terbesar (sekitar $10 juta setara Rp161.5 miliar).

Wokeisme mulai diterima Gereja
Artikel tulisan Dr. Paul Chappell di Ministry127.com berjudul Agenda Woke dan Pengaruhnya terhadap Gereja dan Perguruan Tinggi.

Berangsur paham ini digunakan orang kulit putih terutama kaum progresif melawan diskrimasi. Lucunya Wokeisme bergeser untuk memperkuat istilah andalan kaum kesetaraan gender, seksualitas, dan LGBTQ+ [seperti heteronormatif, cisgender, nonbiner], dan melawan gereja atau pemuka agama yang menentang transgender – kita lewatkan saja ini. Namun bagaimana paham ini muncul di Belahan Bumi Barat:

Dalam survei European Union Agency For Fundamental Rights (FRA/Lembaga Uni Eropa untuk HAM) mengatakan orang kulit hitam di Eropa menghadapi semakin banyak rasisme, dari diskriminasi rasial, pelecehan, profil rasial (tindak mencurigai), diskriminasi pekerjaan, perumahan dan resiko kemiskinan lebih tinggi, serta anak muda keturanan Afrika tiga kali lebih mungkin putus sekolah.

Kepada Barat, Indonesia menawarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Daripada bermain-main dengan sebuat kata yang ditambah “isme” – padahal negara berkembang di Global Selatan begitu terpukau dengan buah pikiran Barat.

Penantang Kapitalisme-Konsumerisme

Greta Thunburg secara subjektif disebut “nabi” Klimatisme (climatism). Dia dikenal atas aksi “Mogok sekolah untuk iklim” depan Riksdag – parlemen Swedia. Aksi yang dimulai sejak Agustus 2018 itu mendesak pemerintah Swedia mengambil langkah tegas mengatasi krisis iklim, terkhusus mematuhi perjanjian iklim Paris (2016).

Sejak itu, jutaan siswa di berbagai dunia ikut berpartisipasi mogok sekolah setiap hari Jumat, gerakan ini di sebut Friday’s for Future (FFF). Thunberg sebagai ikon langkah nyata melawan krisis iklim, mengakhiri aksinya setelah lulus sekolah menengah pada Juni 2023.

Muncul 'Keyakinan' Baru
Greta Thunburg: Tokoh Tahun 2019 versi Majalah Time

Perubahan iklim begitu menjadi perhatian bagi dunia dalam konferensi besar, seperti BRICS (akronim: Brazil Russia, India, China, South Afrika) di Rusia pada Oktober 2024, Asia-Pacific Econommic Cooperation (APEC Peru) dan Gruop of Twenty (G20 Brasil) pada November 2024, menjadi pembahasan serius.

Gagasan “Klimatisme” lebih komprehensif ditulis dalam buku Profesor Mike Hulme (terbit 2023) berjudul Climate Change, Isn’t Everything [terjemahan: Perubahan Iklim, Bukanlah Segalanya]. Dia menulis paham itu dengan cara berbeda agar isu perubahan iklim tidak disalahgunakan, menurutnya Klimatisme dapat “menantang ideologi kapitalisme dan konsumerisme”.

Namun, Klimatisme atau perubahan iklim telah dikaitkan terlalu berlebihan – tanpa dasar ilmiah – dengan berbagai persoalan, seperti kesehatan manusia, keanekaragaman hayati, dan ekonomi. Dimanfaatkan juga oleh perusahaan atau pemerintah dengan klaim komitmen tanpa tindakan nyata. Misalnya:

Peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim dianggap mempercepat penularan penyakit, menyebabkan tanah longsor dan badai, serta merusak infrastruktur yang mengganggu aktivitas ekonomi – Klimatisme tampak menjelaskan segalanya. Ini menjadi “pembicaraan berbahaya [menimbulkan kepanikan berlebih] yang dapat mengarah kepada keputusan tergesa-gesa dan [dengan] solusi yang keliru serta berat sebelah” tulis Hulme di MailOnline.co.uk (25/6/2024).

Hulme juga menulis “apakah ideologi klimatisme didukung oleh sains. Sejak pertengahan 1980-an, memetakan suhu global telah menjadi hal yang tabu. Namun, suhu global merupakan indeks yang cacat untuk [dikaitkan] ke-seluruhan hubungan yang kompleks antara iklim dan kesejahteraan manusia serta integritas ekologi.”

Profesor Mike Hulme hanya ingin peringatan isu iklim tidak disampaikan secara berlebihan dan mengabaikan fakta lain, peran serta pengiat lingkungan patut kita dukung dan pertanyakan. Namun lebih dari mereka, isu iklim yang dipolitisasi mesti kita buka dengan nalar kritis – mungkin yang jadi sebab Klimatisme menanjak jauh.

Tentu ada fenomena yang sama dihadapi oleh Klimatisme, yaitu struggle for existence [Tan Malaka menerjemahkan: pertarungan buat hidup] dalam teori evolusi Charles Darwin. Gagasan yang awalnya riset malah digunakan sebagai motif untuk kolonialisme dan imperialisme.

Kepercayaan pada Teknologi dan Sains

Ada “kontras antara praktik reflektif dan teknikalisme [keduanya] dapat dikarikaturkan sebagai kontras antara estetika autentik yang sensitif dan saintisme yang kasar.” Tulis John Halliday, dalam makalah yang membahas praktik reflektif pada pendidikan guru seharusnya mendorong keaslian dan pemikiran kritis, malah terjebak dalam bias Teknikisme.

Technicism (Teknikisme) merupakan pengambaran kritis tentang penggunaan teknologi sebagai solusi berbagai masalah. Pemahaman yang memaksa ini telah membatasi kaidah kehidupan; teknologi yang harusnya lebih mempermudah justru mendominasi berbagai aspek kehidupan. Ketergantungan berlebih terhadap teknologi bukan suatu fenomena tak terlihat, mungkin kita sendiri adalah bagian dari keadaan ini.

Technicist
How To Say Technicist | Via Youtube Channel @EmmaSaying

Fenomena itu jelas, dari berbagai konten sosial media yang penuh dengan tips penggunaan Artificial Intelligence (AI); menganalisis data perusahaan tanpa melihat kecendrungan yang sebenarnya, sehingga masyarakat terpola mengikuti merek besar yang salah analisa; digital teknologi digunakan sebagai wajah percantik lembaga pemerintah dan pendidikan, berfokus kesana malah membuang tenaga untuk proses yang sebenarnya.

Berbagai fenomena itu telah menciptakan ide minimalis teknologi, seperti Cal Newport [digital minimalism], dia ingin mengurangi distraksi digital dan meningkatkan konsentrasi untuk hidup lebih fokus dan bermakna – seperti mencari kesempatan dalam kesempitan – pengembang teknologi membuat aplikasi minimalis teknologi sebagai lahan uang baru.

Egbert Schuurman mengkritik pandangan metafora dunia mekanistik telah menjadikan “bumi sebagai mesin” agar digantikan dengan metafora alkitabiah yang melihat bumi sebagai “kota-taman” untuk keharmonisan manusia, teknologi, dan alam.

· · ·

Secara historis semua paham itu lahir dari: hilangnya rasa kemanusiaan untuk kelompok tertentu dengan dokma kolonialisme yang memandang orang kulit hitam sekedar budak, mereka bangkit [woke] untuk melawan penindasan sistematis yang sejak dulu diderita; dan bagaimana para aktivis lingkungan menyaksikan penurunan keanekaragaman hayati, limbah industri, pengasaman laut, suhu meningkat, gunung es mencair, dan deforestasi hutan yang telah mencapai titik Klimaks. [MG]

Semua istilah baru sebelumnya, yang cukup baik untuk diambil hanya Klimatisme hasil pikiran Profesor Mike Hulme yang abadi dalam bukunya dengan latar belakang, batas-batas, dan argumentasi yang dibangun secara jelas daripada istilah lain. Dia ingin isu iklim dipikirkan secara ilmiah agar mencapai keputusan yang betul matang – isu yang yang harus diperhatikan secara “jeli” generasi sekarang.

Beatrice Acklin Zimmermann dalam artikel berjudul The age of substitute religions di Geopolitical Intelligence Service (GISreportonline.com) menulis “Akankah Friedrich Nietzche terbukti benar pada akhirnya?” dengan muncul berbagai pemahaman baru di Barat.


Artikel Lain : Kemiskinan Dibalik Sektor Kesehatan Indonesia

Penulis : Devis Mamesah

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India
Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham
Gustavo Petro dan Keberanian Diplomasi: Antara Solidaritas dan Risiko
Koalisi Progresif Mahasiswa UNTARA Lebih Maju : Farhan Rafiqi dan Mohammad Yusup Menang Pemira.
HMI Cabang Kabupaten Tangerang Gandeng Komunitas Hijaukan Pesisir Mauk.
Simak Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Mahasiswa UNPAM
Bullying dan Kesehatan Mental; Ini yang Dilakukan PKM UNPAM
Mahasiswa Unpam Siap Jadi Pelopor Perubahan Hidup Tanpa Narkoba
Berita ini 173 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Desember 2025 - 18:23 WIB

Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:31 WIB

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham

Jumat, 10 Oktober 2025 - 00:13 WIB

Gustavo Petro dan Keberanian Diplomasi: Antara Solidaritas dan Risiko

Jumat, 25 Juli 2025 - 04:17 WIB

Koalisi Progresif Mahasiswa UNTARA Lebih Maju : Farhan Rafiqi dan Mohammad Yusup Menang Pemira.

Minggu, 29 Juni 2025 - 14:20 WIB

HMI Cabang Kabupaten Tangerang Gandeng Komunitas Hijaukan Pesisir Mauk.

Berita Terbaru

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB

Ilustrasi : Banksy, Seniman Jalanan Misterius | take via hot.detik.com

Esai

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Selasa, 6 Jan 2026 - 11:33 WIB