Menjajaki Jalan Terjal Konsep ‘Sarinah’; Kembali kepada Patriarki?

| PENAMARA . ID

Sabtu, 15 Maret 2025 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Illustrasi perempuan dalam bunga | Oleh: Agnes Monica

Illustrasi perempuan dalam bunga | Oleh: Agnes Monica

Saat memilih tajuk ‘jalan terjal’, saya memiliki keinginan untuk mengajak pembaca dalam melihat sedikit tulisan Bung Karno yang masih menjadi persoalan tentang perjuangan perempuan yang tertuang di dalam karyanya berjudul Sarinah. Karya Bung Karno yang satu ini mungkin tidak se-tenar beberapa karyanya seperti Dibawah Bendera Revolusi, atau bahkan Penyambung Lidah Rakyat. Tapi, saya akan tetap mengajak pembaca untuk sedikit melihat sebagian pandangan Bung Karno yang cukup problematik terhadap pergerakan perempuan lewat bukunya.

Sekilas jika kita melihat gagasan Bung Karno lewat buku Sarinah, memang cukup memberikan pengharapan terhadap bagaimana pergerakan perempuan khususnya di Indonesia. Namun, jika dilihat lebih dalam lagi, buku ini ternyata masih menyimpan beberapa persoalan yang cukup menarik untuk kita bahas mengenai bagaimana konsep ’sarinah’ secara teoretis atau secara praksis dalam gerakan nyata.

Mengapa demikian, menurut saya secara pribadi konsep mengenai ‘Sarinah’ masih rumpang dalam sudut pandang tentang persoalan perempuan sehingga masih memiliki kecenderungan untuk mengontrol gerak perempuan yang pada akhirnya agaknya kurang selaras dengan tujuan akhir masyarakat sosialis yang di dambakan oleh Bung Karno, karena pada akhirnya konsepsi yang masih dipakai adalah masih persoalan kodrat alam yang akan saya bahas lebih lanjut.

Berangkat dari problem itu, saya beranggapan bahwa buku ‘Sarinah’ ini belum memiliki arah perjuangan yang konkrit terhadap gerakan perempuan khususnya di Indonesia. Faktor yang juga dapat melatarbelakangi situasi ini mungkin salah satunya adalah kurang masifnya diskusi mengenai buku ‘Sarinah’. Selain minimnya diskursus tentang buku ‘Sarinah’ ini, ulasan mengenai buku ‘Sarinah’ pun mungkin hanya dimuat di beberapa media dengan berbagai bentuk seperti jurnal atau esai.

Kembali kepada tajuk saya sematkan di atas, yang cukup menarik adalah soal gagasan Bung Karno tentang sistem sosial yang dianggap ‘selamat’ bernama patriarki. Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno bahwa “Kodrat menetapkan hukum keturunan lebih selamat menurut garis perbapakan (patrilineal) –di mana perempuan diperisterikan oleh satu orang laki-laki saja, dan tidak lebih — sehingga orang dapat mengatakan dengan pasti siapa ibunya dan siapa bapaknya…Ada pun di dalam hukum matriarkat, orang hanya akan mengenal siapa ibunya, tetapi tidak yakin siapa ayahnya”.

Apabila kita kaitkan dengan tingkatan pergerakan perempuan yang Bung Karno susun, ternyata, Bung Karno memang ingin dan secara sadar merawat ‘kodrat alam’ yang memang sudah mengakar di dalam masyarakat, baik itu di dalam alam Barat (situasi dan kondisi yang ia gambarkan di buku sarinah maupun untuk arah pergerakan perempuan Indonesia sendiri yang ia tuliskan di buku sarinah).

Kodrat alam yang dimaksud oleh Bung Karno adalah bagaimana tugas dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan menurut kodrat alamnya yaitu laki-laki dengan pekerjaan nya tentang menafkahi, bekerja diluar rumah sedangkan perempuan mengurus pekerjaan rumah berikut dengan hal pengasuhan anak dan melayani suami. Kodrat alam disini lebih kurang seperti kontruksi sosial atau bagaimana lingkungan, kebiasaan, budaya membentuk bagaimana ‘harusnya’ perempuan dan laki-laki dengan standar yang ajeg.

Maka, jika kita melihat kembali dalam tingkatan pergerakan perempuan yang Bung Karno susun, ia dengan tegas mengatakan “Oleh karena itu: Sempurnakanlah dirimu! Sempurnakanlah kecantikanmu, sempurnakanlah kecakapanmu berumah tangga, sempurnakanlah kepandaianmu meladeni suami, maka dengan sendirinja kedudukanmu sebagai Wanita akan lebih berharga dan lebih menyenangkan!”. Harusnya, dalam membahas persoalan arah gerakan perempuan, Bung Karno harus lebih dulu lepas dari jerat kodrat alam untuk sampai kepada tingkatan masyarakat sosialis.

Menurut saya gagasan untuk kembali kepada patriarki adalah bentuk dari pelanggengan ketertindasan Perempuan berdasarkan ‘kodrat alam’, hanya dibungkus sedemikian rupa untuk kemudian kita ‘menerima’ kembali proyeksi dari bentukan sosial terhadap perempuan. Penolakan saya terhadap gagasan sistem patriarki apakah kemudian membuat saya memilih sistem matriarki? Apakah kemudian sistem matriarki yang dianggap relevan terhadap jawaban atas persoalan yang ada?

Persoalan ini tentunya masih menjadi kajian hangat yang cukup menarik untuk dibahas. Kemudian narasi “Saya penganut patriarkhat tetapi hendaklah satu patriarkhat yang adil, yang tidak menindas kepada perempuan, satu patriarkhat yang tidak meng-ekses kepada kezaliman laki-laki di atas kaum perempuan” yang disebutkan Bung Karno sebenarnya mengandung pertanyaan besar bahwa sistem patriarki seperti apa yang adil? Mengapa Bung Karno tidak keluar dari antara sistem patriarki maupun matriarki untuk mencapai masyarakat yang sosialis seperti yang di idam-idamkan nya?

Sedikit persoalan yang menjadi highlight dalam tulisan ini sebenarnya hanya ingin mengajak kita semua khususnya para pembaca untuk melihat serta mendiskusikan kembali bagaimana sebenarnya arah perjuangan perempuan di Indonesia berdasarkan buku Sarinah. Banyaknya konsep terkait dengan perjuangan perempuan yang mengudara di Indonesia menurut saya Sarinah harusnya dapat menjadi produk nasional yang bisa dikembangkan jauh lebih dalam sebagai pondasi pergerakan perempuan khususnya di Indonesia. Tulisan ini hakikatnya sebagai bahan diskusi untuk suatu progress yang mungkin lebih besar dari sekedar tulisan belaka, tapi saya percaya bahwa sedikit persoalan yang dibahas akan menimbulkan beberapa persoalan lainnya yang dapat menumbuhkan api-api perjuangan serta melahirkan sebuah gagasan baru yang lebih revolusioner.

Pada akhirnya, kita patut berefleksi kembali arah perjuangan atau spirit serta cita-cita dari buku Sarinah yang Bung Karno gagas ini baik secara teoretis maupun secara praksis, agar melahirkan secara organik konsep bagaimana harusnya perjuangan pergerakan perempuan yang lahir sebagai produk nasional bangsa Indonesia. Semoga tulisan singkat ini dapat membuat kita semua untuk tetap terus berpengharapan serta merawat hal-hal baik.


Artikel lain: Che Guevara dari Perjalanan Seorang Dokter hingga Revolusioner Dunia

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas
Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?
Baru Gajian Dompet Langsung Tipis
Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah
Suharto dan Gelar Pahlawannya; Upaya Penundukan Kembali Gerakan Perempuan
Kekeliruan Anarkisme dalam Melihat Diktator Ploretariat sebagai Alat Perjuangan
Agama, Kuasa, dan Tubuh yang Dibungkam; Menelisik Kekerasan Seksual di Pesantren
Ketika Intoleransi menjadi Beban Tambahan bagi Perempuan
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:33 WIB

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Senin, 5 Januari 2026 - 15:53 WIB

Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?

Minggu, 4 Januari 2026 - 21:11 WIB

Baru Gajian Dompet Langsung Tipis

Selasa, 30 Desember 2025 - 19:35 WIB

Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah

Sabtu, 15 November 2025 - 12:16 WIB

Suharto dan Gelar Pahlawannya; Upaya Penundukan Kembali Gerakan Perempuan

Berita Terbaru

Balai Buku Progresif

Opini

Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik

Rabu, 14 Jan 2026 - 02:34 WIB

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB